Menggemakan Pembangunan Hijau di Kaltim Dari Desa dan Kampung | Villagerspost.com

Menggemakan Pembangunan Hijau di Kaltim Dari Desa dan Kampung

Sesi diskusi kelompok di acara Lingkar Belajar Masyarakat Provinsi Kaltim, menggagas pembangunan hijau dari desa dan kampung (dok. villagerspost.com/m. agung riyadi)

Tanjung Batu, Villagerspost.com – Wakil Bupati Berau H. Agus Tantomo mengatakan, pembangunan dan menjaga kelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Hal itu dikatakan Agus dalam sambutannya saat membuka acara Lingkar Belajar Masyarakat Provinsi Kalimantan Timur yang dilaksanakan di Tanjung Batu, Jumat (27/7).

“Selama ini ketika berbicara pembangunan hijau, green growth, seolah selalu ada kontradiksi, selalu ada perdebatan, seolah itu tidak mungkin dilakukan. Bagaimana mungkin di satu sisi menyejahterakan masyarakat di satu sisi dilarang merambah hutan,” papar Agus.

Namun, ternyata hal itu bisa dilakukan. Buktinya, kata Agus, adalah Kabupaten Berau sendiri yang sudah mampu menyejahterakan masyarakat tanpa harus merusak hutan. “Kita pelan-pelan di Kabupaten Berau menunjukkan, sangat mungkin meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat di sekitar hutan tanpa harus merambah hutan, dekat sini ada hutan mangrove, kita manfaatkan itu untuk memberikan kesejahteraan tanpa dirambah,” tegas Agus.

Selain itu, kata Agus, dalam konsep pembangunan hijau atau pertumbuhan hijau (green growth), ternyata bukan hanya perusahaan yang berkaitan langsung dengan pemanfaatan hutan saja yang bertanggung jawab untuk menjaga hutan. “Selama ini saya juga berpikir hanya perusahaan seperti perusahaan sawit, atau kayu, tetapi dari sebuah diskusi saya mendapatkan informasi perusahaan produsen mobil pun punya kewajiban menjaga hutan,” paparnya.

Produksi mobil, kata Agus, menghasilkan emisi karbon dan karena itu terkena aturan menjaga emisi karbon dan dalam setiap produksinya, produsen kendaraan bermotor punya kewajban menanam dan menjaga hutan. “Saya bilang, menarik itu,” tegasnya.

Dia mencontohkan, sebuah perusahaan otomotif asal Jepang ternyata bisa memberikan dana hingga puluhan miliar kepada masyarakat sebuah desa di Sumatera Selatan karena mereka berkomitmen menjaga 5000 hektare, lahan mangrove. “Coba ada berapa puluh ribu lahan mangrove yang ada Berau, kalau kita bekerjasama dengan perusahaan otomotif, dengan komitmen kita jaga, tetap kita lestarikan, berapa dana bisa kita dapat?” paparnya.

Hal ini, kata dia, menunjukkan pembangunan hijau memang sangat mungkin dilaksanakan dan tetap menyejahterakan masyarakat. “Karena mereka punya keajaiban itu, semakin banyak produksi mobil, semakin banyak kewajiban menjaga hutan, inilah hal yang bisa saya sharing kepada bapak-ibu, semoga dengan acara ini ide-ide itu tergali,” tegasnya.

Terkait acara LBM ini sendiri, Agus mengatakan, merupakan sebuah hal yang luar biasa. “Jika benar-benar dilaksanakan akan bermanfaat bagi peserta, kepala desa, kepala kampung, dimana bisa berbagi pengalaman, pengetahuan, juga ada tujuan lain seperti mengidentifikasi potensi di desam di kampung, ini merupakan proses belajar dengan berbagi informasi, learning by sharing,” kata Agus.

Tentunya, ujar dia, hasil dari Lingkar Belajar Masyarakat atau LBM ini, diharapkan tidak sekadar menghasilkan ide-ide pembangunan hijau, tetapi juga mampu diimplementasikan dengan baik. “Sejarah, dunia, masyarkat tidak mencatat ide-ide ibu-bapak, tetapi, akan mencatat apa yang diimplementasikan, apa yang dicapai oleh bapak-ibu,” pungkas Agus.

Lingkar Belajar Masyarakat Kaltim sendiri merupakan program yang diinisiasi oleh The Nature Conservancy (TNC) danĀ  didukung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kehutanan dan Inspirit. LBM kaliĀ ini merupakan yang kedua kali dilaksanakan, setelah pada tahun lalu untuk pertama kalinya dilaksanakan di Biduk-Biduk pada tanggal 21-23 Februari 2017. Acara LBM kali ini diikuti 121 peserta dari 99 desa di 12 kecamatan di Kalimantan Timur, khususnya Kabupaten Berau.

Lingkar Belajar Masyarakat adalah wadah bagi masyarakat untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam proses proses pembangunan, pemberdayaan dan pengelolaan sumberdaya alam di tingkat kampung/desa. Di tempat ini, dibangun juga jejaring kerja dalam mempromosikan pendekatan pembangunan hijau di tingkat masyarakat.

Saat ini Pemerintah Provinsi Kaltim sedang mendorong Kesepakatan Pembangunan Hijau (Green Growth Compact) yang bertujuan untuk mentransformasi pengelolaan sumber daya alam dan mendorong kerjasama yang diperlukan untuk mencapai kesejahteraan di provinsi Kalimantan Timur sebagai bagian upaya mengendalikan perubahan iklim. Acara Lingkar Belajar Masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan peran serta langsung masyarakat dalam upaya penanganan isu perubahan iklim yang merupakan komitmen Pemerintah Provinsi Kaltim.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *