Menjadi Laki-Laki Baru Bersama CIS Timor | Villagerspost.com | Page 2

Menjadi Laki-Laki Baru Bersama CIS Timor

Bani, salah satu relawan CIS Timor menceritakan pengalamannya menjadi laki-laki baru (dok. villagerspost.com/istimewa)

Bani Sabloit, salah satu relawan CIS Timor menceritakan pengalamannya menjadi laki-laki baru (dok. villagerspost.com/istimewa)

Berawal dari Lembaga yang Mengurusi Pengungsi

Dari sejarahnya, CIS Timor sebenarnya terbentuk sebagai lembaga relawan untuk mengurusi masalah pengungsian warga eks Timor Timur ke wilayah Timot Barat pasca jajak pendapat pemisahan Timor Timur dengan Indonesia pada tahun 1999. Willy berkisah, migrasi penduduk pro integrasi ke Timor Barat membuat lembaga pemuda kristen seperti GMKI dan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) pada tahun 1999 membentuk lembaga bernama Centre for Internally Displaced People’s Service (CIS) Timor.

“Jadi semacam lembaga posko bantuan yang awalnya kami mengurus pengungsi bersama pemerintah NTT, kami membantu dalam proses distribusi bantuan sosial dan juga membantu masyarakat pengungsi dilokalisasikan di tempat pengungsian,” kata Willy.

CIS Timor yang resmi berdiri pada tanggal 9 Desember 1999, kemudian mulai melakukan kegiatan pendampingan pengungsi atau melakukan advokasi terkait pemenuhan hak pengungsi sampai masalah repatriasi (pengembalian pengungsi yang ingin pulang ke Timor Leste). “Sampai 2015 kemarin kita masih melakukan repatriasi untuk 10 kepala keluarga yang mau kembali ke Timor Lester. Sampai hari ini, jika ada warga eks Timor Timur yang ingin kembali ke sana, pasti akan menghubungi kami,” lanjut Willy.

Dalam perjalanannya, pekerjaan mengurus pengungsi berangsur selesai pada antara tahun 2000-2002. Kemudian CIS Timor melebarkan sayap untuk bekerja di isu-isu lain. CIS, kata Willy, memiliki visi untuk menjadikan Timor (pulau Timor-red) sebagai Timor impian dan misiny adalah menjadi relawan yang inspiratif dan membawa perubahan. “Awalnya memang khusus untuk pulau Timor, tetapi pasca evaluasi tahunan tahun 2014, kami putuskan bukan hanya bekerja untuk pulau Timor tetapi NTT,” kata Willy.

Untuk itu, CIS Timor kemudian mengembangkan diri menjadi lima divisi untuk mewakili lima mimpi besar CIS. Selain divisi NTT Setara yang sudah diulas di awal, CIS Timor punya empat divisi lain yaitu Divisi NTT Sehat. Lewat divisi ini, CIS Timor ingin mewujudkan mimpi NTT menjadi wilayah yang yang sehat dan terbebas dari penyakit, masyarakatnya bisa mendapatkan akses air bersih. “Program kami bekerja di isu water and sanitation health, kemudian program STBN atau sanitasi total berbasis masyarakat,” terang Willy.

Berikutnya adalah Divisi NTT Sejahtera. “Kami bermimpi suatu hari seluruh masyarakat NTT sejahtera dalam artian tidak kurang pangan, dan akses terhadap berbagai hal. Karena itu kami punya program pemberdayaan pertanian, livelihood, dan peningkatan keterampilan masyarakat,” kata Willy.

Kemudian ada juga Divisi NTT Resilience yang programnya berkait dengan upaya pengurangan risiko bencana (PRB). Salah satu program yang dilaksanakan adalah bekerjasama dengan pemerintah daerah Timor Temgah Selatan (TTS) dan Plan untuk membangun sekolah aman. Lewat program ini, relawan CIS Timor melatih guru dan anak-anak sekolah menjadi kader PRB. “Jadi ketika ada bencana mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko bencana,” tegas Willy.

Berikutnya adalah Divisi NTT Damai. “Di sini kami fokus kerja bersama untuk menciptakan perdamaian, isu keberagaman bekerjasama dengan organisasi kepemudaan lain dan organisasi kepemudaan seperti Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT, Keuskupan Agung. “Kami menyasar anak-anak muda dan membentuk komunitas peace maker atau pembuat perdamaian. Kenapa anak muda? Karena potensi mereka ada dua, pelaku kekerasan atau pembuat damai, kita dorong mereka menjadi pencipta perdamaian,” terang Willy.

Di luar itum CIS juga fokus pada isu-isu perubahan iklim. “Kalau teman-teman tahu, dampa perubahan iklim di NTT, misalnya di Sabu Raijua, hujan bisa tidak turun selama setahun, sampai ada istilah kalau di Kupang matahari ada satu, di Sabu matahari ada tujuh, karena panas bukan main” ujar Willy setengah berkelakar.

Dampak perubahan iklim ini sangat besar, terlebih untuk pertanian. “Beberapa kali petani gagal panen karena kekurangan air, saat ini kami mengembangkan tanaman tahan kekeringan, dan kami mendorong petani untuk beradaptasi dengan perubahan iklim,” pungkas Willy. (*)

Baca Juga:

Pelembagaan Awig-Awig Pendewasaan Usia Perkawinan Model Desa Lebah Sempaga

Pertobatan Sang Pelaku “Merariq Codeq”

Gotong Royong Memecahkan Masalah Perkawinan Anak di Pulau Seribu Masjid

Mery Kolimon: Sang Penginjil Feminis, Pendobrak Budaya Patriarki Gereja

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *