Obrolin Pangan #11: Krisis Sarjana di Lahan Pertanian, Bagaimana Solusinya? | Villagerspost.com

Obrolin Pangan #11: Krisis Sarjana di Lahan Pertanian, Bagaimana Solusinya?

Petani muda menjadi masa depan pertanian Indonesia (dok. veco.org)

Bogor, Villagerspost.com – Pandemi Covid-19 tak hanya menghadirkan ancaman terhadap kesehatan manusia, tetapi juga ancaman lain berupa krisis pangan. Namun dibalik kondisi ini, seharusnya pandemi menyadarkan kita bahwa pangan tetaplah menjadi kebutuhan kunci bagi seluruh penduduk dunia. Dalam konteks ini, petani menjadi kunci utama pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.

“Kehadiran petani menjadi penanda kesehatan masyarakat akan terjaga. Hal ini mendorong petani – petani untuk hadir dan mengisi garda depan bersama tenaga medis dalam menghadapi Covid–19,” kata Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah, dalam acara diskusi Obrolin Pangan #11 bertajuk: ‘Petani: Profesi yang (tak) Dirindukan Sarjana Pertanian’ yang dilaksanakan secara daring, Jumat (29/5) malam.

Dalam acara yang diselenggarakan KRKP bersama Aliansi Organis Indonesia (AOI) itu, Ayip–sapaan akrab Said Abdullah– menyayangkan, kondisi pertanian di Indonesia justru masih sangat jauh dari ideal. “Pertanian lagi-lagi masih belum menjadi sektor yang digemari, digandrungi dan diutamakan setiap orang bahkan oleh sarjana pertanian,” tegasnya.

Krisis minat sarjana pertanian pada dunia pertanian ini, kata Ayip, celakanya, terjadi merata hampir di seluruh universitas di Indonesia. “Sarjana pertanian itu, terutama di Bogor (IPB-red), bidang apa pun bisa melakukan apa pun, kecuali satu bidang yaitu pertanian. Jokes ini menjadi relevan dengan judul diskusi kita,” ujarnya sedikit berjenaka.

Jika melihat data BPS tahun 2003, usia petani semakin menua. “Pemuda hanya 12,2% saja yang terjun di bidang pertanian,” paparnya. Jika melihat pada komoditasnya, kata Ayip, akan terlihat semakin “mengerikan”, karena pemuda yang berminat pada pertanian, juga tak banyak yang berminat menanam padi yang merupakan pangan pokok masyarakat Indonesia saat ini.

“Spesifik tanaman pangan padi angkanya mengerikan, hanya 9,5% pemuda yang berminat. Kelompok ini pun, merupakan kelompok yang kalah dalam artian kelompok yang tidak diterima dalam bidang lain,” jelasnya.

Lebih celakanya lagi, dari pemuda yang berminat terjun menanam padi, yang berpendidikan sarjana hanya 0,8%. “Padahal setiap tahun lulusan pertanian ribuan. Tapi ini adalah anomali juga. Data LPPM IPB mengungkapkan, sarjana pertanian yang langsung terjun ke pertanian sangat sedikit. Biasanya mereka muter dulu di sektor lain dan ketika mereka pede akan ke pertanian,” paparnya.

Kondisi serupa sebenarnya juga terjadi pada minat pemuda untuk terjun ke pertanian di bidang hortikultura. Survei KRKP tahun 2014 di Kediri, Tegal, Karawang dan Bogor, pada tanaman pangan dan hortikultura menunjukkan, keluarga tanaman pangan hanya 37% anak muda yang mau meneruskan usaha pertanian orangtuanya. Sedangkan hortikultura 46%.

Angka keluarga yang ingin anak mereka meneruskan usaha pertanian di bidang hortikultura tampak lebih tinggi dan hal ini wajar mengingat tanaman hortikultura lebih tinggi harganya sehingga petaninya pun penghasilannya bisa lebih tinggi. Namun disparitas angka peminatan juga tidak begitu jauh antara tanaman pangan dan hortikultura.

Survei tersebut juga mengungkapkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi peminatan kaum muda pada bidang pertanian. Pertama, faktor jenis kelamin dimana survei mengungkapkan laki-laki lebih berminat terjun ke pertanian dibandingkan perempuan. Kedua, tingkat pendidikan. Ironisnya, survei mengungkapkan, semakin tinggi pendidikan, semakin rendah minat pemuda terjun ke pertanian. Ketiga, adalah aktivitas utama. “Anak muda yang sudah terpapar pertanian akan tertarik untuk terjun,” jelas Ayip.

Keempat, adalah faktor luas kepemilikan lahan dan pendapatan. “Semakin tinggi luas lahan akan semakin tinggi juga kemauan anak muda kembali ke pertanian,” ungkapnya. Sayangnya dari sektor pendapatan, survei mengungkapkan, pendapatan sektor pertanian memang masih kalah jauh dari sektor lain. Disparitas sektor pertanian dan non pertanian pada tahun 2013 menunjukkan besarnya jurang tersebut. Pendapatan sektor pertanian per kapita/tahun hanya Rp46 juta, sedangkan sektor lain mencapai Rp140-an juta/per kapita/tahun.

Ayip mengungkapkan, untuk mendorong minat anak muda terjun ke pertanian, pemerintah perlu mengupayakan adanya peningkatan akses dan kepemilikan lahan, peningkatan sarana dan prasarana, kepastian penghasilan dengan kebijakan harga yang baik, peningkatan pengetahuan tentang dunia pertanian, dan pembenahan dunia pendidikan. “Seorang guru besar pernah mengungkapkan, dunia pendidikan pertanian terlalu akademis, kurang ke arah vokasi,” tegas Ayip.

“Bertani itu pada akhirnya bagian dari ikhtiar, untuk menyempurnakan hajat manusia. Bukan hanya masalah tanam-menanam, jadi kalau sekarang kita tidak merindukan pertanian maka kita tidak merindukan kehidupan yang lebih sempurna,” tambahnya.

Kondisi yang dipaparkan Ayip, diakui oleh anak-anak muda yang nekat terjun ke dunia pertanian dengan bekal pendidikan yang tinggi. Herdinda Arum Pradipta, seorang sarjana dengan latar belakang pendidikan teknologi pangan dari Universitas Pelita Harapan (UPH) mengaku, terjun ke usaha pertanian karena minat yang terbangun dari berinteraksi dengan usaha pertanian yang dilakukan orang tuanya.

“Kegiatan sekarang melanjutkan usaha yang telah dirintis orang tua. Saya di bagian pengolahan dan pemasaran produknya. Ibu adalah salah satu pelopor ketahanan pangan dan kami ingin meneruskan usaha ibu,” kata perempuan yang menggerakkan usaha pertanian lewat Griya Pangan Arum Ayu itu.

Ayu menegaskan, passion atau minat dan keinginan, menjadi kunci bagi dirinya dalam memutuskan untuk terjun ke pertanian. “Balik lagi ke diri kita masing-masing, berdasarkan ketertarikan dan passion dan kemampuan kita. Kalau bekerja sesuai passion, hasilnya akan lebih maksimal,” jelasnya.

Terjun ke dunia pertanian, bagi anak muda, menurut Arum juga tidak harus berarti bekerja di industri pangan skala besar, atau juga bukan berarti bisa membantu petani secara langsung. “Saya yang bekerja di hilir ini bisa berhubungan langsung dan bekerja bersama petani.

Goklas Manullang, petani organik asal Sumatera Utara mengakui, terjun ke pertanian, khususnya pertanian organik setelah sebelumnya bekerja sebagai fasilitator pendamping ibu rumah tangga untuk menanam tanaman pekarangan untuk pemenuhan gizi keluarga. “Saya melakukan penanaman, pembibitan, sampai pasca panen. Ada juga pelatihan pembuatan pestisida nabati yang kami sama-sama belajar dari petani. Saya membagikan juga sedikit ilmu saya kepada petani, dan saya juga belajar banyak dari petani,” ujar pemilik usaha pertanian Pamor Pemula Dairi ini.

Sementara itu, Uswatun Hasana, seorang sarjana dengan latar pendidikan pertanian, justru belum menjadikan usaha pertanian sebagai profesi utama. “Saya kegiatan sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan di Kudus. Sebelumya saya pernah bekerja di Jakarta selama 6 bulan sebelum kembali ke Kudus,” ujarnya.

Meski demikian, dia tetap menjalankan usaha sampingan di bidang pertanian yaitu dengan berkebun bersama komunitas Kreasi Sampah Ekonomi Kota (Kresek) di Kudus. Uswatun sendiri mengaku sebenarnya menyimpan hasrat untuk terjun ke dunia pertanian. “Keinginan saya, 100% terjun ke dunia pertanian. Tapi karena satu dan lain hal saya tidak bisa. Tapi dengan bekerja di tempat sekarang, saya bisa belajar banyak hal,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *