Obrolin Pangan #11: Tanaman Pangan, Sektor Yang Paling Tidak Dilirik Pemuda | Villagerspost.com

Obrolin Pangan #11: Tanaman Pangan, Sektor Yang Paling Tidak Dilirik Pemuda

Bertanam padi sangat kurang diminati kaum muda, termasuk sarjana pertanian (villagerspost.com/rahmat adinata)

Bogor, Villagerspost.com – Minat anak-anak muda, khususnya sarjana pertanian untuk terjun di bidang pertanian memang minim. Tetapi belakangan ini, mulai banyak anak-anak muda yang mau menekuni dunia kerap dikesankan lekat dengan kemiskinan dan usia tua itu. Sayangnya, kebanyakan anak muda ini memilih terjun ke bidang usaha pertanian hortikultura atau tanaman kebun seperti kopi. Bidang tanaman pangan, tampaknya masih kurang menarik bagi anak-anak muda.

Pius Mulyono dari Lembaga Lestari Mandiri (Lesman), Boyolali, mengatakan, masih adanya anak muda, berpendidikan sarjana pertanian yang terjun ke dunia pertanian memang menggembirakan. Tetapi, ujar Pius, harus diakui pula, minat anak-anak muda ini untuk terjun ke bidang komoditas padi masih kurang.

“Saya kurang melihat komoditas padi. Para pemuda khususnya sarjana pertanian tertarik ke tanaman yang cashflow, seperti yang disampaikan kang Ayip, memang di hortikultura, dan kalau mau ditarik lebih jauh, perkebunan seperti kopi, cokelat, memang lebih cepat uangnya,” ujarnya di acara diskusi Obrolin Pangan #11 bertajuk: ‘Petani: Profesi yang (tak) Dirindukan Sarjana Pertanian’ yang dilaksanakan secara daring, Jumat (29/5) malam.

Banyak contoh dimana sarjana pertanian yang terjun ke pertanian memang lebih memilih sektor hortikultura dan perkebunan. “Ada sarjana pertanian di Gorontalo, dulu bapaknya tanam padi, tetapi oleh anaknya disulap menjadi pertanian sayuran dan peternakan. Ketika saya tanya kenapa tidak padi, (dia bilang) padi terlalu berat untuk kami,” ungkap Pius.

Soal pilihan komoditas, menurut Zaenal Abdullah, petani yang menekuni komoditas kopi, hal itu memang tergantung pada luasan lahan yang dimiliki. “Saya petani, memang strateginya berbeda. Kita bicara lahan sempit, mengolah kopi. Kalau lahan luas kita cukup bertani. Untuk yang bertani itu perlu memikirkan bahan pokok agar nyaman bertani. Ketika bahan pangan pokok kita terpenuhi, kita akan enjoy melakukan apa saja,’ ujarnya.

Ogur Bahtiar, seorang petani yang terjun di bidang tanaman padi, juga mengharapkan lebih banyak pemuda berpendidikan tinggi di bidang pertanian, terjun ke bidang pertanian on farm. “Di lapangan sendiri, para pelaku on farm, kebanyakan memiliki latar belakang pendidikan SD. Kami petani, ingin mahasiswa terjun ke on farm-nya, agar pertanian ini bisa digarap oleh orang yang memiliki ilmu lebih,” tegasnya.

Petani lainnya, Bambang mengatakan, dukungan pemerintah seperti pelatihan dan kebijakan menjadi penting untuk menarik minat anak muda terjun ke pertanian. “Keturunan dari keluarga sudah bertani. Selama 26 tahun bertani dan sekarang melanjutkan pekerjaan orang tua. Tantangannya masih sama, masih tidak ada kemajuan dan masih mengikuti perkembangan orang tua. Tidak ada dukungan dari pemerintah untuk pelatihan dan lainnya. Bagaimana bisa untuk meningkatkan minat pemuda?” ujarnya.

Ayip mengakui, memang belum banyak anak muda, khususnya sarjana pertanian untuk terjun di sektor on farm. “Memang yang belum cukup kuat di sektor on farm. Tetapi, hal yang lain adalah tidak akan cukup jika bermain di on farm saja. Perlu ada yang bermain di sisi tengah ke hilir, andaikan saja semua sisi ini diisi oleh anak muda, sehingga inovasi dan pengembangan usaha bisa lebih baik,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Baca juga: Obrolin Pangan #11: Krisis Sarjana di Lahan Pertanian, Bagaimana Solusinya?

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *