Obrolin Pangan#11: Ketiga Anak Muda Ini Nekat Terjun ke Dunia Pertanian, Apa Motivasinya? | Villagerspost.com

Obrolin Pangan#11: Ketiga Anak Muda Ini Nekat Terjun ke Dunia Pertanian, Apa Motivasinya?

Benih sorgum, tanaman pangan lokal yang bisa dikembangkan menjadi aneka makanan berkelas (villagerspost.com/rahmat adinata)

Bogor, Villagerspost.com – Bagi anak-anak muda, ironisnya, termasuk juga bagi para sarjana pertanian, dunia pertanian memang masih belum menjadi dunia profesi yang menarik untuk ditekuni. Selain image yang masih kental dengan ‘kemiskinan’ dan juga ‘usia tua’, pertanian secara ekonomi memang belum menjanjikan kehidupan yang lebih sejahtera. Disparitas sektor pertanian dan non pertanian pada tahun 2013 menunjukkan, pendapatan sektor pertanian per kapita/tahun hanya Rp46 juta, sedangkan sektor lain mencapai Rp140-an juta/per kapita/tahun.

Meski demikian, tetap saja ada anak-anak muda, dengan latar pendidikan tinggi sebagai sarjana pertanian yang terjun menekuni dunia pertanian. Apa sih alasan dan motivasinya? Simak penuturan Herdinda Arum Pradipta, Uswatun Hasana dan Goklas Manullang, dalam diskusi online Obrolin Pangan #11 bertajuk: ‘Petani: Profesi yang (tak) Dirindukan Sarjana Pertanian’ yang dilaksanakan oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) bersama Aliansi Organis Indonesia (AOI), Jumat (29/5).

Herdinda Arum Pradipta, yang akrab disapa Arum, adalah seorang sarjana dengan latar belakang pendidikan teknologi pangan dari Universitas Pelita Harapan (UPH). Arum merupakan pemilik dari Griya Pangan Arum Ayu, yang secara konsisten memproduksi makanan sehat berbahan dasar tepung dan tanaman pangan lokal. Selain melakukan aktivitas produksi, Arum Ayu juga aktif mendampingi berbagai kelompok untuk menggiatkan keanekaragaman sumber pangan lokal sebagai komoditas unggulan.

Arum mengaku, usaha yang dilakukannya saat ini adalah melanjutkan usaha yang telah dirintis orang tuanya. “Saya di bagian pengolahan dan pemasaran produknya, Arum Ayu Local House,” ujarnya.

Dia mengaku, terinspirasi untuk menekuni usaha pertanian ini karena terinspirasi oleh sang ibu. “Ibu adalah salah satu pelopor ketahanan pangan dan kami ingin meneruskan usaha ibu. Kami tidak hanya toko kue tapi ikhtiar ini merupakan upaya untuk memberikan inovasi pangan olahan asli dari bahan nusantara yang akan berdampak pada lingkungan sekitar dan seluruh Indonesia,” paparnya.

Selain itu, selama belajar ilmu pertanian, Arum mengaku, dia juga banyak mengetahui di sekitar kita banyak tumbuhan yang bisa dimanfaatkan yang banyak orang belum tahu. Misalnya, tanaman-tanaman pangan lokal seperti umbi-umbian. “Masih ada persepsi bahwa yang makan pangan lokal adalah makanan orang tidak mampu,” katanya.

Karena itu, dengan terjun ke pertanian, Arum ingin mengubah persepsi pemuda tentang pangan lokal dan bahan lokal. “Misalnya singkong bisa didapatkan di pasar seharga Rp5 ribu-10 ribu. Kalau diolah lagi, kita bisa mendapatkan nilai lebih dari hasil penjualan sekaligus meningkatkan derajat singkong itu sendiri,” tambahnya.

Untuk itu, lewat Griya Pangan Arum Ayu, Arum juga rutin melakukan sosialisasi, khususnya kepada anak-anak, pemuda dan ibu-ibu PKK. Lewat sosialisasi itu, Arum berharap bisa mengubah persepsi masyarakat, khususnya pemuda, tentang pangan lokal. Salah satunya, mengolah pangan lokal menjadi bahan makanan alat Barat.

“Di wilayah saya sendiri, belum ada pemuda yang masuk ke pangan lokal. Saya ingin menekuni ini karena ada peluang. Saya ingin mengubah persepsi kalau bisa mengkonsumsi pangan impor atau tidak diproduksi di Indonesia ada pride tersendiri untuk anak muda. Padahal kalau kita mendalami pangan lokal, nilai gizinya lebih tinggi dari tepung terigu. Tepung terigu mengandung gluten yang tidak bisa dikonsumsi oleh penderita autoimun,” papar Arum.

Salah satu upaya menaikkan kelas pangan lokal yang dilakukan Arum misalnya, membuat tortilla dari bahan dasar singkong. “Bagaimana kita mengemas pangan lokal dengan taste anak muda saat ini. Bahan lokal saat ini bisa dimanfaatkan menjadi produk kekinian, tidak hanya pangan lokal, tetapi memanfaatkan kearifan lokal,” ujarnya.

Tentu saja, upaya ini selain menjadi peluang, juga menjadi tantangan tersendiri baginya. “Ini menjadi peluang dan tantangan bagi kami, bagaimana pangan lokal bisa dikonsumsi banyak orang, bisa mengikuti perkembangan zaman. Memang pride yang mengkonsumsi pangan impor itu adalah energi positif. Tetapi kenapa tidak mengalihkan energi positif itu pada pangan lokal bukan makanan impor itu?” tegasnya.

Dalam upaya menyebarluaskan pengalaman mengolah bahan pangan lokal ini Arum tidak hanya melakukan di Jawa Barat. Melalui Manggulu Project, chef muda ini bersama KRKP di Sumba Timur juga mengembangkan beberapa makanan dengan beranekarupa dan rasa dari bahan pangan local di NTT. Arum menggubah sorgum dan singkong menjadi kue-kue yang enak rasanya dan memiliki nilai tambah.

Di Waingapu, Sumba Timur, sorgum ditanam di halaman rumah mama-mama, tidak perlu beli. “Sorgum ini kami olah menjadi cake, namanya ‘Watarhamu (sorgum dalam bahasa Sumba-red) Cake’,” jelas Arum.

Selain itu, Arum juga membuktikan di masa pandemi ini, pertanian bisa menjadi sektor yang bisa tetap berdaya. Arum misalnya membuka marketplace dengan berkolaborasi dengan petani pangan lokal. “Teman teman yang tidak masuk di hulu maupun hilir, yuk bantu kita dengan mengkonsumsi pangan lokal. Bisa mulai dari mana saja, dari rumah saja. Selain mengkonsumsi pangan lokal, teman-teman bisa membantu petani pangan lokal,” pungkasnya.

Berbeda dengan Arum, Goklas Manullang mengaku menerjuni dunia pertanian setelah sebelumnya bekerja sebagai fasilitator pertanian di Yayasan Petrasa. Yayasan Petrasa adalah lembaga non-pemerintah yang bergerak dalam pengembangan ekonomi dan pertanian organik di Kabupaten Dairi. Petrasa mendampingi lebih dari 5.000 petani di 12 kecamatan di Dairi, Sumatera Utara.

“Tahun 2016 saya bekerja di Petrasa sebagai fasilitator pendamping ibu rumah tangga untuk menanam tanaman pekarangan untuk pemenuhan gizi keluarga,” ujar Goklas. Sesuai tugasnya selama di Petrasa, Goklas juga ikut mempraktikkan cara penanaman, pembibitan, sampai pasca panen. “Ada juga pelatihan pembuatan pestisida nabati yang kami sama-sama belajar dari petani. Saya membagikan juga sedikit ilmu saya kepada petani,” jelasnya.

Lama-kelamaan, Goklas merasa, dirinya harus pula ikut terjun ke dunia pertanian organik sebagai petani bukan lagi sekadar fasilitator. Dia mengaku tak mudah menekuni dunia pertanian organik.

“Di awal, produksi turun. Tidak seperti petani konvensional., kalau organik, kami menunggu tanaman itu tumbuh. Kalau yang konvensional tinggal beli (bibit) di toko tinggal di tabur. Kalau organik itu harus menyiapkan pestisida organik, menanam, sampai pasca panen, intinya perlu menunggu,” paparnya.

Belum lagi, setelah panen, ada tantangan lain lain yaitu, pasar produk pertanian organik belum ada. “Empat tahun lalu kami merintis untuk menciptakan pasar lokal untuk produk organik dari petani binaan secara langsung. Kami juga memiliki kios,” ujarnya.

Lewat kios Petrasa Pamor Dairi, Goklas belajar untuk membangun jaringan pasar bagi produk pertanian organik. Goklas mengaku, cukup sulit meyakinkan kalangan anak muda untuk terjun ke dunia pertanian. Hal itu dia alami selama menjadi pendamping di Petrasa.

“Pemuda dampingan kami mendukung tapi ada yang mau dan tidak mau (terjun). Yang tidak mau, umumnya merasa gengsi menjadi petani organik. Sementara yang mau terjun, memang sebelumnya sudah melakukan usaha pertanian dengan konsisten, misalnya ada yang sudah membuat alternatif pakan ayam dari sisa sayur untuk magot,” jelasnya.

“Selain itu juga ada pemuda kami Arwin yang sukses di kopi robusta dan sudah melakukan pembibitan sendiri di desa. Ada pula Jonson yang sudah bisa melakukan pembibitan sayur secara lokal,” tambahnya.

Dia juga merasa ada dukungan dari pemerintah lokal misalnya, dalam bentuk pelatihan pembuatan pestisida alami, penyerapan pasar secara besar. “Hal yang menyenangkan itu, saya bekerja di Petrasa, saya sudah menikmati, sudah senang. Saya sudah bertemu dengan petani dampingan. Banyak cerita dari mereka, tentang kehidupan mereka, pertanian organik mereka,” ujarnya.

Goklas mengaku bangga dengan pekerjaannya. “Saya bangga dengan pekerjaan saya, dan saya senangg dengan petani karena mereka adalah pejuang pangan kita,” tegasnya.

Saat ini Goklas juga merintis usaha sendiri yaitu membangun Pamor Pemula Dairi yang didampingi oleh AOI. “Untuk produk organik, sertifikat dikeluarkan sendiri, langkah dan persyaratan sesuai anjuran AOI. Dan ini gratis, kami tidak mengeluarkan biaya sama sekali karena dibawah AOI,” pungkasnya.

Sementara itu, Uswatun Hasana, meski belum menekuni secara penuh dunia pertanian, dia mengaku memiliki keinginan untuk suatu saat terjun ke dunia pertanian secara penuh. “Keinginan saya, ingin 100 persen terjun ke dunia pertanian. Tetapi karena satu dan lain hal saya tidak bisa. Tetapi dnegan bekerja di tempat sekarang, saya bisa belajar banyak hal,” ujarnya.

Uswatun, sehari-hari memang masih menekuni profesi utama sebagai pekerja di sebuah perusahaan di Kudus, Jawa Tengah. Namun di sela-sela kesibukannya, dia bergabung dan aktif di komunitas lingkungan di daerahnya.

“Namanya Kresek singkatan dari Kreasi Sampah Ekonomi Kota, Kudus. Komunitas ini bekerjasama dengan Rumah Gunadi dan Tugu Garden untuk menjalankan kebun edukasi,” papar Uswatun.

“Untuk saya sendiri, berkebun itu sangat menyenangakan. Berkebun sebagai self healing dari kegiatan sehari-hari. Kegiatan menanam sampai memasaknya dengan teman-teman itu sangat menyenangkan,” tambahnya.

Dan ini menjadi aktualisasi diri setelah dari kampus yang bisa bersentuhan langsung dengan tanaman. Uswatun sendiri memang seorang sarjana pertanian, karena itu, setelah kembali ke Kudus, dia memang sudah pancang tekad untuk tetap bisa menanam, meski sibuk bekerja.

Kegiatan bertanam itu dia lakukan bersama kelompok Tugu Garden. “Bersama Tugu Garden, kami memiliki sebuah cita-cita untuk bertani (makan), edukasi, dan berdaya bersama,” ujarnya.

Untuk generasi muda apalagi yang tinggal di perkotaan dan sudah asing dengan pertanian, Uswatun meyakinkan, usaha pertanian tetap menarik untuk dirintis dan dijalankan, meski sekadar sampingan, dan dijalankan dalam skala rumahan. “Beberapa waktu lalu, kami mendapatkan klien pertama yang kami buatkan taman pangan yang tetap memiliki nilai estetika, dan ini membuktikan bahwa kita tetap bisa berkebun meskipun di rumah,” jelasnya.

Dia menegaskan ada beberapa tantangan yang memang harus dihadapi untuk terjun ke dunia pertanian. Pertama, adalah tantangan dari luar atau faktor eksternal seperti tempat tinggal, dan tempat hidup. “Ini sangat berpengaruh sekali,” jelasnya. Lokasi tinggal dimana basic penghidupan masyarakatnya dari pertanian akan lebih mudah mempengaruhi minat anak muda ke pertanian.

Tantangan berikutnya adalah membangun jaringan, mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar, support keluarga, mencari pembiayaan (funding) dan market dan lainnya. “Saya bukan dari background keluarga petani, tetapi ini justru yang menjadi motivasi saya untuk lebih mengenal pertanian,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Baca juga:

Obrolin Pangan #11: Krisis Sarjana di Lahan Pertanian, Bagaimana Solusinya?

Obrolin Pangan #11: Tanaman Pangan, Sektor Yang Paling Tidak Dilirik Pemuda

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *