Platform Beras Berkelanjutan: Saatnya Mengutamakan Prinsip Keberlanjutan | Villagerspost.com

Platform Beras Berkelanjutan: Saatnya Mengutamakan Prinsip Keberlanjutan

Ilustrasi panen raya padi di Kabupaten Pati, Jawa Tengah (dok kabupaten pati)

Bogor, Villagerspost.com – Dewan Pakar Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) David Ardhian mengatakan, sektor petanian, khususnya pangan beras menjadi sektor yang sangat penting. “Sektor pangan beras menjadi penyangga ketika bangsa ini dilanda krisis termasuk krisis akibat pandemi,” ujarnya dalam dalam diskusi penyusunan kertas kebijakan bertajuk: ‘Kemitraan Multipihak Perberasan Nasional’ yang digelar secara daring oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) secara daring, Kamis (3/9).

Karenanya, menjadi penting untuk berupaya memperkuat dan memperkokoh sektor perberasan nasional secara terus menerus, salah satunya dengan mencari cara untuk memperkuat sistem pangan yang berkelanjutan. “Upaya memperkuat sektor pangan khususnya perberasan menjadi bagian yang tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri, memerlukan upaya kolaborasi bersama,” tegas David.

Kolaborasi ini tentu akan sulit terjadi apabila hanya terbatas pada aktor tertentu. Perlu melibatkan semua aktor dalam perberasan yaitu petani, pengepul, perusahaan processing, distributor, dan pengecer sebelum sampai ke konsumen. Selain itu, pemerintah menjadi aktor penting dalam kolaborasi ini karena selain sebagai jembatan antar aktor, pemerintah seharusnya juga berperan sebagai lead dalam kolaborasi ini.

Selama ini upaya memperkuat sektor perberasan sudah diupayakan oleh banyak pihak, terutama pemerintah. David memaparkan, selama ini fokusnya masih pada kebijakan, tata kelola, untuk meningkatkan produksinya. Ke depan, ujar David, penting juga diperkuat dalam konteks keberlanjutan produksi, isu keseimbangan produksi dan aspek daya dukung baik sosial dan lingkungan atau isu ekologi.

Hal ini tentu bisa terwujud apabila antar aktor memiliki pandangan dan tujuan yang sama dalam sektor perberasan, baik secara peraturan maupun praktiknya. “KRKP memandang keberlanjutan sektor perberasan sangat penting karena ini menjadi penentu hajat hidup orang banyak, terutama dihadapkan pada tantangan yang terjadi,” jelas David.

Tantangan saat ini tidak hanya ledakan jumah penduduk yang membuat produksi pangan perlu terus ditingkatkan, di sisi lain menghadapi tantangan iklim dimana berbagai bencana iklim, serangan hama penyakit, kekeringan justru membuat produksi pangan menurun. “Indonesia, sebagaimana negara lain menghadapi situasi dimana semakin lama daya dukung lingkungan semakin menurun karena berbagai konsekuensi logis dari upaya peningkatan produksi at all cost,” tegas David.

Namun juga pandemi Covid-19 yang membuat kebutuhan akan pangan sehat menjadi meningkat. “Dengan isu pandemi, artinya kebutuhan pangan tidak sekadar cukup, tetapi juga sehat. Kalau beras yang kita makan sehat betul, berkualitas baik, ini menjadi bagian penting bagi upaya memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat,” ujar David.

Saat ini beberapa inisiatif global telah menekankan pentingnya isu keberlanjutan. FAO mengedepankan agroekologi sebagai pendekatan untuk ketahanan pangan dan perubahan iklim. UNEP memiliki Sustainable Rice Platform, sebuah pendekatan multipihak untuk mempromosikan pengelolaan sumberdaya yang efisien, perdagangan berkelanjutan, produksi dan konsumsi serta rantai pasok sektor perberasan global.

Konferensi PBB untuk Sistem Pangan juga mendorong kesadaran, komitmen dan aksi untuk transformasi sistem pangan global yang tidak hanya untuk mengatasi kelaparan namun mengatasi risiko penyakit akibat diet dan menyembuhkan bumi.

David mengatakan, dalam memperkuat sektor perberasan agar menjadi sektor yang berkelanjutan ini perlu ada semacam platform bersama yang mampu menyediakan ruang dialog, kemitraan dan kolaborasi antar aktor perberasan di Indonesia. Platform bersama ini juga harus mampu membuka peluang perbaikan kebijakan dan tata kelola yang sesuai dengan tantangan terkini sebagai tahap menuju sistem pangan yang adil dan resilien di Indonesia.

Menurut David, banyak platform lain yang bisa dijadikan acuan untuk membangun platform beras berkelanjutan ini. “Di komoditas sawit ada RSPO, untuk komoditas kakao dan karet juga sudah dirintis,” ujarnya.

Menanggapi gagasan ini, dan melihat apa yang sudah dilakukan pemerintah, pakar perberasan Husein Sawit mengatakan, keberlanjutan memang menjadi isu yang masih belum diseriusi banyak pihak. “Sektor pertanian umumnya masih didominasi soal produksi, konsumsi dan diversifikasi, masih kurang dalam hal sustainability, itu kelemahannya selama ini,” ujar Husein.

Selain itu, berbagai inisiatif yang ada, termasuk program pemerintah, kata Husein, juga belum memberikan rincian atau detail target yang ingin dicapai. “Apa yang dirancang Bappenas misalnya, belum terlihat target yang clear, misalnya harus clear terkait petani untuk sejahtera melalui korporasi petani apakah sekadar meningkatkan produktivitas, kemudian menjual neras lebih baik? Itu belum jelas,” ujarnya.

Berbagai kebijakan dan inisiatif yang ada saat ini belum bisa mencapai kata sepakat untuk memikirkan sebuah rencana jangka panjang terkait isu lingkungan dan keberlanjutan. “Semua harus ke sana arahnya, kita selama ini dari lima tahun ke lima tahun sustainability tetap terbaikan,” tegas Husein.

Terkait platform beras berkelanjutan, Husein menyarankan agar ada lembaga yang menjadi leader atau memimpin berbagai pihak yang terlibat. “Harus ada lembaga yang kuat yang me-lead, yang mengkoordinasi seperti Bappenas, yang bukan departemen teknis, yang mampu merangkum, membawa sumber daya yang ada itu yang harus dipikirkan,” ujarnya.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *