Rembuk Petani Nusantara: Alihkan Subsidi Pertanian ke Subsidi Hasil Pertanian | Villagerspost.com

Rembuk Petani Nusantara: Alihkan Subsidi Pertanian ke Subsidi Hasil Pertanian

Sekretaris Anggota Dewan Pertimbangan Presiden IGK Manila memberikan paparannya di acara Rembuk Petani Nusantara (dok. villagerspost.com/said abdullah)

Sekretaris Anggota Dewan Pertimbangan Presiden IGK Manila memberikan paparannya di acara Rembuk Petani Nusantara (dok. villagerspost.com/said abdullah)

Bogor, ┬áVillagerspost.com – Para petani harus berani bersikap mendesak pemerintah mengalihkan berbagai dana subsidi pertanian dari subsidi yang bersifat tak langsung ke petani seperti subsidi benih dan pupuk ke subsidi yang bersifat langsung kepada petani yaitu subsidi harga hasil pertanian. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan) IGK Manila dalam paparannya di diskusi reflektif petani yang menjadi bagian dari acara “Rembuk Petani Nusantara”, di hari kedua, Rabu (20/1).

Dalam acara diskusi yang dihelat di Gedung Diklat Pusat Pelatihan Manajemen Dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) di Ciawi, Bogor, Jawa Barat itu, Manila menegaskan, petani akan sangat diuntungkan jika subsidi dialihkan ke subsidi harga. Dengan adanya subsidi, maka pemerintah membeli produk pertanian dengan harga yang layak di tingkat petani dan menjualnya dengan harga yang terjangkau di masyarakat.

“Dengan begitu petani lebih sejahtera, rakyat dapat harga murah, putra para petani bangga menjadi anak petani, dia bisa sekolah tinggi dan meneruskan usaha pertanian orang tuanya,” kata Manila di hadapan 200-an petani dari 112 kabupaten se-Indonesia yang hadir di acara tersebut.

Mengutip tema acara diskusi tersebut “Petani Sebagai Soko Guru Persatuan dan Kesatuan Bangsa”, Manila mengatakan, untuk mewujudkannya, maka satu-satunya jalan adalah petani harus sejahtera. Untuk bisa sejahtera, maka petani harus dimuliakan. Sayangnya, kondisi petani dan pertanian di Indonesia saat ini, kata Manila, masih memprihatinkan.

Manila mengatakan, dia bersama tim pernah melakukan studi kasus pertanian di beberapa wilayah di 4 provinsi di Indonesia diantaranya yaitu Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Klaten Jawa Tengah, dan Indramayu, Jawa Barat. Selain itu tim juga melakukan kunjungan kerja terkait pengairan ke Lampung.

Dari studi itu ada beberapa kesimpulan yang dihasilkan. Salah satunya, soal langkanya anak muda yang mau terjun ke usaha pertanian. “Rata-rata usia petani sudah di atas 50 tahun,” kata Manila.

Dia menemukan, anak muda tidak mau terjun menjadi petani karena dinilai tidak bisa memberikan kesejahteraan. “Image pertanian, sudah kerja susah, hasilnya di bawah UMR (upah minimum regional-red),” ujar Manila.

Alhasil pada tingkat yang ekstrem, banyak pemuda desa yang berpendidikan rendah lebih memilih pergi ke kota besar untuk bekerja apa saja. “Lebih baik ke kota, jadi preman, tidak sekolah, tetapi penghasilan lebih baik dari petani di desa,” kisah Manila.

Ini jelas menunjukkan bahwa profesi petani belum mulia atau belum dimuliakan. Padahal, kata dia, dalam sejarahnya, para pakar militer mulai dari zaman Sun Tzu, Napoleon, hingga Liddell Hart, sangat memandang tinggi peran petani dan pertanian.

Dia mengutip ucapan Napoleon soal peran penting petani: “Prajurit dilengkapi senjata terbaik, pelatihan terbaik, tidak akan bisa perang dengan perut kosong,” kata Manila.

“Siapa yang memberi makan prajurit? Yang bisa hasilkan pangan hanya para petani,” papar Manila soal pentingnya dan mulianya kedudukan para petani dalam sebuah negara.

Dalam konteks Indonesia, tahun 1945, kata Manila, para pejuang bisa bergerilya menghadapi pasukan Belanda yang kuat selama berbulan-bulan. Dibalik kegigihan para pejuang itu, ada petani yang membantu mereka memberi makan agar mereka bisa terus berjuang melakukan perlawanan bersenjata terhadap penjajah.

Karena itu, dia meminta, agar petani yang tergabung dalam Gerakan Petani Nusantara ini agar berani bersikap. Salah satunya mendorong agar subsidi pertanian dialihkan ke subsidi harga hasil pertanian. “Saya berjanji akan menyampaikan desakan petani ini melalui Dewan Pertimbangan Presiden agar disampaikan kepada Presiden,” kata Manila yang disambut tepuk tangan gegap gempita para petani.

Sebelumnya dalam sesi pembukaan, sempat diputarkan pesan melalui rekaman video dari ulama sekaligus budayawan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang intinya juga meminta petani agar berani menyatakan sikapnya. “Petani harus sadar akan dirinya sendiri, harus berani dan tegas bersikap. Petani harus mampu mengurus dirinya sendiri bersama dengan orang-orang yang peduli,” kata Gus Mus.

Selama ini, kata Gus Mus, petani lebih sering menjadi manusia penurut. “Manut, disuruh melakukan apapun dikerjakan, petani ikut apa maunya pemimpin, tetapi pemimpin tidak memedulikan petani,” katanya.

Sikap ini, pesan Gus Mus, sudah saatnya diubah. “Kalau petani mau bersatu, tegas, petani bisa menentukan siapa yang bisa menjadi presiden di negeri ini. Petani adalah komponen bangsa terbesar, siapapun yang tidak dipilih petani tidak akan mungkin jadi presiden,” tegas Gus Mus.

Karena itu, petani harus berani bertanya secara kritis kepada setiap orang yang berniat menjadi pemimpin baik di tingkat daerah maupun nasional. “Kamu mau jadi bupati, jadi presiden, apa isi kepalamu, tanyakan itu,” pesan Gus Mus. (*)

Facebook Comments
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *