Terus Terulang, Petani Panen, Harga Panen Anjlok | Villagerspost.com

Terus Terulang, Petani Panen, Harga Panen Anjlok

Petani cabai di Pati, jawa Tengah, tak berharap lagi dengan hasil panen mereka yang harganya justru jatuh di masa pandemi Covid-19 ini. (villagerspost.com/sudargo)

Bogor, Villagerspost.com – Kabar gembira panen raya, khususnya komoditas padi, dan komoditas lainnya seperti sayur mayur di tengah pandemi Covid-19 ini, ternyata tak dibarengi dengan situasi yang juga menggembirakan bagi petani. Di tengah klaim keberhasilan pemerintah menjaga stok pangan tetap aman, ternyata petani selaku produsen pangan terus menerus didera kondisi yang tidak menguntungkan.

Pasalnya, seperti yang terus terjadi pada setiap tahun dan musim, ketika panen raya berlangsung, justru harga panen malah anjlok. Berdasarkan Rapid Assessment Panen di Indonesia yang dilakukan oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), anjoknya harga panen petani di masa panen di tengah pandemi Covid-19 ini terjadi merata di wilayah sentra-sentra pertanian, khususnya di Jawa. Anjloknya harga panen, utamanya padi ini juga disertai anjloknya harga komoditas lain seperti cabai, timun, dan sebagainya.

Koordinator Nasional KRKP Said Abdullah mengatakan, dalam situasi seperti ini dimana harga panen turun, maka sebuah kewajiban bagi pemerintah dalam hal ini Bulog melakukan penyerapan gabah dengan HPP yang sudah ditetapkan. “Penyerapan hasil panen oleh Bulog akan membantu menstabilkan harga pembelian di petani,” ujarnya, saat dalam paparannya terkait hasil rapid assesment panen di Indonesia, yang diterima redaksi Villagerspost.com, Jumat (8/5).

Nyatanya, pemerintah tak juga mengambil langkah yang tegas memastikan agar petani tidak merugi. Alhasil para petani banyak yang merasa putus asa meski seharusnya masa panen menjadi masa yang membahagiakan. “Saat ini petani sudah tidak berharap terhadap panennya sendiri,” kata Sudargo, petani asal Desa Ronggo, Pati, Jawa Tengah.

Bagaimana tidak? Harga cabai saat ini di tingkat petani di Pati hanya dihargai Rp1.500 per kilogram. “Padahal untuk memanen cabai butuh ongkos melebihi harga cabainya sendiri,” tegas Sudargo. Ongkos untuk tenaga memanen (terdiri dari 3 orang) adalah Rp75.000 per setengah hari dan ditambah biaya pengganti sarapan dan makanan ringan (karena bulan puasa) sekitar Rp25.000. Sehingga dalam setengah hari ongkos panen mencapai sebesar Rp100 ribu.

Dalam setengah hari, 1 tim ini menghasilkan 70 kg cabai. Sehingga penghasilan petani adalah hasil panen cabai dikalikan harga per kg (70 kg x Rp1500) yaitu Rp105.000. Dikurangi biaya panen. Selisihnya hanya tinggal Rp5.000, itu pun belum menghitung biaya transportasinya. “Kondisi ini membuat petani pesimis,” tambah Sudargo.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Thamrin, petani dari Tegal. Ditambah, petani juga merasakan hal yang sulit dalam menghadapi Covid -19 ini. “Masa virus ini memang membuat kehidupan petani makin terpuruk, tidak hanya petani padi, petani hortikultura (sayur-sayuran) juga, setelah bersusah payah menanam dan memelihara tanaman, panen kami tidak dihargai dengan layak atau bahkan tidak laku,” ujarnya.

Thamrin juga mengungkapkan, saat ini dia sedang mempersiapkan anaknya yang akan naik kelas dan sebentar lagi hari lebaran. Sayangnya, hasil panen kali ini tidak bisa diandalkan, bahkan hanya untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan sekalipun. Apatah lagi untuk lebaran atau pendidikan anak.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *