Tied at Sea: Mengungkap Neraka Buruh Migran di Kapal Perikanan Korea (Bagian I) | Villagerspost.com

Tied at Sea: Mengungkap Neraka Buruh Migran di Kapal Perikanan Korea (Bagian I)

Aksi protes para aktivis hukum dan HAM Korea Selatan, bersama awak kapal ikan Oryong 501 yang tenggelam di laut Bering (dok. apil)

Jakarta, Villagerspost.com – Kasus kaburnya 32 orang awak kapal perikanan asal Indonesia dari kapal ikan Sajo Oyang 75 saat sedang bersandar di Selandia Baru tahun 2011 silam, ternyata telah membuka mata publik Korea Selatan, akan adanya sesuatu yang salah dalam industri perikanan mereka. Kasus itu mengungkap banyak hal. Pertama-tama tentunya, soal adanya eksploitasi, kekerasan, kerja paksa pada kapal-kapal perikanan yang dioperasikan perusahaan perikanan negeri ginseng itu, baik kapal yang beroperasi di dekat garis pantai, maupun yang berlayar jauh di laut lepas.

Kedua, kasus ini juga mengungkap adanya ketergantungan yang tinggi dari kapal-kapal ikan Korea Selatan, atas pekerja-pekerja migran, yang umumnya didatangkan dari Asia Tenggara seperti Vietnam, Filipina dan Indonesia. Semua itu diungkapkan oleh Advocates for Public Interest Law (APIL) dalam laporan investigasi mereka yang bertajuk: “Tied At Sea: Pelanggaran Hak Asasi Manusia terhadap Pekerja Migran di Kapal Perikanan Korea Selatan”, yang dirilis baru-baru ini.

Laporan yang dibuat berdasarkan investigasi yang dilakukan APIL bersama the International Organization for Migration (IOM) Republic of Korea, dari tahun 2014-2016 itu mengungkap berbagai pelanggaran HAM dan juga kekerasan yang dialami buruh migran yang bekerja di kapal perikanan Korea. Dan mata publik Korea memang benar-benar terbuka akan hal itu sejak meledakknya kasus kapal Sajo Oyang 75.

Dari kasus itu, publik Korea Selatan mengetahui, bahwa hampir 70 persen pekerja kapal perikanan Korea, khususnya kapal yang beroperasi di lautan lepas adalah para pekerja migran. Dari kasus itu pula mereka mengetahui, betapa buruknya nasib para pekerja migran tersebut.

Dari pemeriksaan atas kasus ini terungkap, ke-32 anak buah kapal (ABK) asal Indonesia di kapal itu, melarikan diri karena tidak tahan akibat terus menerus mengalami siksaan fisik dan mental dari para perwira kapal berkebangsaan Korea Selatan yang berjumlah 9 orang. Para ABK kerap dipukuli atau ditendang atau bentuk kekerasan fisik lainnya bahkan saat tidak melakukan kesalahan sekalipun.

“Para perwira kapal Korea sering memukuli kami, mereka melakukannya saat mereka kelelahan, mabuk, atau merasa terlalu banyak beban kerja, dan itu dilakukan bahkan ketika kami tidak melakukan kesalahan apapun,” demikian pengakuan salah satu awak yang tidak disebutkan namanya, seperti dikutip laporan tersebut.

“Kapten Kapal Korea, menampar wajah saya hanya karena saya lupa membungkuk (memberikan penghormatan-red) kepadanya. Saya ditampar di wajah, atau ditendang, jika kerja saya dianggap jelek, hal tersulit yang saya alami di atas kapal adalah ya, saat ditampar hanya karena lupa membungkuk,” ujar awak lainnya.

Para ABK kapal asal Indonesia itu juga kerap mengalami kekerasan verbal bentuk kekerasan lainnya. Selain itu, terungkap pula bahwa mereka harus menjalani jam kerja yang panjang dan menyiksa dan tak jarang hingga 24 jam penuh selama 3-4 hari berturut-turut. Sudah begitu, gaji mereka pun sangat rendah, yaitu hanya sebesar US$250-450 per bulannya.

Terungkapnya kasus ini kemudian membuat National Human Rights Commission of Korea–NHRCK (Komnas HAM-nya Korea Selatan), mengusulkan kepada The Republic Of Korea Ministry of Oceans and Fisheries (KKP-nya Korsel), untuk melakukan reformasi atas industri perikanan mereka. Sebelumnya, NHRCK juga merilis laporan terkait kondisi hak asasi manusia para pekerja migran di atas kapal perikanan Korea.

Toh, ternyata rekomendasi terkait perbaikan kondisi pekerja migran itu tak juga membawa perbaikan. Para pekerja migran di kapal perikanan Korea masih terus mengalami perlakuan sangat buruk dari para majikan mereka. Padahal, merekalah tulang punggung industri perikanan Korea Selatan.

Laporan FAO menyebutkan, sektor perikanan Korsel, menghasilkan hingga 1,77 juta ton ikan baik dari perikanan tangkap maupun budidaya di tahun 2014. Angka ini meningkat 200 ribu ton dari tahun 2013 yang menghasilkan sebanyak 1,58 juta ton. Nilai produk perikanan Korsel mencapai sekira US$4,4 miliar yang mendudukkan Korsel pada peringkat ke-13 negara penghasil ikan terbesar dunia. Sayangnya prestasi itu dibayangi potret buram nasib para pekerja perikanannya, yang kebanyakan adalah para buruh migran.

Kasus berikut yang juga menyedot perhatian publik Korea adalah kasus tenggelamnya kapal ikan Oryong 501 perairan laut Bering, Rusia, pada Desember tahun 2014. Kasus ini juga mengungkap banyak hal, mulai dari persoalan jam kerja, hingga masalah keselamatan awak kapal yang sangat minim.

Dari kesaksian salah seorang awak kapal asal Filipina yang bekerja di kapal itu diketahui, kapal Oryong 501 membawa 60 awak, dan hanya 7 orang yang selamat dari kecelakaan tersebut. Awak tersebut bercerita, tenggelamnya kapal Oryong terjadi akibat kapten kapal yang dinilainya “serakah” karena tetap memaksa mencari ikan dalam kondisi laut yang sedang mengganas.

“Kondisi cuaca saat itu sangat buruk, sebenarnya sangat membahayakan untuk mencari ikan, tetapi kapten memerintahkan kami untuk tetap berlayar dan bekerja seperti biasa,” ungkapnya.

Para awak kapal menangkap ikan dengan menggunakan jaring mekanik, namun karena kondisi cuaca yang buruk dan ombak tinggi, tidak memungkinkan mereka membuka ruang palka tempat penyimpanan ikan. “Bosun (mandor–atau boastwain dalam bahasa Inggris) sudah memerintahkan kami untuk tidak membuka palka penyimpanan ikan, tetapi kapten kapal berkeras agar kami membukanya dan memasukkan ikan yang telah kami tangkap,” ujar awak tersebut.

Akibatnya, air masuk ke dalam ruang penyimpanan ikan dan membuat kapal mulai miring ke satu sisi. Kapten kapal kemudian memerintahkan awak kapal untuk memompa air keluar dan memerintahkan untuk memindahkan berbagai barang ke sisi lain untuk menyeimbangkan kapal. Namun, lantaran air yang masuk lebih banyak, kapal tetap terisi air. “Kapten kapal panik dan akhirnya memerintahkan kami meninggalkan kapal, setelah empat setengah jam kapal mulai teraliri air, saat itu sebagian badan kapal sudah tenggelam dan tak lama kapal tersebut tenggelam dengan cepat,” ujarnya.

APIL mengungkap, kasus kapal Oryong membuka kotak pandora atas berbagai pelanggaran yang terjadi. Kasus ini mengungkap, bahwa banyak pekerja migran, khususnya dari Indonesia, tidak diberangkatkan secara legal. Mereka diberangkatkan oleh manning agency (agen yang merekrut awak kapal), yang tidak memiliki izin dari kementerian tenaga kerja. Kasus itu juga mengungkap, tidak adanya pelatihan, bahkan pelatihan keselamatan dasar (basic safety training) yang merupakan hal yang wajib bagi awak kapal. Selain itu, kasus ini juga mengungkap, alat keselamatan di atas kapal sangat tidak memadai.

Kedua kasus itulah, yang menurut Direktur APIL Jongchul Kim, menggerakkan lembaganya bersama IOM Korea Selatan untuk melakukan investigasi lebih lanjut yang menghasilkan laporan bertajuk “Tied At Sea” ini. Kasus, Oryong 501, kata Kim, mengungkap nasib yang banyak dihadapi para pekerja migran di atas kapal ikan.

“Ditipu oleh agen rekrutmen, diiming-imingi bayaran besar dan bonus, namun kenyataannya mereka malah dibebani oleh lingkaran setan utang, kebanyakan pekerja migran di atas kapal ikan memang terikat di laut. Tidak mudah bagi mereka untuk pergi, meskipun kondisi kerja di banyak kapal perikanan, termasuk kapal Korea sangat eksploitatif, penuh kekerasan dan diskriminasi,” ujarnya.

Kim menjelaskan, laporan ini dibagi atas tiga bagian, yaitu penelusuran literatur, wawancara lapangan dengan pekerja migran, dan diskusi kebijakan. “Kami mewawancarai kurang lebih 70 pekerja migran dengan pengalaman kerja di atas kapal ikan Korea Selatan. Wawancara juga dilakukan dengan 20 agen rekrutmen Korea dan agen rekrutmen dari negara asal masing-masing pekerja,” ujarnya. (bersambung)

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *