Harga Kopra Kembali Turun Pasca Kunjungan Jokowi, Petani Kopra Asahan Curiga Ada Kartel | Villagerspost.com

Harga Kopra Kembali Turun Pasca Kunjungan Jokowi, Petani Kopra Asahan Curiga Ada Kartel

Para petani kopra Asahan yang tergabung dalam Aspek, melaksanakan pertemuan mengantisipasi harga kopra yang kembali turun (villagerspost.com/ahmad rafi tan)

Asahan, Villagerspost.com – Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Kabupaten Asahan dan menemui para petani Kopra yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa-Kopra (Aspek) Asahan-Tanjungbalai, sempat membawa harapan bagi petani. Saat kedatangan Jokowi, pada Sabtu 6 April itu, harga kelapa dan kopra petani sempat naik hingga ke angka Rp4200 per kilogram dari harga sebelumnya Rp2.500 per kilogram.

Dalam pertemuan dengan para petani itu, Jokowi memang berjanji pemerintah tidak akan memicingkan mata terhadap masalah melemahnya harga kopra, khususnya di Asahan. “Pemerintah akan mengawal terjaganya stabilitas harga kopra di tingkat petani,” janji Jokowi di hadapan petani ketika itu.

Sayangnya, kenaikan harga kopra di tingkat petani itu hanya berlangsung kurang dari tiga hari saja. Sepulangnya Jokowi dari Asahan, pada tanggal 9 April 2019, petani kembali mendapatkan kabar buruk, tentang turunnya kembali harga kopra. “Kami cek ke lapangan harga kopra sudah turun Rp300 rupiah per kilo,” kata Ketua Dewan Pembina Aspek Asahan-Tanjungbalai Abdul Gafur Ritonga, kepada Villagerspost.com, Senin (15/4).

“Kami mengutuk permainan para mafia kopra, khususnya kilang-kilang kelapa, yang berani mempermainkan harga kopra dan nasib petani,” tambah Gafur.

Dia mengungkapkan, ada beberapa kilang yang menurunkan harga kopra di antaranya kilang Sumatera Baru, Tunas Harapan, Harvad Cocopro, Sejahtera, dan Sejati. “Beberapa kilang ini menurunkan harga kelapa tanpa ada alasan dan penjelasan kepada masyarakat sehingga masyarakat harus menerima konsekuensi terkait anjloknya harga kelapa,” jelas Gafur yang juga Caleg DPRD Provinsi Sumut dari Partai Golkar nomor urut 8 ini.

Dalam kesempatan itu, DPP Aspek juga melantik anggota Dewan Pengusu Desa Aspek di Desa Sei Kepayang Tengah (villagerspost.com/ahmad rafi tan)

Dia menegaskan, ada yang salah dari turunnya kembali harga kopra tersebut, menurutnya seharusnya harga kopra saat ini berada di atas Rp5000 per kilogram. Pasalnya, melihat fluktuasi harga dolar AS, saat ini justru harga dolar sedang menguat, sehingga seharusnya, harga kopra bisa lebih menguntungkan para petani kopra. “Karena kopra ini kan komoditas ekspor, ini di ekspor produknya ke luar negeri,” ujarnya.

Gafur kembali meminta pemerintah, khususnya pusat, segera turun tangan terkait anjloknya harga kopra ini. “Apabila ini tidak ditangani secara serius bukan tidak mungkin masyarakat akan marah, dikarenakan ini sudah sering terjadi yang dialami masyarakat petani Asahan pada umumnya. Jika masyarakat marah kemnungkinan akan terjadi konflik yang tidak kita inginkan bersama,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa AGR ini menyarankan, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan segera bertindak melakukan pengecekan ke lapangan, untuk mengecek apakah terjadi monopoli harga atau terjadi kartel kopra yang dilakukan kilang-kilang pengolahan kelapa tersebut. Jika itu terjadi, dia menegaskan, pihaknya akan meminta langsung ke Kementerian Perindustrian agar mencabut izin-izin kilang tersebut.

“Jika terjadi betul ada kongkalikong di antara kilang-kilang yang ada, saya akan laporkan dan hendaknya izin kilangnya dicabut,” tegasnya.

Pada Jumat 12 April 2019 lalu, masyarakat petani baik yang tergabung dengan Aspek maupun belum, sudah melakukan rapat bersama untuk mengambil langkah-langkah mengantisipasi terjadinya permainan harga kopra oleh pihak kilang. Ketua DPP Aspek H. Ahmad Safi’i Lubis mengatakan, langkah kilang mempermainkan harga adalah langkah keliru. “Saya kira ini kebijakan yang keliru kalau harga itu turun lagi, semestinya harus secara bertahap meningkat, bukan malah menurun,” katanya.

Warga siap beraksi menuntut kilang-kilang kopra ditutup dan dicabut izinnya jika terbukti membentuk kartel yang mempermainkan harga (villagerspost.com/ahmad rafi tan)

Karena itu, kata dia, Aspek juga akan meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk segera mengambil langkah-langkah stategis. “Jangan ditunda-tunda lagi, KPPU harus tegas dalam hal ini jika memang terjadi kesalahan pada kilang-kilang itu, cepat diproses dan jika terbukti terjadi kartel sudah selayaknya kilang-kilang nakal tersebut mendapat hukuman dan diproses secara hukum, sehingga tidak ada lagi pengusaha yang berpikir jahat terhadap masyarakat,” katanya.

Masyarakat, kata Syafi’i sudah berada pada puncak kesabarannya terus dirugikan dan dipermainkan terkait harga kopra ini. “Perlu dipahami, saat ini dengan berdirinya Aspek di tengah-tengah masyarakat tidak ada kepentingan lain selain umat, yakni meningkatkan hasil produksi dan harga komuditas kelapa,” katanya.

“Kami juga berterimakasih, AGR sebagai anak muda yang lahir dan besar di Asahan in, mau membantu dan membina kami. Lewat beliau kami bisa berhubungan dengan Pak Jokowi terkait masalah ini, sekarang pun mau membantu kami menguhubungi lagi Jakarta, untuk menuntaskan masalah ini,” ujar Syafii.

Dalam rapat pada hari Jumat itu juga ada ebih dari 50 orang petani mendeklarasikan diri bergabung dengan Aspek dan siap berjuang bersama anggota lainnya sebagai bagian dari petani Aspek Sei Kepayang Tengah sebagai Dewan Pengurus Desa. Ditunjuk sebagai ketua Dewan Pengurus Desa Sei Kepayang adalah Ahmad. Turut ikut melantik pengurus DPD Sei Kepayang Tengah, Sekjen DPP Aspek dan Dewan Pembina, didampingi pengurus DPP Aspek Jeki Fahmi, Jiad Ali dan Aminuddin.

Ahmad sendiri mengaku, dia bersama puluhan pengurus DPD Sei Kepayang Tengah siap mengawal jika terjadi hal yang tidak diinginkan dalam langkah perjuangan petani memperbaiki harga kopra. “Kami siap mengawal jika ada hal yang tidak kita inginkan, apabila harga kopra ini terus dipermainkan oleh cukong-cukong, tengkulak nakal, dan menyatakan siap turun ke jalan apabila ini, sudah menjadi perintah atau komando dari organisasi DPP Aspek,” tegasnya.

“Kami selaku pengurus DPD Aspek yang sudah dilantik sudah jelas. Kami dan seluruh anggota sudah menjadi bagian dari DPP Aspek, jika ada perintah mengenai organisasi ini saya dan teman-temen pengurus DPD tidak tinggal diam,” pungkas Ahmad.

Laporan/Foto: Ahmad Rafi Tan, anggota Pelajar Mahasiswa Tanjungbalai-Asahan (PEMTA), Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *