3.000 Hektare Sawah Bogor Gagal Panen

Sawah di wilayah Jawa Barat mengalami kekeringan dan terancam gagal panen (infopublik.id)
Sawah di wilayah Jawa Barat mengalami kekeringan dan terancam gagal panen (infopublik.id)

Cibinong, Villagerspost.com – Bupati Bogor Nurhayanti mengakui musim kering tahun ini telah mengakibatkan 3.000 hektare sawah mengalami puso alias gagal panen, dari 7.000 hektare luas lahan yang terancam terkena puso. Padi yang mengalami gagal panen itu terbanyak terjadi di wilayah timur Kabupaten Bogor, yang selama ini menjadi lumbung padi daerah ini.

“Tahun ini musim kering terparah karena telah membuat padi gagal panen atau puso dengan luas kurang lebih 3.000 hektare, dari 7.000 hektare yang terancam mengalami puso,” tutur Nurhayanti, usai acara halal bi halal bersama seluruh jajaran Pemkab Bogor dan Muspida Kabupaten Bogor, di Gedung Tegar Beriman, Cibinong, Selasa (28/7).

Guna mengatasi hal itu, Bupati Bogor telah memerintahkan kepada Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Siti Nurianty untuk merancang langkah antisipatif dengan melakukan dua musim tanam, membangun lebih banyak embung air, dan merealisasikan Bendung Cijuray di Kecamatan Cariu.

“Saya sudah perintahkan Kepala Distanhut untuk melakukan langkah antisipasi agar bencana kekeringan ini tidak meluas dan berkepanjangan. Diantaranya dengan membuat lebih banyak embung air sebagai daerah cadangan air dan merealisasikan Bendungan Cijuray di Kecamatan Cariu. Termasuk merancang asuransi pertanian,” ujar Nurhayanti.

Langkah antisipasi yang bersifat jangka panjang, menengah dan pendek penting dilakukan karena lahan sawah di Kabupaten Bogor didominasi lahan tadah hujan. Dengan kondisi itu, maka petani melakukan dua musim tanam, musim hujan dan kering.

“Secara jangka pendek, kami mengupayakan bantuan pompa air kepada petani. Tapi karena kekeringan juga dialami warga di permukiman penduduk, pompa air itu lebih banyak dipakai untuk MCK, ketimbang untuk mengairi sawah mereka,” imbuh Nurhayanti.

Oleh karena itu, Pemkab Bogor akan menambah jumlah bantuan pompa air baik yang bersumber dari APBD kabupaten, APBD provinsi dan APBN. Dengan begitu pompa air tidak hanya bermanfaat bagi petani tetapi juga wilayah permukiman penduduk yang rentan mengalami kekeringan.

Wilayah timur Kabupaten Bogor seperti Kecamatan Cariu, Tanjungsari, Sukamakmur dan Jonggol  memang rentan mengalami kekeringan karena kontur daerah perbukitan namun sedikit sumber daya air. Kekeringan juga rentan dialami daerah barat Kabupaten Bogor seperti Kecamatan Sukajaya, Jasinga, Nanggung, Parungpanjang, Rumpin, Tenjo, Ciampea dan Dramaga.

Kendati demikian, Nurhayanti mengaku bencana kekeringan ini tidak berdampak signifikan terhadap ketersediaan pangan penduduk 5,3 juta jiwa ini. Selama ini ketersediaan pangan daerah ini tidak bergantung pada padi di daerah lumbung padi mereka, melainkan dipasok dari Cianjur, Sukabumi dan sebagian Bogor di wilayah Selatan, seperti Kecamatan Cisarua, Cigombong, Ciawi, Megamendung, Cipayung, Cijeruk, dan Caringin.

“Pangan masih aman karena sebelumnya stok pangan kita bukan hanya dari Bogor,” tuturnya menjelaskan.

Swasembada Pangan Terancam Gagal

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Siti Nurianty menjelaskan bencana kekeringan memang tidak bisa dihindari dengan kerugian mencapai 4 ton gabah kering per hektare.

“Kami berharap ada hujan, jika tidak maka sebulan ke depan, gagal panen akan terjadi meluas. Kami khawatir target swasembada beras di Kabupaten Bogor ini tidak akan tercapai, meskipun kami akan upayakan penanaman saat musim hujan untuk mengejar target,” ujarnya.

Nurianty menjelaskan, langkah awal di musim kering yang diperkirakan berkepanjangan ini, pihaknya akan menyediakan bibit di awal musim tanam paruh kedua. Itu diikuti dengan memberikan sarana produksi pertanian (Saprodi) yang akan mulai dibagikan di awal musim hujan.

“Saat ini kami masih melakukan pendataan yang akan jadi bahan pengajuan anggaran perubahan di tahun ini. Termasuk membuat embung air di anggaran perubahan,” jelasnya.

Langkah antisipasi lain adalah dengan membuat lahan sawah berukuran kecil sekitar 100 hektar dengan anggaran Rp300 juta sampai Rp400 juta per 100 hektare. Selain itu, Nurianty juga terus menggenjot perbaikan infrastruktur irigasi dengan 30 paket Jides dari APBD kabupaten dan 50 paket Jides dari APBN. (Herry Setiawan)

Facebook Comments
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *