300 Ribu Petisi Anti Asap untuk Sawit IOI Group

Aktivis Greenpeace membawa petisi desakan penyelamatan hutan hujan kepada IOI, di kantor pusat IOI di Malaysia (dok. greenpeace)
Aktivis Greenpeace membawa petisi desakan penyelamatan hutan hujan kepada IOI, di kantor pusat IOI di Malaysia (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Greenpeace telah menyerahkan petisi global terhadap IOI Group di Malaysia. Petisi itu ditandatangani 300 ribu orang, termasuk hampir tiga ribu diantaranya dari Indonesia yang meminta perusahaan kelapa sawit tersebut mengakhiri kontribusinya terhadap bencana kabut asap di kawasan ini.

IOI diminta untuk membatalkan kontrak dengan perusahaan-perusahaan pemasok yang membuka hutan untuk perkebunan. IOI juga didesak untuk melakukan perlindungan secara penuh atas kawasan gambut. IOI diperkirakan menjadi pedagang terbesar ketiga kelapa sawit di dunia.

Pada Rabu pagi (5/10), relawan Greenpeace dan anggota masyarakat sipil Malaysia berkunjung ke kantor utama IOI di Putrajaya dan menyerahkan petisi tersebut. Dengan membawa karton bertuliskan “Kebakaran bermula di sini”, mereka menyoroti IOI Group yang tersandung kasus lingkungan yang serius, pelanggaran hak-hak asasi manusia termasuk penghancuran hutan hujan Indonesia, kebakaran hutan dan mempekerjakan anak-anak.

Sayangnya, pada saat para relawan mendekat pintu gerbang gedung IOI, stafnya mengunci pintu dan menolak menerima petisi. “Dalam beberapa pekan terakhir, publik menyoroti IOI dan mempermalukannya karena mengambil keuntungan dari asap kebakaran hutan Indonesia. Perusahaan ini harusnya tidak mengabaikan suara konsumen dan warga yang peduli, termasuk warga negara Malaysia, Singapura dan Indonesia, yang ingin melihat berakhirnya asap mematikan dari kebakaran hutan,” kata Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara Ratri Kusumohartono.

Dia menegaskan: “Semakin menolak berubah, semakin keras suara meminta IOI berkomitmen melindungi hutan hujan di Indonesia dan Malaysia.”

Aksi pengiriman petisi di Malaysia ini adalah bagian dari eskalasi kampanye global Greenpeace untuk menyoroti malpraktik IOI. Diawali peluncuran laporan “Kejahatan Perdagangan IOI, Biaya Kemanusiaan dan Lingkungan Rantai Pasok IOI” pada Selasa (27/9) pekan lalu di Jakarta. Laporam tersebut mendokumentasikan kelapa sawit yang didagangkan IOI terkait dengan kehancuran hutan, kebakaran gambut dan pekerja anak.

Pada hari yang sama, aktivis Greenpeace termasuk dua warga korban asap dari Kalimantan Barat, Indonesia memblokade fasilitas kilang IOI di Pelabuhan Rotterdam untuk menghalangi keluar masuknya minyak sawit perusahaan tersebut. Lalu pada tanggal 3 Oktober, Greenpeace Amerika menerbangkan balon udara dengan pesan “IOI, Lindungi Hutan Hujan Kami” di kawasan teluk San Francisco, satu di antara lokasi masuknya minyak sawit IOI ke Amerika Utara.

IOI kemudian mengeluarkan tanggapan terhadap laporan Greenpeace dengan pernyataan publik yang mengakui bahwa mereka bisa memainkan peran penting untuk mengubah industri sawit ke arah lebih baik. Tetapi juga meminta pelaku industri lainnya bekerjasama untuk menemukan solusi jangka panjang sektor perkebunan yang berkelanjutan.

Greenpeace mengatakan: “Bukannya bertindak tegas dengan menunda perdagangan dengan seluruh pemasok yang disebut dalam laporan, IOI malah ingin berdiskusi dengan para mitranya tersebut, tanpa kejelasan tentang apa yang dapat dicapai dalam diskusi-diskusi tersebut“.

Menanggapi hal tersebut, Greenpeace menggambarkan sikap IOI sebagai tindakan lempar batu sembunyi tangan. “Jika IOI Group serius ingin menjadi pemimpin dalam industri sawit, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengambil tindakan kongkret untuk melindungi hutan, gambut, menyelesaikan konflik dan juga menghargai hak-hak masyarakat lokal,” kata Ratri.

Ikuti informasi terkait masalah sawit >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *