60 Tahun Jalan di Papua Tak Juga Diaspal, 110 Ribu Orang Tandatangani Petisi #AspalkanDemta | Villagerspost.com

60 Tahun Jalan di Papua Tak Juga Diaspal, 110 Ribu Orang Tandatangani Petisi #AspalkanDemta

Kondisi jalan di distrik Demta, Papua yang rusak parah (dok change.org)

Jakarta, Villagerspost.com – Sudah 60 puluh tahun, satu-satunya jalan yang menghubungkan Distrik Demta ke Kampung Worembaim, sepanjang 35 kilometer tidak juga diaspal. Warga Demta mengaku perlu melalui kampung tersebut untuk menuju ke Kota Sentani, Jayapura, Papua.

Piet Hariyanto Soyan, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Distrik Demta sekaligus penggagas petisi change.org/AspalkanDemta, mengaku membuat petisi ini karena sudah menghadapi jalan buntu dalam menuntut hak mereka. Menurutnya, pemerintah tidak juga menanggapi permintaan mereka dengan serius.

“Ini adalah masalah yang sejak dahulu dihadapi masyarakat Demta namun belum juga diperhatikan pemerintah. Padahal kami memiliki banyak potensi,” kata Piet, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (28/5).

Selama bertahun-tahun, warga Demta hidup dari menjual ikan dan hasil berkebun, khususnya mangga jenis Quini. Namun warga mengaku mengalami kesulitan saat membawa dagangannya ke kota karena akses jalan yang buruk sehingga menyebabkan kerugian materil.

Piet menjelaskan, biasanya masyarakat membawa sekitar 500 buah ke kota, namun karena harus melalui jalan yang berlubang dan tak beraspal, banyak mangga hancur di tengah perjalanan. Sesampainya di kota, sisa mangga yang masih layak jual hanya sekitar 300 buah.

Ikan-ikan yang akan dijual warga pun banyak yang busuk dan harus dibuang karena jalanan yang buruk memakan waktu yang panjang. “Tak hanya itu. Ironisnya sudah banyak masyarakat yang meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit terdekat lagi-lagi karena kondisi jalan yang sangat parah,” tambah Piet.

Piet dan beberapa warga Demta sudah berkali-kali menemui Bupati Jayapura. Namun menurut penjelasan Bupati, jalan tersebut adalah milik provinsi sehingga masalah ini menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi Papua.

Menanggapi hal tersebut, Piet dan masyarakat Demta bersama-sama mendatangi Kantor Gubernur Papua untuk melakukan demonstrasi menuntut perbaikan jalan. Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Papua, Titus Emanuel Adopehan Hery Dosinaen, menemui warga dan menjelaskan bahwa masyarakat diharuskan mengirimkan surat permintaan perbaikan jalan ke Bupati terlebih dahulu.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, menyerahkan surat ke Bupati. Bupati mengusulkan secara resmi ke Gubernur dengan melampirkan surat dari masyarakat,” jelas Titus di tengah demonstrasi warga.

Piet mengaku, sejak Januari 2019, mereka sudah mengirimkan surat yang diminta, namun hingga sekarang belum ada jawaban dari kedua belah pihak. “Itu kenapa saya membuat petisi ini,” kata Piet.

Hingga Senin (27/5) petisi yang menggunakan tagar #AspalkanDemta tersebut sudah ditandatangani oleh lebih dari 110 ribu orang. Dukungan untuk petisi ini tak hanya datang dari warga Demta saja, namun juga dari masyarakat seluruh Indonesia. “Karena kesejahteraan harus dinikmati seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali,” tulis salah seorang penandatangan Dwi Kurniadi.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *