6000 Ton Beras Busuk di Gudang Bulog OKU Timur Dalam Proses Lelang

Ilustrasi Stok beras di Gudang Bulog (dok. jabarprov.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Temuan beras busuk sebanyak 6.000 ton oleh Tim Sergap Mabes TNI di di gudang penyimpanan milik Bulog Sub Divre Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, mengejutkan banyak pihak. Komandan Kodim 0403 Ogan Komering Ulu (OKU), Letkol Arm Agung Widodo mengatakan, 6.000 ton beras itu sudah tidak layak konsumsi.

“Saat pemeriksaan di gudang bulog pada Rabu (23/1) tim sergap mendapati ada ribuan ton beras rusak, bahkan sudah berbau busuk,” kata Agung Widodo, Kamis (24/1) lalu.

Menurutnya Ribuan ton beras busuk yang tersimpan di gudang Bulog itu kata dia, merupakan beras tahun 2015 yang tinggal menunggu proses lelang. “Tidak ada masalah dengan beras tersebut, lagian juga masalah beras busuk ini sudah ada tersangkanya dan sudah dipenjara,” kata Dandim.

Kepala Bulog Sub Divre OKU Deni Laksana Putra membenarkan adanya 6.000 ton beras busuk tertimbun di gudang bulog di wilayah Kabupaten OKU Timur yang saat ini masih dalam proses lelang. “Namun proses lelang tersebut masih tersandung dengan aturan. Sebab, kami ingin proses lelang nanti pesertanya dari luar daerah karena beras hanya bisa untuk dijadikan pakan ternak saja,” kata Deni.

Menurut dia, jika peserta lelang tersebut berasal dari wilayah setempat kemungkinan besar beras yang tidak layak itu akan dioplos dan kembali masuk ke dalam gudang bulog.

Sementara itu dari wilayah Banyumas, harga beras diperkirakan belum akan mengalami kenaikan, meski saat ini di beberapa daerah terjadi gagal panen akibat banjir. Kepala Bulog Sub Divre IV Banyumas Sony Supriyadi mengatakan, harga beras akan tetap bertahan di tingkat harga yang sekarang, mengingat pasokan di pasar masih tetap stabil.

”Saya kira, hingga panen mendatang harga beras di pasaran masih tetap bertahan di tingkat harga yang sekarang. Tidak akan melonjak lebih tinggi lagi,” ujarnya, Jumat (25/1).

Sony menyebutkan, harga beras akan tetap stabil di tingkat harga cukup tinggi, karena berbagai faktor. Hal itu antara lain, karena ketersediaan beras pemerintah masih cukup besar. Meski pun cadangan beras yang disimpan petani dari hasil panen pertengahan tahun lalu, sudah semakin menipis. ”Kita juga rutin men-droping beras ke berbagai outlet di pasar-pasar tradisional dan RPK (Rumah Pangan Kita), untuk menjaga stabilitas harga beras,” katanya.

Khusus untuk Bulan Januari ini, Bulog Banyumas menyiapkan beras sebanyak 2.000 ton untuk pengendalian harga beras melalui kegiatan droping pasar. Dalam program tersebut, kara Sony, Bulog menjual berasnya pada para pedagang sembako di pasar-pasar dengan harga di bawah harga pasar. Kemudian pedagang menjual lagi beras tersebut, dengan batas harga yang ditentukan Bulog.

”Kami menjual beras premium pada para pedagang pasar seharga Rp8.500 hingga Rp9.000 per kg. Dengan tingkat harga pembelian tersebut, pedagang hanya boleh menjual lagi dengan harga paling tinggi Rp9.800 per kg. Tidak boleh lebih dari itu,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *