Aksi Bersih Pantai dan Laut di Labuan Bajo, KKP Kumpulkan 1 Ton Sampah Plastik

Kegiatan bersih pantai dan laut di Labuan Bajo bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan, berhasil kumpulkan 1 ton sampah plastik (dok. kkp)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan kembali menggelar aksi bersih pantai dan laut yang kali ini dilaksanakan di Pantai Pede, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Rabu (3/10). Dari aksi tersebut, pihak KKP bersama masyarakat setempat berhasil mengumpulkan sekitar 1 ton sampah plastik. Sampah-sampah tersebut selanjutnya akan dikirim ke tempat pengolahan sampah di Manggarai Barat.

“Sampah plastik telah menjadi ancaman yang serius. Tidak hanya sampah yang berasal dari daratan Labuan Bajo, tapi juga sampah dari pelayaran laut dan yang terbawa arus serta dari pulau-pulau kecil sekitar Komodo,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Moh. Abduh Nurdihajat.

Aksi bersih pantai dan laut itu sendiri merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dalam menyambut Our Ocean Conference (OOC) 2018. Dalam kesempatan itu, Abduh mengatakan, jika sampah plastik ini tidak dikendalikan atau dikelola dengan baik, maka terjadi proses pelapukan menjadi mikro dan nano plastik yang akan merusak ekosistem pesisir dan dimakan oleh plankton serta ikan.

“Produktivitas perikanan dapat menurun dan implikasi dari mikroplastik bisa masuk ke jejaring makanan yang akhirnya dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia,” ujarnya.

Mengingat pencemaran laut sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia, maka diperlukan upaya bersama seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan ditingkat pusat dan daerah untuk melakukan pengendaliannya. “Upaya bersama menyelamatkan potensi pesisir dan laut dari ancaman pencemaran terutama sampah laut harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan,” terang Abduh.

Abduh menjelaskan, saat ini ada konsep 5R yang sedang dikembangkan terkait pengelolaan sampah. Pertama adalah Re-Think atau perubahan mindset masyarakat bahwa laut bukan “keranjang sampah”, sehingga perlu penyadaran masyarakat dan edukasi. Kedua, Refuse, gerakan hentikan penggunaan plastik sekali-pakai (single-use plastic), berupa penolakan penggunaan tas plastik kresek, sedotan, streofoam, dan jenis-jenis plastik sekali-pakai lainnya.

Ketiga, Reduce, mengurangi jumlah penggunaan plastik. Keempat, Reuse dengan menggunakan plastik beberapa kali pakai. Kelima, Recycle, merubah plastik yang masuk ke laut (ocean bound plastic) ini menjadi produk-produk yang bernilai ekonomis.

Terkait hal ini, kata Abduh, pemerintah tidak bisa melakukan sendiri, sehingga perlu bekerjasama dengan LSM, dunia usaha, dan keterlibatan lembaga pendanaan dalam upaya pelestarian lingkungan pesisir dan laut kita. “Upaya untuk gerakan bersih pantai tidak boleh berhenti sampai di gerakan bersih pantai ini, harus tetap dilakukan secara berkelanjutan, sehingga dapat mengubah mindset masyarakat bahwa laut bukan ‘keranjang sampah’,” papar Abduh.

Kegiatan Gerakan Bersih Pantai dan Laut (GBPL) merupakan program KKP yang telah diselenggarakan sejak tahun 2002 dan terus berlangsung di tiap tahunnya, dan saat ini menjadi bagian dari National Plan of Action pengendalian sampah plastik yang masuk ke laut, yang telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Upaya serupa sebelumnya juga telah dilakukan pada 19 Agustus lalu melalui kegiatan bersih pantai dan laut di 91 titik lokasi di seluruh Indonesia, dari Sabang hingga Merauke ikut dalam kegiatan bertajuk “Menghadap Laut” ini.

Kegiatan yang diinisiasi KKP dengan berbagai organisasi civil-society dan Pemda tersebut melibatkan kurang lebih 50.000 peserta, dan berhasil mengumpulkan sekitar 360 ton sampah laut dan pesisir. Kala itu Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berpesan agar masyarakat dapat menghadap laut untuk menunjukkan rasa peduli terhadap kesehatan laut Indonesia.

“Kita menghadap laut (danau, sungai, dan perairan lainnya) untuk menunjukkan cinta dan kesediaan kita untuk menjaga dan merawat wilayah perairan kita yaitu dengan mengambil, memungut, dan mengamankan sampah-sampah yang ada di depan kita, terutama sampah plastik dan sampah-sampah yang tidak bisa di-recycle oleh alam,” terang Susi.

Selain GBPL yang dilaksanakan pada tanggal 3 Oktober 2018 di Pantai Pede Labuan Bajo – Kabupaten Manggarai Barat, KKP juga menyerahkan bantuan perahu pengangkut sampah untuk Pemda Manggarai Barat yang diserahkan kepada Kelompok Masyarakat Laskar Peduli Kebersihan Kota Labuan Bajo (LPK2L).

Diharapkan sampah-sampah yang terangkut dapat dikirimkan ke Koperasi Serba Usaha (KSU) Komodo, yang juga merupakan Kelompok yang telah menerima bantuan alat pencacah plastik dari KKP tahun 2017 yang lalu, dan telah dilatih untuk memilah dan mengelola sampah plastik, sehingga terjadi sinergi dalam pengelolaan sampah dari laut.

Dalam kesempatan tersebut KKP juga memberikan bantuan Dermaga Apung di Desa Batu Tiga, Pulau Boleng, Manggarai Barat, agar perahu nelayan kecil dapat sandar meski pasang surut terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa KKP mendukung pembangunan infratrusktur bagi masyarakat Manggarai Barat, untuk menambatkan kapal dan perahu mereka.

Kegiatan bersih pantai dan laut tersebut merupakan pre event dari rangkaian acara Our Ocean Conference yang digelar di Bali pada 29-30 Oktober mendatang. OOC akan dihadiri sekitar 1.500 peserta yang terdiri dari Kepala Negara, Menteri, Pimpinan NGOs, Foundation, Swasta, Akademisi, dan World Influencer yang berasal dari 143 negara. Tujuan dari penyelenggaraan konferensi ini adalah untuk mencapai komitmen global dalam menjaga kelestarian laut dengan menggunakan enam fokus areas of action yang terdiri dari Marine Pollution, Marine Protected Areas, Climate Change, Sustainable Fisheries, Maritime Security, dan Blue Economy.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *