Aksi Buang Sayur Karena Harga Anjlok, Petani Kerinci Akhirnya Minta Maaf | Villagerspost.com

Aksi Buang Sayur Karena Harga Anjlok, Petani Kerinci Akhirnya Minta Maaf

Potongan adegan aksi petani Kerinci membuang sayuran kol dan kentang hasil panen mereka karena harga jatuh (dok. youtube.com)

Jakarta, Villagerspost.com – Belum lama viral video membuang buah naga di Banyuwangi akibat jatuhnya harga, kini kembali viral aksi para petani membuang sayuran di jalan akibat harga yang juga jatuh sangat tajam. Dalam video berdurasi sekitar 1 menit 24 detik itu, tampak beberapa petani membuang karung sayuran berupa kentang dan kol. Tak hanya membuang dan menendang karung hingga isinya berceceran di jalan raya, mereka juga tampak menendangi dan menginjak-injak sayuran itu sebagai ungkapan kekesalan.

Belakangan diketahui, mereka adalah petani di Kayu Aro, Kabupaten Kerinci. Aksi itu direkan pada Sabti (26/1) lalu, sebagai bentuk kekecewaan dan protes mereka atas anjloknya harga sayuran hingga di bawah harga normal.

Para petani mengeluh karena harga kentang hasil panen mereka hanya dihargai Rp3000 per kilogramnya dari harga normal antara Rp6000 hingga Rp8000 per kilogram. Untuk harga cabai, hasil panen petani dihargai hanya sebesar Rp5000 jauh di atas harga pasar yang bisa mencapai Rp30 ribu per kilogram. Harga jual hasil panen tersebut sama sekali tidak bisa menutupi modal bertanam, sehingga petani merasa putus asa dan akhirnya melakukan aksi buang sayur ke jalan tadi.

Belakangan, para petani yang melakukan aksi meminta maaf atas aksi tersebut. Aksi tersebut diakui bukan oleh petani tetapi para pedagang dan pengojek sayuran.

Para pengojek sayur dan pedagang di Kayu Aro Kerinci kini meminta maaf atas aksi buang sayuran berupa kentang, kubis, kol dan lainnya ke jalanan. “Dengan ini kami mohon maaf kepada petani dan pihak pihak di bidang pertanian,” kata Pori Andana mewakili pengojek dan penjual sayuran.

Permintaan maaf itu disampaikan di hadapan Kepala Desa Sangir Arif Fandani, Senin (28/1). Dalam kesempatan itu mereka mengaku, sayuran dan kentang yang dibuang adalah sayuran reject alias tidak laik jual dan tidak laku di pasaran. “Kami salah dan khilaf, ini tidak mendidik, kami tidak akan mengulangi lagi perbuatan seperti ini,” ujar para pelaku.

Menanggapi aksi buang sayuran ini, Dirjen Hortikultura, Kementerian Pertanian Suwandi mengungkapkan, Tim Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementan telah bergerak cepat menyelesaikan masalah di lapangan.

Kementan pun selalu mendorong agar para petani dalam kelompoktani intensif menerapkan 10 jurus berusaha tani sehingga pasokan dan harga stabil. “Pertama, agar menggunakan benih unggul sehingga produktivitasnya naik,” tuturnya.

Kedua, petani agar mengikuti anjuran pola tanam antar waktu dan antar lokasi sehingga pasokan stabil setiap bulannya. Ketiga, pupuk organik dibuat sendiri dari bahan sekitar. Keempat, pestisida dibuat sendiri yang ramah lingkungan sehingga efisien biayanya dan produk berkualitas. Kelima, pasca panen yang baik.

Selanjutnya, keenam, hilirisasi dengan industri olahan skala rumahtangga. Ketujuh, kemitraan dengan pelaku usaha dan eksportir. Kedelapan, membangun tata niaga yang efisien dengan membentuk koperasi. Kesembilan, membangun pasar lelang di farmgate.

Kesepuluh, mendorong produk berkualitas supermarket dan ekspor. “Dengan 10 jurus itu diharapkan produksi dan produktivitas naik, harga bagus dan kesejahteraan petani meningkat,” jelas Suwandi.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *