Aktivitas Manusia dan Perubahan Iklim Ancaman Kelestarian TN Bunaken

Focus group discussion (FGD) membahas tindak lanjut penelitian yang dilakukan COREMAP-CTI, LIPI dan Universitas Sam Ratulangi, di ruang sidang Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi Manado, Selasa (24/7). (dok. villagerspost.com/eko handoyo)

Manado, Villagerspost.com – Ilmuwan kelautan Dr. Jhosias N.W Schadow mengatakan, kegiatan antropogenik (aktivitas manusia) dan climate change (perbahan iklim) adalah ancaman terbesar kelestarian fungsi Taman Nasional Bunaken. Hal itu diungkapkan Jhosias pada forum focus group discussion (FGD) membahas tindak lanjut penelitian yang dilakukan COREMAP-CTI, LIPI dan Universitas Sam Ratulangi, di ruang sidang Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi Manado, Selasa (24/7).

“Saat ini telah terindikasi adanya penurunan kualitas lingkungan perairan dan ekosistem pesisir, terdapat tiga dimensi utama yang menjadi fokus penelitian kami yakni ekologi, sosial dan ekonomi serta kelembagaan,” ujar ilmuwan yang akrab disapa Niko itu.

Penelitian bertajuk: “Efektivitas Kawasan Konservasi Pulau Kecil Taman Nasional Bunaken Menuju Pengelolaan Yang Lestari, Terpadu, Dan Berkelanjutan Berbasis Status Lingkungan Perairan Dan Kesehatan Ekosistem Pesisir” itu sendiri, dilakukan untuk mengetahui efektivitas kawasan konservasi pulau kecil TN Bunaken melalui status kondisi perairan dan kesehatan ekosistem pesisir pulau-pulau kecil yakni terumbu karang, lamun, dan mangrove.

Adapun sasarannya adalah menciptakan strategi pengelolaan ekosistem pesisir pulau-pulau kecil yang dapat mengurangi degradasi ekosistem pesisir, terjaganya keseimbangan alam, dan pemanfaatan yang bersifat lestari dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan terpadu dibidang kelautan dan perikanan. Hal ini diharapkan akan mampu meningkatkan kapasitas lingkungan pesisir dan kapasitas masyarakat yang tinggal dipulau kecil, yakni kawasan Taman Nasional Bunaken.

Niko yang merupakan ketua tim peneliti menyampaikan, TN Bunaken adalah kawasan konservasi laut pertama di Sulawesi Utara, terlahir sejak tahun 1990 yang terkenal dengan biodiversitas terumbu karang dan ikan yang tinggi. Taman Nasional Bunaken juga merupakan ikon pariwisata di Provinsi Sulawesi Utara.

“Pulau-pulau kecil dalam kawasan ini, memiliki nilai strategis seperti Pulau Mantehage, pulau terdepan dan pulau terluas ekosistem mangrove. Juga ada Pulau Bunaken dan Siladen sebagai pulau tujuan wisata. Kemudian Pulau Nain sebagai sentra rumput laut, serta Pulau Manado Tua eks pulau Vulkanik dengan potensi wisata yang besar,” ujarnya.

Niko menegaskan, kajian efektifitas kawasan konservasi pulau kecil berbasis kondisi kesehatan ekosistem pesisir ini penting untuk dapat meminimalkan degradasi ekosistem. Total ada sejumlah 20 stasiun pengamatan terumbu karang, lamun dan kualitas air serta 12 stasiun pengamatan mangrove pada 11 di pulau-pulau kawasan Taman Nasional Bunaken sebagai sampel di lapangan.

Dia memaparkan, hasil Analisis Drive-Pressure-State-Impact Response (DPISR) menunjukan, dorongan pada kebutuhan rumah tangga, peningkatan populasi penduduk dan wisatawan menekan pada peningkatan kerentanan, pencemaran dan degradasi ekosistem (karang, lamun dan mangrove). Hal ini menyebabkan penurunan persentase tutupan karang mangrove dan lamun serta polusi.

“Implikasinya adalah menurunnya daya lenting, daya dukung dan fungsi ekologis, untuk itu diperlukan kajian dan monitoring sumber daya tersebut secara kontinyu, paska peneltian dan pengambilan data lapangan, kami mengumpulkan pihak-pihak yang kami identifikasi sebagai penerima manfaat untuk dapat terlibat dalam FGD,” tambah Niko.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai TN Bunaken Dr. Farianna Prabandari mengatakan, hasil-hasil penelitian yang seperti disampaikan oleh tim, memberikan arti penting dalam pengambilan kebijakan pengelolaan Taman Nasional Bunaken. “Kami memahami peran penting universitas sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Oleh karenanya output hasil penelitian memberikan gambaran pengambilan kebijakan pengelolaan,” ujar Farianna.

Kegiatan FGD ini dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi, Prof. Dr. Ir. Grevo S. Gerung, M.Sc. Acara tersebut juga dihadiri oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Daerah Sulawesi Utara, Dinas Pariwisata Daerah Sulawesi Utara, LSM Yapeka, LSM Pelang dan mahasiswa dan tim penelitian.

Laporan/Foto: Eko Wahyu Handoyo, S.Hut, PEH Pada Balai Taman Nasional Bunaken, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *