Anggaran Dipangkas, Kementan Tetap Fokus Garap Gedor Horti

Praktik bertanam sayur organik (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Pertanian menggarap program Gerakan Mendorong Produksi Hortikultura Berdaya Saing dan Ramah Lingkungan (GEDOR HORTI). Program itu salah satunya diwujudkan lewat pengembangan Food Estate dan 1000 Kampung Hortikultura.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan, pada 2021 subsektor hortikultura harus lebih baik dari tahun sebelumnya, khususnya cabai dan bawang. “Selain itu juga komoditas lain yang mampu meningkatkan neraca ekspor-impor,” ujanya, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (1/2).

Syahrul menambahkan, pengembangan hortikultura harus ditempuh dengan terobosan khusus atau dengan cara-cara extraodinary dan inovatif. “Pendekatannya juga harus holistik, terintegrasi hulu hingga hilir,” jelasnya.

Meski anggaran Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura tahun ini dipangkas, namun program Gedor Horti tetap digalakkan, dengan melakukan refokusing dan mengubah alokasi anggarannya.

Dengan demikian, konsentrasi pada pengembangan hortikultura berskala luas, tidak terabaikan. Program 1000 Kampung Hortikultura misalnya, merupakan salah satu upaya Kementan mengonsolidasikan lahan-lahan dalam satu kawasan kesatuan administratif, yaitu kampung atau desa.

Syahrul berharap, program 1000 Kampung Hortikultura ini dapat terkelola dengan baik sehingga memiliki skala ekonomi yang besar. Kampung-kampung hortikultura ini akan dibangun dalam 1 (satu) wilayah administratif desa dengan luasan 5-10 Ha bergantung pada komoditas yang dikembangkan pada kampung tersebut.

Untuk 1 kampung buah dan sayur, luasan lahan yang diperlukan minimal adalah 10 Ha. Sementara itu, untuk 1 kampung tanaman obat diperlukan lahan minimal seluas 5 Ha.

Kampung Hortikultura mengusung konsep One Village One Variety (OVOV). Komoditas unggulan yang akan dikembangkan, dipilih berdasarkan kesesuaian agroekosistemnya dan permintaan pasar untuk menjamin pemasaran hasilnya.

Pengembangan 1000 Kampung Hortikultura direncanakan terdiri dari 56 kampung pisang, 47 kampung mangga, 61 kampung manggis, 167 kampung durian, dan 75 kampung kelengkeng. Kemudian 72 kampung alpukat, 45 kampung jeruk, 2 kampung buah naga, serta 200 kampung bawang merah.

Selanjutnya ada juga 200 kampung cabai besar, 15 kampung sayuran daun, 50 kampung tanaman obat, 68 kampung bawang putih, 30 kampung cabai rawit, 25 kampung kentang, dan 4 kampung bawang bombay.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan, pengembangan kampung hortikultura ini akan disosialisasikan di Kostratani dan ditampilkan di Agriculture War Room Kementan. “Kita umumkan bahwa di desa ini terdapat kampung buah atau sayuran tertentu. Kalau kita mau memajukan hortikultura, maka kita harus mulai menggunakan konsep ini,” ujarnya.

Konsep ini, kata Prihasto harus menyeluruh hingga menyentuh titik-titik kampung. Tidak hanya dalam bentuk hamparan tetapi juga pada skala rumah tangga, dengan tetap memperhatikan kebutuhan lahan minimal 5 Ha untuk kampung tanaman obat dan 10 Ha untuk kampung sayur dan buah. Mengenai CPCL, Prihasto turut menjelaskan bahwa usulan CPCL akan dikoordinasikan dengan otoritas pertanian setempat.

“Kita tetap kembangkan melalui CPCL yang sesuai usulan dari dinas pertanian setempat, baik dalam bentuk hamparan ataupun petani yang tidak memiliki lahan yang luas,” tegasnya.

Misalnya petani yang hanya punya 100 m2-200 m2 namun berada dalam satu kampung, akan diintegrasikan, sehingga jika dan dikonsolidasikan menjadi berskala luas minimal 5 ha untuk sayuran dan 10 ha untuk buah. “Yang terpenting tujuannya adalah peningkatan kesejahteraan petani. Pemberian bantuan akan dilaksanakan hingga ke desa agar manfaatnya dapat langsung dirasakan petani,” jelas Prihasto.

Kawasan pada kampung-kampung ini akan difasilitasi bantuan secara terintegrasi mulai dari aspek hulu hingga hilir, antara lain berupa benih bermutu, saprodi (Pupuk Organik, Anorganik, Kapur Pertanian/Dolomit, Mulsa Plastik, dan lain-lain), pengendali OPT ramah lingkungan, sarana dan prasarana pascapanen, serta pengolahan. Selanjutnya, produk yang dihasilkan akan diregistrasi dan disertifikasi untuk memudahkan dalam monitoring serta pengontrolan kualitas.

Pengawalan dan pendampingan secara intensif juga akan dilakukan dari hulu hingga hilir. Diharapkan pengembangan hortikultura melalui pendekatan kampung ini dapat lebih memudahkan masuknya dukungan fasilitasi lainnya seperti akses permodalan melalui pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR), mekanisasi, pengairan, kelembagaan, pemasaran sehingga ke depan dapat mendukung pembentukan Korporasi Petani.

“Tujuan terbentuknya kampung hortikultura bukan hanya kawasan hortikultura berskala besar namun berujung pada kesejahteraan petani,” pungkas Prihasto.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.