AOI Sambut Positif Kerja Sama Pengembangan Ekspor Produk Organik

Perwakilan AOI, Bina Swadaya dan Kementerian perdagangan, saat penandatanganan kerja sama ketiga lembaga (dok. aoi)

Jakarta, Villagerspost.com – Aliansi Organis Indonesia (AOI) menyambut baik kerja sama yang dilakukan bersama Yayasan Bina Swadaya dan Kementerian Perdagangan untuk mengembangkan ekspor produk organik. Kerja sama ketiga lembaga tersebut, telah ditandatangani pada 30 April lalu.

Presiden Aliansi Organis Indonesia, Emilia Setyowati mengatakan, kerja sama ini merupakan bagian dari visi dan misi AOI untuk mewujudkan petani yang sejahtera dan berdaulat. Melalui kerja sama ini, petani dapat terberdayakan untuk meningkatkan kualitas, produktivitas, dan daya saing produk organik mereka dengan tetap berpegang pada prinsip keadilan dan keberlanjutan.

“Kami bersepakat, dengan kerja sama tiga pihak ini, pembangunan nasional untuk meningkatkan kesejahteraan, terutama kesejahteraan petani dapat terwujud dengan tak ada satu pun yang tertinggal sehingga kita dapat mencapai tujuan SDG’s, No One Left Behind,” ujar Emilia, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (4/5).

Kerja sama tiga pihak ini meliputi pembinaan dan pengembangan UKM ekspor di bidang produk organik. Antara lain melalui kegiatan promosi perdagangan, pertukaran informasi, pengembangan produk dan desain, pendidikan dan pelatihan ekspor, serta penguatan jejaring dengan pemangku kepentingan di dalam dan luar negeri.

“Kerja sama ini akan berjalan selama dua tahun dengan harapan dapat memberi manfaat nyata bagi petani dan gerakan pertanian organik di Indonesia,” jelas Emilia.

AOI sendiri merupakan lembaga swadaya masyarakat berbentuk perkumpulan yang berdiri pada tahun 2002. Saat ini anggota AOI berjumlah 122 anggota yang terdiri dari kelompok tani, Lembaga Swadaya Masyarakat, Perusahaan, Organisasi, Akademisi, dan Pegiat Organis Individu.

AOI telah banyak bergerak dalam pengembangan pertanian organik di Indonesia yang bekerja langsung dengan petani dan lembaga pendamping petani di Indonesia. “Meski begitu, akses pasar yang berkelanjutan dan berkeadilan bagi petani masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu terus dikembangkan seiring waktu,” papar Emilia.

Kondisi pandemi Covid-19 sendiri, telah menurunkan daya beli masyarakat di seluruh dunia. Meski begitu permintaan akan produk pertanian organik meningkat tajam. Pandemi juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi produk pangan sehat.

Secara khusus, situasi ini meningkatkan permintaan akan produk herbal di dalam dan luar negeri. Indonesia sendiri memiliki kekayaan produk pertanian organik yang mampu menjawab peluang permintaan pasar yang tinggi. Hal ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk menjawab permintaan pasar yang terus berkembang.

Laporan dari Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional menjelaskan sektor pertanian berkontribusi 2,52% dalam pengembangan ekspor Indonesia. Lebih khusus, pertanian organik mendapatkan permintaan ekspor yang tinggi dari Jerman dan Amerika Serikat.

Tren produk organik ini perlu dimanfaatkan dengan mengembangkan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produk organik Indonesia yang potensial. Untuk itu, perlu membangun kerja sama yang berkelanjutan dari hulu ke hilir untuk mengembangkan pasar pertanian organik.

“Potensi pasar ke depan masih besar dan perlu didukung oleh strategi produksi dan pemasaran yang tepat,” ujar Direktur PT Trubus Cipta Swadaya Utami Kartika Putri.

Sementara itu, Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor, Kemendag Kasan mengatakan, kerja sama ini menyambungkan kebutuhan pertanian organik dari tingkat hulu di petani hingga ke tingkat hilir. “Dari sisi hilir tentu Dirjen PEN Kemendag akan membantu memfasilitasi, salah satunya adalah menyambungkan dengan pasarnya,” ucap Kasan.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *