Apni Naibaho: Sayuran Organik Pembebas Petani dari Tengkulak | Villagerspost.com

Apni Naibaho: Sayuran Organik Pembebas Petani dari Tengkulak

Apni Naibaho bersama anggota Siantar Sehat Organik dan lahan pertanian sayur organik mereka (dok. apni naibaho)

Apni Naibaho bersama anggota Siantar Sehat Organik dan lahan pertanian sayur organik mereka (dok. apni naibaho)

Jakarta, Villagerspost.com – Pada mulanya adalah sebuah keprihatinan. Sebagai seorang perempuan yang lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, Apni Olivia Naibaho prihatin melihat kondisi petani di daerahnya yang banyak terjerat tengkulak dan rentenir. “Tengkulak atau renternir seakan membantu petani meminjamkan modal, tetapi sebenarnya menindas dengan bunga yang cukup tinggi sehingga petani tetap susah hidupnya,” kata Apni.

Situasi sulit yang dihadapi para petani di kampungnya, justru membuat Apni malah bertekad menjadi petani. “Saya berpikir untuk pulang kampung pada September 2012 dan menjadi petani,” ujarnya.

Latar belakang pendidikannya yang bukan dari pertanian tak menyurutkan langkah perempuan kelahiran 30 April 1982 itu untuk menjadi petani. Apni kemudian mengikuti kursus pertanian organik di Sentul, Bogor. “Saya memilih bertani secara organik karena aman untuk tanah dan sayur lebih sehat dikonsumsi,” ujarnya.

Kelar mengikuti kursus, Apni kemudian mulai terjun menerapkan ilmunya bertanam sayuran secara organik. Sejak tahun 2013 dia mendirikan Siantar Sehat Organik. Lewat kelompok usaha sayuran organik ini, Apni bertekad untuk menjadi pionir pertanian organik di Pematangsiantar. Adapun sayuran yang ia produksi antara lain kangkung, sawi manis, sawi pahit, bayam merah, bayam hijau, pak coy, kailan, mentimun, buncis, kacang hijau, jagung manis.

Apni sengaja menyewa lahan di daerah pertanian dengan harapan agar petani konvensional di sekitarnya akan melihat lahan pecontohan yang dia kembangkan. Untuk menularkan ilmunya, Apni juga memperkerjakan petani setempat untuk membantu membuat bedengan, mengolah lahan, bertanam sayur secara organik, merawat, sampai memanen. “Saya juga mengadakan pelatihan organik di daerah pertanian,” katanya.

Upayanya menularkan “pertanian organik” kepada petani setempat tak sia-sia. Setelah satu tahun, dua orang tertarik untuk ikut bertani secara organik di lahannya masing-masing. “Saya mengajari mereka termasuk membuat pupuk dan pestisida sendiri yang bahannya didapat dari alam,” ujar Apni.

Ketika mereka sudah berhasil, dan dari segi finansial menguntungkan, beberapa petani tertarik untuk bergabung. Sekarang sudah ada lima petani setempat yang menanam sayur organik dan membantu saya menjual sayur mereka. “Saya terus mengontrol perlakuan petani mulai dari mengolah lahan sampai panen untuk memastikan mereka tidak lagi menggunakan pupuk kimia,” terang Apni.

Ragam jenis sayuran organik yang dibudidaya kelompok Siantar Sehat Organik (dok. apni naibaho)

Ragam jenis sayuran organik yang dibudidaya kelompok Siantar Sehat Organik (dok. apni naibaho)

Meski berupaya mengembangkan sayuran organik, Apni mengakui, jika diuji, mungkin sayur yang mereka produski belum murni organik. Alasannya, karena sayur yang mereka tanam asih berada di sekitar lahan yang menggunakan pupuk kimia. “Bisa saja tercemar lewat air dan udara. Tapi paling tidak kami sudah memberikan perlakuan organik mulai dari mengolah lahan sampai panen,” katanya.

Memang ada beberapa kendala yang dihadapi Apni antara lain hama dan penyakit pada tanaman, pengangkutan hasil panen, dan distribusi panen. Untuk pangsa pasar tidak menjadi masalah karena konsumen sudah ada, bahkan banyak sekali yang tertarik mengonsumsi sayuran organik yang diproduksi olehnya. “Kami menjual sayur ke kantor pemerintah dan swasta yang ada di Pematangsiantar dan beberapa delivery order ke rumah konsumen,” katanya.

Untuk pemasaran, dia masih terkendala dengan sistem pengangkutan. Untuk pengangkutan, kelompok Siantar Sehat Organik masih menggunakan sepeda motor. Kapasitas angkut pun menjadi terbatas karena hanya bisa mengangkut maksimal 60 kilogram sayuran sekali jalan.

“Padahal permintaan banyak. Seringkali, karena kebanyakan sayur jatuh dari motor. Solusi harus menyewa beli mobil untuk menjual sayur,” kata Apni.

Kesulitan lainnya adalah mencari tim kerja untuk membantu menjual sayur selain dirinya, supaya semakin banyak konsumen yang mengkonsumsi sayur sehat dan juga menawarkan ke warung warung. “Konsumen Sise (Siantar Sehat-red) antusias dan tidak kesulitan memasarkan,” ujarnya.

Sementara untuk masalah penanaman dan perawatan, kata Apni, mereka masih menghadapi kendala terkait hama. Saah satunya adalah ternak kambing yang sengaja ditambatkan ke dekat ladang untuk merumput. Terkadang tali pengikat lepas dan tanpa sepengetahuan pemilik, kambung masuk ke ladang dan merusak sayur yang ditanam. “Ini sangat merugikan, solusinya menegur pemilik dan para anggota bergantian menjaga ladang,” ujar Apni.

Kemudian, ada juga kendala penyakit di sayuran berupa munculnya bintik yang merusak daun. Untuk mengatasinya, anggota Sise memberikan pestisida organik. Masalahnya, kadang kala bintik-bintik itu muncul saat hampir siap panen, akibatnya petani merugi karena tidak mungkin memanen sayur yang tidak bagus.

Terkait motivasinya mengikuti pemilihan Duta Petani Muda 2016, Apni berkata dengan tegas: “Motivasi saya, kalau menang bisa menerapkan pembekalan dan pengetahuan bertani termasuk bisnisnya, sehingga bisa memotivasi petani dan anak muda lainnya.”

Ikuti informasi terkait pemilihan Duta Petani Muda >> di sini <<

Facebook Comments
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *