Atasi Harga Gula, Pemerintah Bentuk Tim Pengawas dan Monitoring Gula

Pabrik pengolahan gula kristal putih (dok. bumn.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyampaikan, penurunan gula pada harga sesuai HET Rp12.500/kg akan menjadi perhatian serius Pemerintah. Tidak boleh ada produsen dan distributor yang bermain-main dan bersepkulasi untuk mengambil keuntungan di kala pandemi COVID-19. Semua kegiatan pendistribusian akan dikawal secara khusus. Kemendag dan Satgas Pangan telah membentuk Tim Pengawas dan Monitoring Gula.

Mereka bertugas mengawal dan mengawasi distribusi gula dan harga di pasar. Jika ada yang melanggar aturan, Pemerintah akan mengambil tindakan tegas. “Kemendag beserta Satgas Pangan terus melakukan pengawasan untuk mengawal pendistribusian gula ke pasar. Secara khusus, kami telah membentuk tim pengawas dan monitoring harga/ketersediaan gula di pasar guna memastikan distribusi gula ke 34 propinsi sesuai dengan HET yang telah ditetapkan,” tandas Mendag dalam, dalam pertemuan bersama para produsen dan distributor gula di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (28/4).

Saat ini, Satgas Pangan telah memproses PTPN 2 di Sumatera Utara karena telah menjual gula dengan harga lelang melebihi HET yaitu Rp12.900/kg. Harga lelang ini berpotensi menaikkan harga gula di tingkat konsumen. Mendag Agus mengingatkan PTPN 2 untuk mengevaluasi hasil lelangnya.

“Dalam kondisi Covid-19 ini, kita semua harus bersatu untuk saling membantu. Semua memberikan stimulus. Memberi bantuan. Perekonomian harus jalan dan ciptakan suasana sejuk. Jangan ada oknum yang memanfaatkan kesempatan ini. Itu tidak sehat. Untuk PTPN 2, jika tidak bisa dimbau baik-baik maka akan ditindak tegas,” tegasnya.

Agus berpesan, kepedulian bersama harus menjadi perhatian semua pihak. Kita boleh berusaha. Ambil untung boleh tapi harus tepat sasaran. “Kalau ada lapis-lapis distributor ini nggak benar juga. Ini akan menghambat semua dan akan merusak harga di pasar dan supply and demand,” ujarnya.

Sementara itu, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Suhanto mengatakan, pemerintah telah mengambil langkah dalam menjaga stabilisasi harga gula konsumsi di tingkat masyarakat. Pemerintah telah menugaskan beberapa BUMN melakukan importasi GKP untuk mengisi kekosongan karena berbagai sebab. Salah satunya, disebabkan mundurnya musim giling akibat bergesernya musim tanam karena kemarau panjang.

“Musim giling yang harusnya jatuh pada akhir Mei, diperkirakan akan terjadi pada akhir Juni. Artinya gula petani akan masuk awal Juli. Ditambah lagi beberapa negara telah menerapkan lockdown yang berpengaruh pada proses distribusi dari luar negeri,” terang Suhanto.

Pemerintah, lanjut Suhanto, sebelumnya telah memberikan ijin impor gula rafinasi untuk kebutuhan industri makanan dan minuman. Selanjutnya, Pemerintah memberikan penugasan untuk mengalihkan sementara ijin impor gula rafinasi sebesar 250 ribu ton untuk diolah menjadi gula konsumsi dalam rangka mengisi kekosongan di masyarakat dan sudah berjalan produksi 99 ribu ton.

Pemerintah juga telah mengambil langkah memotong rantai distributor dengan cara mengalihkan gula penugasan tersebut untuk didisribusikan melalui distributor yang berafiliasi dengan ritel modern. “Kementerian Perdagangan bersama Satgas Pangan dan Bareskrim akan terus mengawal distribusi gula konsumsi. Diharapkan dengan pola distribusi ini akan menjaga harga gula tetap sesuai HET yang ditetapkan,” pungkas Suhanto.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.