Australia Kekurangan Petani Muda

Petani muda bekerja di ladang. Indonesia dan Australia mengalami kelangkaan petani muda (dok. umy.ac.id)
Petani muda bekerja di ladang. Indonesia dan Australia mengalami kelangkaan petani muda (dok. umy.ac.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Masa depan pertanian di Australia menuju masa yang suram lantaran usia petani di sana semakin menua. Hal itu terungkap dalam pertemuan antara Wakil Ketua DPR Fadli Zon dengan delegasi Australian Rural Leadership Network, di gedung DPR, Jakarta, Selasa (24/5).

Delegasi tamu dari Australia tersebut terdiri dari utusan pemerintah, parlemen, dan LSM. “Kehadiran mereka juga untuk memperkuat hubungan bilateral khususnya sektor pertanian. Kita sudah banyak menjalin kerja sama dengan Australia,” kata Fadli Zon.

(Baca juga: Petani Muda Langka, Kedaulatan Pangan Tinggal Cita Cita)

Dalam pertemuan itu, kedua belah pihak berdiskusi tentang berbagai masalah bidang pertanian. “Banyak yang ditanyakan tentang perkembangan sektor pertanian dan kondisi petani di Indonesia. Saya juga melihat ada banyak persamaan. Banyak usia petani kita yang semakin tua. Di Australia berusia 56 tahun sedangkan Indonesia 50 sampai 52 tahun,” jelas Fadli.

Berdasarkan data Biro Statistik Australia, pada tahun 2012 rata-rata usia petani di Australia adalah 53 tahun dan hampir seperempatnya sudah berusia diatas 65 tahun. Padahal di sektor industri lain, jumlah pekerja yang berusia diatas 65 tahun rata-rata jumlahnya hanya mencapai 3 persen saja.

Sementara itu data dari Departemen Lingkungan dan Industri Primer negara bagian Victoria menunjukkan, sepanjang kurun waktu 1976-2011, jumlah petani berusia di bawah 35 tahun turun sekitar 75%.

Secara umum, problem pertanian di Indonesia memang terjadi juga di Australia. Selain usia petani yang makin menua, Australia juga dilanda masalah lahan pertanian yang mulai menyempit dan iklim yang mulai tak bersahabat. Persoalan ini akan menjadi masalah bersama yang dihadapi Indonesia dan Australia di sektor pertanian.

Persoalan iklim, lanjut Fadli, Indonesia dan Australia menghadapi musim kering yang lebih panjang dari biasanya. “Ini tentu berdampak pada penurunan produksi,” katanya.

Selain persoalan di atas, persoalan yang juga sama dihadapi kedua negara adalah masalah data produksi dan lahan. Data seringkali tidak akurat, sehingga memengaruhi kebijakan sektor pertanian. (*)

Ikuti informasi terkait masalah petani muda >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *