Ayo Selamatkan Populasi Tuna Indonesia

Nelayan tradisional menangkap tuna di laut di sekitar Manado (dok.wwf.panda.org)
Nelayan tradisional menangkap tuna di laut di sekitar Manado (dok.wwf.panda.org)

Jakarta, Villagerspost.com – Menipisnya populasi tuna di Indonesia mendapat perhatian besar dalam forum Pertemuan Regional Komisi Perikanan Wilayah Pasifik Barat dan Tengah (Western and Central Pacific Fisheries Commission/WCPFC) yang berlangsung di Bali, tanggal 3-8 Desember. Laporan terakhir West Pacific and East Asian Seas (WPEA) menyebutkan telah terjadi penurunan yang mengkhawatirkan pada stok cakalang dan tuna mata besar di tingkat regional.

Masa depan perikanan tuna pun dikhawatirkan akan suram jika tidak ada langkah-langkah yang diambil untuk menyelamatkan populasi tuna di Indonesia. Karena itu, sejumlah 480 delegasi dari negara anggota WCPFC, termasuk Indonesia, merumuskan kesepakatan langkah pengelolaan perikanan tuna dari setiap negara anggota di wilayah Samudera Pasifik bagian tengah dan barat.

Berdasar laporan dan pertemuan tersebut, WWF mengimbau Pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah  perbaikan pengelolaan perikanan dari hulu ke hilir, agar komoditas perikanan tuna Indonesia dapat berkelanjutan. Manajer Program Perbaikan Perikanan Tangkap dan Budidaya WWF Indonesia Abdullah Habibi, mengatakan pemerintah dapat melakukan beberapa langkah penyelamatan populasi tuna Indonesia.

“Langkah-langkah perbaikan pengelolaan untuk perikanan tuna meliputi penyusunan strategi pemanfaatan (Harvest Strategy), pengaturan pemanfaatannya (Harvest Control Rule) di perairan kepulauan yang harus selaras dengan WCPFC, kepatuhan terhadap standar RFMO (Regional Fisheries Management Organization) terutama pada pemenuhan data yang akurat, dan penempatan observer onboard (penilik yang ikut di atas kapal-red),” katanya dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (8/12).

Hal ini memang penting bila mengacu pada data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menyebutkan Indonesia merupakan negara dengan potensi tuna tertinggi di dunia. Tahun 2014, total produksi tuna mencapai 613.575 ton per tahun dengan nilai sebesar Rp6,3 triliun per tahun.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 4/Permen-KP/2015 tentang Larangan Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Negara Republik Indonesia 714 yang meliputi Laut Banda dan Teluk Tolo. Wilayah tersebut merupakan daerah pemijahan (breeding ground) dan daerah bertelur (spawning ground) dari tuna sirip kuning. WPP lain juga membutuhkan perlindungan serupa untuk menjamin keberlanjutan tuna.

Untuk mendukung perbaikan sektor perikanan menuju keberlanjutan, WWF-Indonesia telah membangun skema Seafood Savers. Seafood Savers adalah upayan memfasilitasi perbaikan perikanan pada skala industri yang mengedepankan skema Business to Business.

Selain Seafood Savers, WWF juga telah menyusun panduan mengenai praktik perikanan yang lebih baik dalam serial dokumen BMP (Better Management Practices) perikanan tangkap, tangkapan sampingan dan perikanan budi daya, untuk pengusaha dan nelayan. “Panduan ini bertujuan untuk membantu para nelayan dalam menangkap biota secara ramah lingkungan dan berkelanjutan, termasuk proses penanganan dan pengemasannya, kata Abdullah.

Sementara itu, Western and Central Pacific Tuna Programme Manager-WWF Smart Fishing Initiative Global Marine Program Bubba Cook menyatakan, dorongan politik WCPFC sangat penting untuk Pemerintah terkait mengambil aksi demi kepentingan bersama. “Saya khawatir perikanan tuna di wilayah ini akan menghadapi penurunan jumlah tangkapan jika tak dilakukan aksi segera,” ujarnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *