Bakal Tembus Malaysia, Produk Peternakan Indonesia Diyakini Mampu Bersaing di MEA

Peternakan ayam milik rakyat (dok. provinsi banten)

Jakarta, Villagerspost.com – Pemerintah optimis produk peternakan Indonesia dipastikan mampu menembus pasar-pasar negara yang tergabung dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Sebagai langkah awal, produk peternakan Indonesia berupa unggas yaitu ayam dan itik bakal segera masuk pasar Malaysia.

Hal itu ditegaskan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) I Ketut Diarmita. Dia mengatakan, untuk tahap awal produk ternak unggas lokal Indonesia siap menembus pasar bebas ASEAN setelah adanya kesepakatan dengan pemerintah Malaysia.

“Kemampuan Indonesia mengekspor produk peternakan ini kami telah sampaikan kemarin Senin 20 November 2017 di konferensi ke-30 Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) Wilayah Regional Asia di Malaysia,” tegas Ketut, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (22/11).

Menurut Ketut, kepastian akan diterimanya ternak ayam dan itik lokal oleh Malaysia diperoleh setelah pertemuannya dengan Direktur Jenderal Veteriner Malaysia Dato’ Quaza di Putrajaya, Malaysia, di sela-sela acara tersebut. Untuk tahap awal produk ternak unggas lokal dan Final Stock (FS) unggas lokal Indonesia harus mampu menembus pasar bebas ASEAN setelah adanya kesepakatan pemerintah Indonesia dengan pemerintah Malaysia. “Kami berharap ini menjadi catatan sejarah dalam peternakan nasional kita,” ujarnya.

Menurut Ketut, selama ini ternak unggas lokal Indonesia memang sudah dikenal karena termasuk salah satu pusat domestikasi ayam dunia selain China dan kawasan Lembah Hindus. “Namun, karena pola usahanya yang masih tradisional mengakibatkan pengembangan usahanya terhambat, sehingga saat ini kita perjuangkan untuk meraih kejayaan,” tegas Ketut.

Namun dengan adanya kerjasama itu, Ketut yakin, peternakan skala UMKM tidak lama lagi mampu berbicara di pasar internasional. Ketut menjelaskan tujuan kunjungannya ke Malaysia tersebut adalah membawa misi perdagangan produk ternak, khususnya unggas lokal ke luar negeri. Kali ini yang ditawarkan ke Malaysia adalah ayam lokal dan itik lokal. “Malaysia berminat juga untuk impor daging sapi,” jelasnya.

Realisasi ekspor tersebut diharapkan dalam kuartal pertama 2018. Sebelumnya, Pemerintah Malaysia terlebih dulu akan meninjau sarana peternakan ayam lokal dan itik yang sudah memenuhi persyaratan Good Breeding Practice (GBP), serta memiliki standar internasional untuk kesehatan hewan. “Yaitu Sertifikat Kompartemen Bebas Avian Influenza sesuai ketentuan OIE,” ungkapnya.

Terkait dengan jaminan kesehatan hewan, Ketut memaparkan, ini pemerintah sudah mengeluarkan tiga Sertifikat Kompartemen Bebas AI untuk unggas lokal, yaitu dua sertifikat untuk ayam dan satu untuk itik yang berlokasi di Bogor dan Purwakarta. “Kita terus perkuat sistem kompartemen AI kita, agar unggas dan produk unggas kita bisa bersaing di pasar international, khususnya Asean dan Jepang. Komoditas ternak lain yang juga akan masuk ke Malaysia adalah daging sapi kualitas premium yang berasal dari peternakan di Lampung,” jelasnya.

Ketut menerangkan saat ini masing-masing perusahaan peternakan masih menghitung volume ekspor dan jenisnya. Menurutnya, dari hasil pembicaraan sebelumnya antar pengusaha, Malaysia sedikitnya membutuhkan 30 ribu Day Old Chicken (DOC) ayam lokal per bulan dan 10 ribu Day Old Duck (DOD) per bulan untuk jenis bebek petelur. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *