Balai Karantina Ikan Musnahkan Ratusan Ikan Invasif

Pemusnahan ikan invasif di SKIPM Padang (dok. kkp)

Jakarta, Villagerspost.com – Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Semarang dan Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (SKIPM) Padang memusnahkan ratusan ekor ikan invasif yang diperoleh dari masyarakat. BKPIM Semarang memusnahkan total 78 ekor ikan invasif, dengan cara suntik mati dan kemudian dikuburkan di dalam satu lubang.

Kepala Balai KIPM Semarang Raden Gatot Perdana mengungkapkan bahwa terdapat 78 ekor ikan invasif yang telah dimusnahkan. Ikan tersebut terdiri dari lima Ikan Piranha, beberapa Ikan Aligator, Ikan Arapaima, dan jenis lainnya. “Saat ini, bangkainya kami kubur dalam satu lubang supaya tidak menimbulkan bau busuk,” ujar Gatot, Rabu (15/8).

Proses pemusnahan, kata Gatot, dilakukan melalui proses pembiusan ikan dengan menyiramkan cairan cengkeh. Pembiusan ini bertujuan untuk membuat ikan lemas sekaligus mematikan ikan secara perlahan. Pembiusan dengan cairan cengkeh dianggap telah menenuhi unsur kehewanan dan memenuhi unsur animal wild care.

“Pola pemusnahan ikan berbahaya ini diharapkan menjadi edukasi bagi masyarakat supaya ikan kategori itu tidak lagi memasuki perairan Indonesia,” ujarnya.

Padi hari yang sama, SKIPM Padang juga memusnahkan 21 ekor ikan invasif. Pemusnahan dilakukan dengan pembakaran, yang berlangsung di halaman Kantor BKIPM Padang. Ikan yang dimusnahkan pada kesempatan kali ini terdiri dari lima jenis yaitu 4 ekor Ikan Spatula Gar, 10 ekor Ikan Sapu-Sapu, 5 ekor Ikan Piranha, 1 jenis Ikan Tarpon, dan 1 ekor Ikan Florida Gar.

Ikan berbahaya tersebut berasal dari penyerahan sukarela yang diberikan oleh komunitas pecinta ikan predator dan masyarakat kepada petugas SKIPM Padang melalui posko yang dibuka pada tanggal 1-31 Juli 2018. “Ikan diserahkan secara sukarela oleh masyarakat dan dari komunitas,” ujar Kasubsiwasdalin SKIPM Padang Henhen Suhendar.

Sebelum dilakukan pemusnahan, ikan tersebut terlebih dahulu dimatikan dengan cara dibius dengan es batu sekitar 20 menit lamanya. Setelah ikan mulai teler dan mati baru dilakukan pembakaran.

Dari pengamatan yang dilakukan BKIPM Padang, masih ditemukan sejumlah orang memelihara ikan berbahaya. Namun, pihaknya belum memberikan tindakan penyitaan dikarenakan sifatnya masih sebatas imbauan.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *