Balai Perikanan Budidaya Didorong Menjadi Motor Ekspor Perikanan

Tempat pelelangan ikan. (dok. Kiara)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong Balai Perikanan Budidaya agar mampu menjadi motor peningkatan ekspor sektor kelautan dan perikanan serta pertumbuhan ekonomi masyarakat. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, ada dua terobosan guna menggenjot subsektor perikanan budidaya.

Pertama, pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor yang didukung riset kelautan dan perikanan. Kedua, pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya tawar, payau dan laut berbasis kearifan lokal.

“Oleh karenanya peranan balai sangat diperlukan guna merealisasikan itu semua. Pasalnya balai bersentuhan langsung dengan masyarakat di daerah-daerah,” kata Slamet, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Sabtu (1/5).

Salah satunya, kata Slamet, adalah Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) DJPB harus terus fokus pada kegiatan perekayasaan serta juga harus menjadi bagian dalam pengembangan bisnis sehingga nantinya akan menggerakkan ekonomi masyarakat serta memberikan kontribusi terhadap ekonomi nasional.

“Keberadaan UPT DJPB harus dimaksimalkan agar menghasilkan inovasi-inovasi teknologi yang bernilai ekonomi, serta bisa diaplikasi dan ditiru oleh masyarakat,” papar Slamet.

Slamet menyampaikan guna pencapaian dua terobosan terkait perikanan budidaya tersebut, salah satunya melalui pengembangan pakan mandiri. Dan upaya yang telah dilakukan oleh BBPBAP Jepara lainnya adalah instalasi budidaya maggot.

Beberapa keunggulan maggot diantaranya memiliki kandungan protein 40-48% dan lemak 25-32%, produksi maggot tidak membutuhkan air, listrik dan bahan kimia serta infrastruktur yang digunakan relatif sederhana, sehingga teknologi produksi maggot dapat diadopsi dengan mudah oleh masyarakat. Maggot mempunyai peluang digunakan sebagai bahan baku alternatif pakan ikan dan dapat diproses menjadi tepung maggot (mag meal) sehingga dapat menekan biaya produksi pakan.

Selain itu maggot mampu mendegradasi limbah organik menjadi material nutrisi lainnya. “Bisa dibayangkan jika semua pembudidaya mampu menghasilkan budidaya maggot, maka bukan hanya nilai ekonomi yang didapatkan tapi secara langsung kita berperan dalam penyelamatan bumi dari masalah limbah organik (zero waste),” papar Slamet.

“Melalui inovasi teknologi BBPBAP Jepara seperti budidaya maggot ini diharapkan dapat memudahkan perputaran ekonomi masyarakat pembudidaya dalam usaha budidaya yang berkelanjutan serta diharapkan dapat memberikan multiplier effect terhadap perekonomian bagi masyarakat daerah,” tambahnya.

Kepala BPBAP Jepara Sugeng Raharjo menegaskan, pihaknya siap dan terus berupaya dalam rangka pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor serta pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya melalui kegiatan perekayasaan untuk menciptakan inovasi teknologi yang mudah ditiru oleh masyarakat pembudidaya.

Melalui Tambak MSF diharapkan bisa mencetak generasi milenial sebagai tenaga yang siap diterjunkan ke masyarakat menjadi entrepreneur pelaku usaha budidaya udang yang profesional sehingga mendukung peningkatan produksi udang nasional.

Selain itu juga melalui program klaster tambak udang percontohan di Kabupaten Sukamara diharapkan memberikan multiplier effect dalam mendorong peningkatan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, mempercepat transfer teknologi kepada masyarakat serta perluasan kawasan budidaya udang yang mandiri, ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“BBPBAP Jepara juga berperan dalam membantu menjaga kelestarian lingkungan dengan pemanfaatan limbah organik sebagai pakan maggot,” ujarnya.

Selain sebagai bahan baku produksi pakan mandiri, maggot menciptakan nilai tambah menjadi bahan makanan seperti crispy, minyak organik, dan sisa media budidaya maggot bisa digunakan untuk pupuk tanaman. BBPBAP Jepara membangun kemitraan dengan Bank-bank Sampah dari kelompok masyarakat di Jepara dan sekitarnya untuk pengembangan maggot dari hulu ke hilir.

“Selain itu juga membangun kemitraan dalam pengelolaan lingkungan terutama limbah organik sehingga menciptakan usaha baru bagi masyarakat di Jepara,” papar Sugeng.

Instalasi budidaya maggot dilengkapi dengan 140 bak budidaya dan ruang lalat Black Soldier Fly (BSF) dengan kapasitas produksi selama 1 bulan yakni fresh maggot kurang lebih sebanyak 1,3 ton dan 900 kg kompos tanaman bekas media pemeliharan maggot. Untuk kapasitas produksi selama 1 tahun, mampu menghasilkan produksi fresh maggot kurang lebih sebanyak 15,6 ton dan kompos tanaman bekas media pemeliharan maggot kurang lebih sebanyak 10,8 ton.

Atas capaian yang sudah diwujudkan, Bupati Jepara, Dian Kristiandi memberikan apresiasi terhadap program-program yang dikembangkan KKP seperti kegiatan kegiatan perikanan budidaya di BBPBAP Jepara.

“Kami akan dukung semua program-program KKP yang memberikan dampak bagi masyarakat dalam mengembangkan perikanan budidaya menjadi lebih baik dan mendorong roda perputaran ekonomi bagi masyarakat Jepara,” ujar Dian.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *