Balitek KSDA Kembangkan Bioakustik Untuk Memantau Biodiversitas

Lebatnya hutan Kappi, di Zona Inti Taman Nasional Gunung Leuser yang merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia Hutan Hujan Tropis Sumatra adalah anugerah alam untuk kehidupan manusia dan satwa liar yang ada di dalamnya. Bukan untuk dirusak demi kepentingan sesaat dan segelintir pihak. ( junaidi hanafiah/leuser).

Jakarta, Villagerspost.com – Balai Litbang Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) Samboja tengah mengembangkan metode survei bioakustik untuk pemantauan keanekaragaman hayati atau biodiversitas. Saat ini, tim peneliti Balitek KSDA Samboja, telah memasang 8 unit alat bioakustik di areal Rintis Wartono Kadri Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja untuk memantau biodiversitas di sana.

“Selain digunakan sebagai alat bantu identifikasi keberadaan satwa liar, output dari metode bioakustik juga dapat digunakan untuk menghitung berbagai indeks biodiversitas, seperti Acoustic Diversity Index (ADI),” jelas peneliti bidang Konservasi Kehati, Balitek KSDA Mukhlisi, S.Si., M.Si, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (22/1).

Lebih lanjut dia menjelaskan, tutupan hutan yang lebat terkadang kurang berarti, jika tidak diimbangi dengan nyanyian satwa di dalamnya. Beberapa studi kini berkembang untuk menggunakan metode bioakustik sebagai alat monitoring kesehatan hutan.

Alat bioakustik yang digunakan adalah hasil pengembangan dari Cornell University Laboratorium. Penggunaan alat ini sebagai bagian program kemitraan antara The Nature Conservancy (TNC) dan Balitek KSDA. Rencananya alat bioakustik tersebut akan dipasang di lapangan selama 7 hari, terhitung mulai 14 januari 2019.

Alat ini merupakan salah satu tools atau alat yang digunakan untuk mempelajari soundscape ecology. Yakni sebuah cabang ilmu ekologi yang mempelajari interaksi antara suara dengan lingkungan sekitarnya, termasuk di dalamnya satwa, baik di perairan maupun darat.

“Penggunaan alat ini sudah cukup maju untuk studi satwa mamalia laut seperti lumba-lumba dan paus, namun masih minim untuk satwa di darat,” tambah Mukhlisi.

Aplikasi metode bioakustik di hutan tropis Indonesia sangat potensial untuk melengkapi metode yang telah ada. Metode ini sangat mudah diaplikasikan dan bersifat non invasif, sehingga perilaku alami satwa tidak terganggu selama proses perekaman.

Sayangnya, metode ini membutuhkan perangkat bersifat “super computer”. Ini untuk mengakomodir rekaman data suara yang sangat besar yang dihasilkannya.

Pekan ini, tim peneliti Balitek KSDA akan mengambil alat perekam di lapangan, dan kemudian menganalisis data suara yang diperoleh. Analisis akan dilakukan bersama dengan tim dari TNC Kalimantan. Kegiatan ini akan didampingi langsung oleh peneliti bioakustik dari Cornell University, Zuzana Burilova, PhD.

“Pemantauan biodiversitas hutan secara berkala sangat penting. Hasil pemantauan sangat diperlukan untuk menentukan tingkat keberhasilan pengelolaan hutan dan dasar peningkatan kualitas pengelolaannya,”ujar Mukhlisi.

Mengingat pentingnya pemantauan tersebut, melalui Convention on Biological Diversity di Nagoya (CBD, 2010), UNESCO meluncurkan inisiatif bersama dalam rangka mendukung usaha-usaha internasional untuk mencapai target konservasi biodiversitas. Oleh karenanya, kehadiran metode bioakustik ini diharapkan mampu melengkapi sistem pemantauan biodiversitas menjadi lebih efektif dan efisien, untuk mencapai target tersebut.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *