Bancakan Kawit Tanam: Tradisi Tani Desa Ronggo, Ajarkan Toleransi Antar Makhluk Tuhan

Masyarakat Desa Ronggo, Pati, Jawa Tengah, melaksanakan ritual sedekah yang disebut “Bancakan Kawit Tanam”, tanda dimulainya musim tanam padi (villagerspost.com/sudargo)

Pati, Villagerspost.com – Musim penghujan di awal tahun telah tiba. Seperti umumnya desa-desa yang mengandalkan penghidupan dari pertanian, khususnya bertanam padi, awal musim penghujan berarti juga awal dari musim tanam. Di banyak daerah, awal musim tanam banyak disambut pula dengan berbagai ritual tradisi yang intinya memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar usaha pertanian mereka diberkahi agar membawa hasil yang baik hingga masa panen nanti.

Begitu pula dengan masyarakat Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Menyambut dimulainya musim tanam, masyarakat desa mengiringinya dengan mengadakan acara selamatan atau sedekahan yang dinamakan “Bancakan Kawit Tanam”. Mbah Parju, salah seorang tetua Desa Ronggo bercerita, setelah musim penghujan tiba, petani menyiapkan lahan persemaian di lahan masing-masing. “Bersamaan dengan itu, petani mengadakan bancakan kawit tanam, atau sedekahan,” ujarnya kepada Villagerspost.com, Selasa (15/1).

Menurut Mbah Parju, diadakannya ritual tradisi seperti itu, maksudnya adalah meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Pencipta Alam, agar petani diberikan berkah keselamatan. “Kita juga berdoa agar diberikan keselamatan, panen melimpah bisa mencukupi keluarga dan masyarakat umumnya. Itu doanya bagi yang melaksanakan ritual budidaya di sawah,” kata Mbah Parju.

Mbah Parju berkisah, tradisi ini, sebenarnya merupakan tradisi yang diperuntukkan bagi pamong desa yang akan menanam padi. Tujuannya berdoa kepada Tuhan agar usaha pertaniannya diberi keberkahan dan hasil panen bukan hanya mencukupi kebutuhan keluarga tetapi juga masyarakat banyak. Upacara “Bancakan Kawit Tanam” tanam meski dilaksanakan bersama-sama seluruh masyarakat desa, tetap memiliki perbedaan antara sedekahan yang dilakukan petani biasa dengan pamong (perangkat desa).

Untuk para pamong praja, saat mulai tanam, wajib menyediakan sedekahan berupa satu ekor ayam utuh, pisang raja, dua mangkuk bubur dari tepung dengan gula merah, kembang telon, dan sayur lodeh, ketan (rengginang), serta cengkarok dari beras ketan yang digoreng dengan gula merah dan beberapa sesajian lainnya. “Bahkan untuk pamong desa penggarap tanah bengkok, tradisi ini bisa dibilang wajib dilakukan, sementara untuk warga, tidak diwajibkan ada tradisi seperti itu,” ujarnya.

Sesaji disediakan, dengan pemahaman sebagai bentuk toleransi dengan sesama makhluk Tuhan, termasuk yang gaib, yang dipercaya juga punya hak untuk makan minum (villagerspost.com/sudargo)

Namun, kata Mbah Parju, masyarakat biasanya ikut berpartisipasi dalam upacara yang diadakan para pamong. Ritual biasanya berlangsung setelah lahan persemaian dibuat. Setelah itu esok paginya, pamong yang mengadakan upacara bersama masyarakat pergi ke sawah bersama-sama untuk melakukan sedekahan sekaligus melakukan penanaman bersama. “Para tetangga yang membantu menanam, semuanya sukarela, tidak dibayar, kecuali memang buruh tanam,” kata Mbah Parju.

Nah, 1-2 minggu setelah menanam, masyarakat Desa Ronggo akan mengadakan sedekahan lagi kali ini dilakukan oleh seluruh masyarakat, sebagai tanda terimakasih kepada “Kanjeng Ibu” atau “Dewi Sri” yang dipercaya sebagai dewi asal mula tanaman padi. “Sedekahan ini nanti diadakan kembali kalau sudah panen,” kata Mbah Parju.

Sayangnya, kata Mbah Parju, tradisi yang merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat pertanian ini, di masa kini, sudah mulai hilang ditelan zaman. Sebagian ada yang menganggap tradisi semacam itu menyalahi ajaran agama.

Mengenai hal ini, Mbah Parju punya alasan berbeda. “Kita sejatinya tetap meminta kepada Tuhan, bukan kepada lelembut atau sejenisnya. Ini pemikiran yang diwariskan dari para leluhur, dan saya sebagai orang Islam, sangat menghormati pemikiran para leluhur,” ujarnya.

Tentang keharusan ada sesajian atau ubo rampe untuk acara sedekahan tersebut, Mbah Parju mengatakan, hal itu merupakan bentuk kesadaran masyarakat tradisional bahwa manusia hidup berdampingan dengan makhluk lain, termasuk makhluk gaib. “Kita harus juga menghargai mereka, sesama makhluk kita harus saling toleransi di sekitar kita ada mereka dan mereka punya hak juga untuk makan, minum dan sebagainya. Bukan berarti kita percaya pada makhluknya, tetapi pada keberadaannya,” ujarnya.

Mbah Parju, Tetua Adat Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Pati, Jawa Tengah (villagerspost.com/sudargo)

Para petani di Desa Ronggo sendiri, sepaham dengan pemikiran Mbah Parju, bahwa tradisi ini harus dilihat dalam konteks, demi menjaga keseimbangan alam agar, tidak ada makhluk Tuhan yang ditiadakan sehingga menganggu keseimbangan alam, dan akhirnya menganggu usaha pertanian. Para petani kerap menyaksikan bagaimana Mbah Parju misalnya, saat tanaman padi dan jagung masyarakat Desa Ronggo diserang hama tikus, Mbah Parju malah melarang petani membunuh tikus.

Tikus-tikus itu, justru dibiarkan memakan tanaman padi dan jagung sampai mereka kenyang, sembari berdoa di ladang dan sawah yang diserang tikus: “Semua makhluk itu utusan Tuhan Yang Maha Agung, butuh hidup, boleh makan tetapi jangan merusak, makanlah sesuai kenyangmu, lalu pergilah! Yang masih sisa semua bagianku karena aku juga punya tanggung jawab keluarga.”

Ajaib, setelah berdoa demikian, para petani menyaksikan, serangan tikus berangsur mereda dan mereka pergi dengan sendirinya. Mbah Parju sendiri mengatakan, dalam konteks seperti itulah, sesaji juga diberikan kepada makhluk gaib. “Tentang sesajen itu, kita juga nggak tahu apa saja makanan dari semua makhluk yang ada di sekitar kita, dari segala macam yang kita sediakan tadi. Tetapi intinya kita berdoa, supaya semua (sesama makhluk Tuhan), baik, rukun, dapat berkah saling berbagi, berdampingan, menjaga kestabilan alam di sekitar kita,” urai Mbah Parju.

Tentang adanya tradisi sedekahan atau “Bancakan Kawit Tanam” ini, Rukani, seorang anggota Badan Permusyawaratan Desa di Desa Ronggo mengatakan, hal seperti ini memang sebaiknya harus terus dilestarikan. “Kenapa? Karena pengertian masyarakat sekarang sudah jauh dengan budaya pertanian dan bertani sehingga mudah mengatakan hal seperti itu sebagai melanggar hukum agama,” katanya.

“Padahal, kalau kita mau mencermati, tradisi itu malah pitutur luhur yang sangat menekankan untuk manusia agar bisa bertoleransi dengan siapa pun makhluk Tuhan, baik itu hewan maupun makhluk gaib, agar menjaga keseimbangan alam,” kata Rukani.

Mbah Parju sendiri, mengaku tak terlalu merisaukan banyaknya perbedaan pandangan terkait ritual khas masyarakat Desa Ronggo ini. “Ndak opo-opo, itu ya urusan masing-masing, kono yo kono, kene yo kene (tidak apa-apa itu urusan masing-masing, di sana ya di sana, di sini ya di sini),” ujarnya.

Laporan/Foto: Sudargo, Petani dari Desa Ronggo, Jaken, Pati, Jawa Tengah, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *