Bangun Sistem Rantai Pasok Sawit Bebas Deforestasi, Greenpeace Apresiasi Wilmar

Aktivis Greenpeace juga melakukan aksi menduduki tanker pengangkut minyak sawit milik Wilmar (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Greenpeace mengapreasiasi langkah Wilmar Internasional, pedagang minyak kelapa sawit terbesar dunia asal Singapura, yang telah mempublikasikan rencana aksi terperinci untuk memetakan dan memantau semua pemasoknya. Jika diterapkan maka akan menempatkan perusahaan raksasa kelapa sawit yang memasok 40 persen minyak sawit dunia ini satu langkah lebih dekat yang pada akhirnya akan menghilangkan deforestasi dari rantai pasokannya dan berdampak besar pada industri lainnya.

“Wilmar memasok minyak sawit ke sebagian besar merek-merek ternama produk makanan dan kosmetik. Jadi pengumuman hari ini adalah terobosan besar. Jika Wilmar menepati janjinya, pada akhir 2019 akan menggunakan satelit untuk memantau semua pemasok minyak sawitnya, sehingga hampir tidak mungkin bagi mereka untuk lolos dari perusakan hutan. Greenpeace akan mengawasi dengan seksama untuk memastikan Wilmar melaksanakannya,” kata Kepala Kampanye Hutan Global, Greenpeace Indonesia Kiki Taufik, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (10/12).

Langkah ini menyusul kampanye intensif Greenpeace secara global, bertujuan untuk mengakhiri deforestasi yang disebabkan perkebunan minyak sawit di seluruh rantai pasokan perusahaan merek-merek terbesar rumah tangga dan pembeli minyak sawit di dunia. Lebih dari 1,3 juta orang telah menandatangani petisi Greenpeace menyerukan untuk mengakhiri deforestasi untuk minyak sawit.

Dalam tiga bulan terakhir, aktivis Greenpeace menduduki kilang Wilmar di Indonesia dan dua kali menaiki kapal tanker yang membawa produk minyak sawit Wilmar. Greenpeace Italia memblokade pabrik salah satu pelanggan utamanya, Mondelez (pemilik Oreo, Cadbury dan Ritz). Aktivis di seluruh dunia juga membawa adegan perusakan hutan ke berbagai kantor Mondelez di seluruh dunia. Sementara ini, Greenpeace menghentikan kampanye untuk memberikan kesempatan pada Wilmar mewujudkan rencana ini.

Kerusakan hutan untuk produksi komoditas memicu krisis iklim dan kepunahan. Para ilmuwan memperingatkan untuk menjaga pemanasan global dibawah 1,5 ºC, yang ini berarti mengakhiri deforestasi dan memulihkan hutan. Merek-merek global dan perusahaan pedagang berjanji untuk membersihkan rantai pasokan mereka pada tahun 2020.

Namun kurang dari 400 hari, perusahaan-perusahaan tersebut masih gagal memenuhi janjinya, sebagian karena pedagang dan pelanggan mereka gagal mengumpulkan peta perkebunan para pemasok, yang sangat diperlukan untuk memantau dan bertindak apa yang terjadi di lapangan.

Seperti diketahu, pada bulan Desember 2010, anggota Consumer Goods Forum, sebuah asosiasi industri yang terdiri dari 450 merek konsumen terbesar, berkomitmen untuk menghentikan deforestasi dari rantai pasokan komoditas pertanian mereka pada tahun 2020, termasuk ternak, minyak sawit, bubur kertas dan kedelai. Pada bulan Desember 2013, Wilmar menjadi pedagang kelapa sawit pertama yang mengadopsi kebijakan ‘tanpa deforestasi, tanpa gambut, tanpa eksploitasi’ yang diterapkan pada perkebunannya sendiri dan para pemasoknya.

Pada akhir 2014, semua pedagang minyak sawit utama telah mengadopsi kebijakan serupa. Namun deforestasi pada perkebunan minyak sawit terus berlanjut karena pedagang dan pelanggan mereka kekurangan peta yang diperlukan untuk memantau apa yang terjadi di lapangan.

———————–

Fakta Kerusakan Lingkungan Akibat Ekspansi Sawit

  • Setengah dari populasi orangutan Borneo telah dihancurkan dalam kurun waktu 16 tahun, dengan perusakan habitat oleh industri kelapa sawit menjadi pendorong utama. Lebih dari tiga perempat dari taman nasional Tesso Nilo, rumah bagi harimau, orangutan dan gajah, telah diubah menjadi perkebunan kelapa sawit ilegal. Secara global, 193 spesies yang dikategorikan sebagai Terancam Kritis, Terancam Punah dan Rentan, terancam oleh produksi minyak sawit.
  • Sektor perkebunan – kelapa sawit dan pulp – adalah penggerak penggundulan hutan terbesar di Indonesia. Sekitar 24 juta hektar hutan dihancurkan di Indonesia antara tahun 1990 dan 2015, menurut angka resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia.
  • Deforestasi dan kerusakan lahan gambut adalah sumber utama emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Ini telah mendorong Indonesia ke tingkat teratas penghasil emisi global, di samping Amerika Serikat dan China.
  • Deforestasi di kawasan tropis telah menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca setiap tahun daripada seluruh Uni Eropa; mengungguli setiap negara kecuali Amerika Serikat dan Tiongkok. Pada bulan Oktober 2018, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyerukan penghentian segera deforestasi untuk membatasi suhu global yang meningkat menjadi 1,5 °C.
  • Pengembangan perkebunan adalah akar penyebab kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia. Pada bulan Juli 2015, api menyebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Kebakaran ini menghasilkan kabut asap yang mempengaruhi jutaan orang di seluruh Asia Tenggara. Para peneliti di Universitas Harvard dan Columbia memperkirakan bahwa asap dari kebakaran tahun 2015 telah menyebabkan 100.000 kematian prematur. Bank Dunia menghitung biaya bencana sebesar US$ 16 miliar.
  • Perusahaan minyak kelapa sawit berulang kali dituduh mengeksploitasi pekerja, anak-anak, dan komunitas lokal. Bulan lalu, Roundtable on Sustainable Palm Oil menyetujui dua perusahaan minyak sawit besar, Felda Global Ventures dan Indofood, menyusul laporan ekstensif eksploitasi di perkebunan mereka.

————————————–

Rencana aksi baru Wilmar ini, menurut Greenpeace, dirancang untuk mengatasi kesenjangan itu. Wilmar memetakan seluruh lahan tanah supliernya pada akhir 2019, termasuk konsesi yang belum tercantum, dan menggunakan pemantauan satelit beresolusi tinggi untuk memantau deforestasi. Perusahaan-perusahaan yang tertangkap menggunduli hutan akan diberi sanksi penangguhan segera

Pengumuman Wilmar ini tentu memberi tekanan pada sektor lain, termasuk pedagang komoditas utama lainnya seperti Golden Agri Resources dan Musim Mas yang juga mendapatkan minyak sawit dari para perusak hutan. Merek rumah tangga seperti Mondelez, Nestlé, dan Unilever, yang mendapatkan suplai dari pemasok berbeda juga memiliki tanggung jawab untuk melihat komitmen setara yang diluncurkan di seluruh industri.

“Ketika dunia terbangun akibat krisis iklim dan kepunahan, diam bukanlah pilihan. Wilmar telah mengambil langkah penting dan sekarang harus segera menjalankan rencananya. Menghentikan penggundulan hutan membutuhkan tindakan di seluruh industri,” ujar Kiki.

“Pedagang dan merek-merek lain saat ini harus mengikuti rencana yang kredibel untuk memetakan dan memantau semua pemasok mereka. Tak kalah pentingnya adalah tindakan untuk mengakhiri eksploitasi dan pelanggaran hak asasi manusia di sektor perkebunan minyak sawit,” tegas Kiki.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *