Bank Terbesar Jepang Didesak Lakukan Pembiayaan Ramah Iklim

Kehancuran bentang alam yang terjadi akibat pertambangan batubara (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Bank terbesar di Jepang, Mitsubishi UFJ Financial group (MUFG) didesak melakukan pembiayaan yang ramah iklim. Desakan tersebut disampaikan oleh organisasi nirlaba Jepang Kiko Network, bersama dengan tiga investor individu. Mereka baru saja mengajukan resolusi iklim yang kedua kalinya kepada MUFG).

Resolusi tersebut meminta perusahaan ini untuk segera mengadopsi dan menyusun rencana untuk menyelaraskan pembiayaan dan investasinya dengan Perjanjian Iklim Paris. Resolusi tersebut diajukan pada tanggal 26 Maret dan diterima oleh MUFG pada Senin (29/3).

“Meskipun MUFG telah memperkuat kebijakannya sampai ketentuan tertentu, namun saat ini sama sekali tidak sejalan dengan Perjanjian Iklim Paris,” ungkap Kimiko Hirata, Direktur Internasional Kiko Network, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (30/3).

Resolusi ini bertujuan untuk memastikan bahwa investor bisa menilai dengan tepat risiko iklim yang ditimbulkan oleh pembiayaan dan investasi MUFG dan dapat memutuskan investasi yang sesuai untuk mereka, serta mendorong MUFG untuk mengurangi risiko iklim dan mempertahankan nilai perusahaannya. Kiko Network beserta tiga mitra yang mengajukan resolusi ini akan terus menjangkau investor lain untuk ikut mendukung resolusi ini.

Sebagai bisnis MUFG, ujar Kimiko, perlu menanggapi risiko keuangan dan reputasi yang ditimbulkan oleh perubahan iklim secara khusus. “MUFG harus menetapkan strategi bisnis dengan target jangka pendek dan menengah, dan segera mengambil tindakan substantif jika bank ingin menyelaraskan semua pembiayaan dengan Perjanjian Paris, termasuk keuangan perusahaan,” tegasnya.

Hingga saat ini, MUFG telah menetapkan kebijakan keberlanjutan, dan berkomitmen untuk melakukan nol pembiayaan proyek berbahan bakar batubara pada tahun 2040. Namun, MUFG terus menjadi salah satu pemodal utama industri berbahan bakar fosil dan kegiatan terkait deforestasi di seluruh dunia, berinvestasi dan memberikan penjaminan terhadap operasional yang mempercepat perubahan iklim dalam skala global.

Bahkan MUFG menduduki peringkat ke-3 pemberi pinjaman global terbesar untuk industri batubara selama dua tahun terakhir. MUFG juga menjadi bankir bahan bakar fosil terbesar ke-6 selama lima tahun terakhir, serta bankir terbesar ke-7 untuk industri minyak sawit selama empat tahun terakhir sejak Perjanjian Iklim Paris.

Juru Kampanye Keuangan Energi di Market Forces Megu Fukuzawa mengatakan, kegagalan MUFG beralih dari pendanaan bahan bakar fosil harus menjadi harus menjadi perhatian utama bagi pemegang saham, terutama karena pesaing globalnya semakin cepat bertransisi. “Berjanji hanya untuk mengurangi pembiayaan proyek pembangkit listrik tenaga batubara masih jauh dari cukup, mengingat semua pembangkit listrik tenaga batubara di seluruh dunia harus ditutup selambat-lambatnya pada tahun 2040. MUFG harus menunjukkan rencana pelibatan kliennya untuk mencapai hal tersebut,” tegas Megu.

Di bawah kebijakan MUFG yang ada saat ini, MUFG tidak akan mampu mencapai nol emisi pada tahun 2050, ini sangat penting untuk mencapai tujuan 1,5ºC. Jika MUFG benar-benar bermaksud untuk mencapai nol emisi, ia harus menghentikan semua pembiayaan untuk bahan bakar fosil dan deforestasi tanpa kecuali.

“Sebagai salah satu bankir Minyak Sawit Bermasalah terbesar di dunia, MUFG mendanai perusakan hutan hujan dan lahan gambut yang kaya karbon, dan tetap gagal mengungkapkan dampak iklim ini,” ujar Toyoyuki Kawakami, Perwakilan Rainforest Action Network di Jepang.

“Melalui resolusi ini, MUFG harus memetakan jalur yang sejalan untuk menekan kenaikan suhu global maksimum 1,5ºC yang mencakup menghentikan pendanaan lebih lanjut untuk deforestasi,” tambahnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, lembaga keuangan dan asuransi luar negeri secara progresif mundur dari pembiayaan energi batubara. Baru-baru ini HSBC yang berbasis di Inggris mengumumkan keputusan untuk menghentikan pembiayaan untuk pembangkit listrik tenaga batu bara dan pengembang terkait pada tahun 2040.

HSBC melaporkan kemajuan tentang pembuatan dan mengumumkan strategi barunya, termasuk strategi jangka pendek hingga menengah untuk semua sektor, untuk diumumkan pada rapat umum pemegang saham tahunan di bulan Mei. Bulan ini, Citigroup yang berbasis di Amerika Serikat menjadi bank besar AS pertama yang berkomitmen untuk membatasi pembiayaan perusahaan pengembang energi batubara dan menghentikan pembiayaan untuk hampir semua perusahaan tenaga batubara selama dua dekade mendatang.

“Menekan kenaikan suhu hingga 1,5ºC berarti berpacu dengan waktu, dan mengandalkan teknologi yang tidak ada saat ini, seperti menjadikan emisi negatif, ini sama saja dengan melepaskan tanggung jawab untuk generasi yang lebih muda dan masa depan,” kata Takayoshi Yokoyama, Perwakilan 350.org Jepang.

“MUFG harus mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan krisis iklim, sesuai dengan janji mereka di bawah Prinsip PBB untuk Perbankan yang Bertanggung Jawab,” tegasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *