Banteng Jawa: Terbukti Spesies Murni, Perlu Strategi Konservasi Baru

Banteng jawa di kawasan konservasi (dok. kementerian esdm)

Jakarta, Villagerspost.com – Banteng jawa (B. j. javanicus) yang terdapat di empat Taman Nasional di Pulau Jawa terbukti merupakan sub spesies tersendiri. Hewan ini diketahui masih memiliki genetik murni dan tidak terjadi hibrid berdasarkan pohon filogenetik. Banteng jawa merupakan sub spesies yang berbeda dengan banteng kalimantan dan masih terpisah secara genetik dengan sapi peliharaan.

Hal ini terungkap dari disertasi peneliti Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH/Biotifor) Maryatul Qiptiyah, S.Si., M.Sc., yang disampaikannya pada presentasi hasil studi karyasiswa S3 yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Sumber Daya Manusia Lingkungan Hidup dan Kehutanan (SDM LHK), Selasa (4/8) lalu.

Dijelaskan Maryatul, materi genetik yang digunakan pada penelitian ini berupa feses segar dan dianalisis DNA-nya di Laboratorium Genetika Molekuler Biotifor. Penanda DNA yang digunakan adalah penanda sekuensing DNA mitokondria (region d-loop dan cyt b) dan penanda mikrosatelit.

“Banteng (Bos javanicus d’Alton,1823) merupakan salah satu mamalia termasuk kategori terancam punah (endangered) dan berada pada populasi kecil. Upaya konservasi banteng Jawa tidak sebatas pada aspek ekologi dan demografi namun dilengkapi juga dengan aspek genetika,” tutur Maryatul, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (19/8).

Maryatul dalam kesempatan itu juga mengajukan draft policy brief konservasi genetik banteng jawa tersebut. Dia melakukan penelitian untuk disertasi berjudul “Konservasi Genetik Populasi Alam dan Penangkaran Semi In Situ Banteng Jawa (Bos javanicus javanicus) Berdasar Analisis DNA Noninvasif” tesebut di empat Taman Nasional, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Taman Nasional Baluran (TNB) dan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB).

Lokasi ini merupakan kawasan konservasi prioritas populasi alam banteng Jawa. Mengutip dari berbagai sumber, Maryatul menyampaikan bahwa upaya perlindungan banteng pada tingkat spesies, baik jumlah populasi maupun habitatnya masih perlu dikembangkan. Menurutnya, Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Banteng (Bos javanicus) Tahun 2010-2020 dalam Peraturan Menteri Kehutanan RI No. P. 58/Menhut-II/2011 bisa dijadikan acuan.

“Terkait dengan hal itu, pembaharuan informasi dan pengetahuan mengenai banteng masih diperlukan sebagai dasar dalam pengelolaan populasi dan habitat,” ujarnya.

Mengapresiasi hasil penelitian tersebut, Ir. Adi Susmianto, M.Sc., Widyaiswara pada Pusdiklat SDM LHK, selaku salah satu pembahas pada pertemuan ilmiah ini mengatakan, hasil penelitian ini sangat penting untuk penyusunan draft policy brief terkait strategi dan rencana aksi konservasi banteng Jawa. “Saya sarankan bahwa disertasi ini sangat kuat kontribusinya terhadap review strategi dan rencana aksi konservasi banteng,” ujar Adi.

Tentang draft policy brief yang disampaikan Maryatul, Adi setuju, karena telah memenuhi syarat kaidah-kaidah policy brief. Namun demikian, menurutnya masih perlu penajaman dan perlu sedikit perubahan sistematika. Selain itu, bahasa perlu disesuaikan untuk pengambil kebijakan, karena bahasa yang digunakan saat ini masih sangat kental nuansa akademisinya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *