Bantu Ekonomi Masyarakat, KKP Janji Tambah Bantuan Kolam Bioflok di Desa-Desa di NTT

Tebar benih lele dalam kolam bioflok oleh pihak KKP (dok. kementerian kelautan dan perikanan)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan bakal menambah jumlah bantuan kolam bioflok untuk masyarakat di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Hal tersebut dikatakan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo saat meninjau kolam bioflok nila di Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (29/8).

Bantuan juga akan diberikan ke desa lain agar pertumbuhan ekonomi merata. “Pengakuan kepala desa, 10 (kolam) bioflok ini sangat membantu masyarakat sehingga kita perlu tambah lagi. Apalagi ini baru satu desa, kita perlu perbanyak. Saya juga punya komitmen atas perintah bapak Presiden untuk membangun perikanan budidaya,” ujar Edhy.

Kolam-kolam bioflok di Desa Mata Air itu sendiri merupakan bantuan KKP akhir tahun lalu untuk mendorong peningkatan ekonomi masyarakat. Edhy meninjau kondisi kolam tersebut untuk memastikan, bahwa bantuan yang diberikan bukan sekadar menghabiskan anggaran, tapi ada manfaatnya buat masyarakat. “Ada nilai pertumbuhan, ada nilai penyerapan lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Ada 10 kolam bioflok di Desa Mata Air yang dikelola kelompok masyarakat di bawah bimbingan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) KKP. Sejak beroperasi November 2019, nila yang dihasilkan mencapai 1 ton dengan nilai jual Rp45.000 sampai Rp50.000 per kilogram.

Edhy mengaku gembira elihat hasil panen ikan nila yang siginifikan dan semangat masyarakat melakukan budidaya. Dalam kesempatan itu, Edhy juga mengenalkan pakan mandiri ke masyarakat Kupang, sehingga ongkos produksi bisa ditekan. Pakan yang dimaksud adalah maggot yang sudah banyak diproduksi di Pulau Jawa. Penggunaan maggot sekaligus bermanfaat mengurangi sampah organik di NTT.

Edhy juga turut menyerahkan sejumlah bantuan untuk membangun perikanan budidaya di NTT. Di antaranya 19 paket bioflok senilai Rp2,68 miliar dan 25 paket bibit rumput laut senilai Rp525 juta untuk kelompok masyarakat di Kabupaten Rote Ndao. Kemudian bantuan 400 ekor calon induk lele dan 52 ribu ekor benih ikan nila di Kabupaten Kupang. Bantuan lain meliputi pinjaman modal usaha dari LPMUKP dengan total nilai Rp650 juta untuk pelaku usaha dan pembudidaya rumput laut.

Sekretaris Kelompok Tunas Baru yang mengelola bioflok Wilhelmina Bangngu, mengamini ekonomi masyarakat terbantu sejak adanya bioflok. Bahkan masyarakat secara swadaya menambah lagi tiga kolam bioflok yang digunakan untuk budidaya lele dan bawal. “Kami sangat terbantu sekali. Dan ini memotivasi kami untuk terus berkembang, karena hasilnya kelihatan,” ujar Wilhelmina.

Dia berharap KKP membantu pemasaran hasil panen agar produksi bisa ditingkatkan. Sejauh ini, ikan nila mereka kebanyakan diserap oleh warga kecamatan.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *