Bawang Merah, Primadona Baru Petani Penggarap Desa Anjatan Baru

Petani bawang di Anjatan Baru, Indramayu sedang melakukan penyemprotan pada lahan bawang untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman (villagerspost.com/rini wahyuni)

Indramayu, Villagerspost.com – Kawasan Kabupaten Indramayu, memang kadung terkenal sebagai lumbung beras nasional. Nyaris seluruh desa di kabupaten tersebut, petaninya membudidayakan tanaman padi. Demikian pula halnya dengan para petani di Desa Anjatan Baru yang menjadikan padi sebagai komoditas tanam utama.

Sayangnya, budidaya padi ini masih belum memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Desa Anjatan Baru. Apa sebabnya? Kepala Desa Anjatan Baru H. Rodi mengatakan, hal itu terjadi karena umumnya kepala keluarga petani di desanya bukanlah petani pemilik lahan, melainkan hanya petani penggarap atau buruh tani.

“Mayoritas penduduk Anjatan Baru bekerja sebagai petani, tapi hanya sebagai buruh, mereka menggarap sawah sewaan atau sawah milik kerabat mereka. Keuntungan yang didapatkan pun merupakan kesepakatan bagi hasil antar pihak yang bersangkutan. Sehingga untuk tingkat kesejahteraan masyarakat yang hanya sebagai buruh tani masih di bawah rata-rata, yang kaya makin kaya, yang miskin ya gitu-gitu aja,” ujar Kuwu Rodi saat ditemui Villagerspost.com, belum lama ini.

Tak hanya status rata-rata penduduk yang hanya menjadi petani penggarap, beberapa masalah lain juga menambah parah persoalan yang dihadapi petani padi di Anjatan Baru. Satunya adalah seringnya terjadi serangan hama terhadap tanaman padi.

Hasan, Ketua Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Anjatan mengungkapkan, saat ini ada tiga masalah pokok yang dihadapi oleh para petani di desa Anjatan Baru. Pertama, adalah hama wereng yang selalu menyerang pertanaman padi. Kedua, ketersediaan air yang terbatas di musim kemarau. Ketiga, pola pikir petani yang memiliki kebiasaan menunda waktu tanam, sehingga mengakibatkan petani kehilangan jatah air irigasi.

“Berbagai cara dilakukan petani untuk mengatasi permasalahan tersebut, mulai dari pengguanaan pestisida, penggunaan varietas unggul, penggunaan pupuk organik, dan lain sebagainya, namun hasilnya belum maksimal,” ujar Hasan.

Hamparan lahan pertanian bawang merah desa Anjatan Baru, Indramayu (villagerspost.com/rini wahyuni)

Banyaknya masalah dalam budidaya padi, membuat beberapa petani penggarap dan buruh tani di Anjatan Baru mulai berpaling mencari komoditas lain yang bisa lebih menguntungkan. Maka mereka pun sebagian mulai melirik untuk membudidayakan komoditas bawang merah.

Petani seperti Musoni, Daspan, dan Ahmad yang ditemui Villagerspost.com, adalah petani padi yang mulai beralih ke bawang merah. Mereka memilih menanam bawang merah di lahan seluas 1 hektare, walaupun lahan yang mereka garap bukan milik mereka. Lahan yang mereka tanami bawang merah adalah milik seorang pemilik lahan bernama Sulaiman.

Musoni bercerita, alasan mereka memilih menanam bawang merah adalah karena keuntungan yang dihasilkan lebih besar jika dibadingkan dengan menanam padi, meski diakui Musoni, modal yang dikeluarkan untuk menanam bawang merah juga lebih besar dibandingkan dengan menanam padi.

“Modal yang dikeluarkan untuk menanam bawang merah dalam satu hektare kurang lebih mencapai 50 juta rupiah, untungnya kalau lagi mujur dalam satu hektare bisa mencapai 100 juta rupiah,” ujarnya.

Musoni mengatakan pemeliharaan untuk menanam bawang merah lebih sulit jika dibandingkan dengan menenam padi. “Bawang merah harus benar-benar dirawat dari mulai tanam, kemudian untuk pemupukan dapat dilakukan sebanyak tiga kali dalam sekali tanam. Namun, hal ini tergantung cuaca, kalau tanamannya sudah subur jangan sampai lebih dari tiga kali pemupukan, jika lebih dari tiga kali bisa merusak tanaman,” ujarnya.

Meski begitu, saat musim kemarau seperti ini, bertanam bawang merah terhitung lebih mudah karena untuk kebutuhan air, bawang merah lebih sedikit membutuhkan air jika dibandingkan dengan menanam padi. “Bawang merah disiram hanya sekali, pagi atau sore hari. Terus kalau musim kemarau hasilnya lebih bagus, karena kalau musim hujan banyak umbinya yang busuk karena cendawan,” ujar Musoni.

Daspan, rekan Musoni mengatakan, saat ini untuk pemasaran, bawang merah yang sudah dipanen dan sudah kering langsung dipasarkan ke pasar induk Jakarta. “Bawang merah yang sudah dipanen, terus dikeringkan dan dipilah, baru nanti di pasarkan kepasar induk di Jakarta,” ujarnya.

Selain menanam bawang merah, Musoni, Daspan, dan Ahmad juga menanam bawang sumenep. Bawang sumenep memiliki waktu tanam lebih lama jika dibandingkan dengan bawang merah. Namun, harga jual bawang Sumenep juga lebih mahal dari bawang merah.

“Menanam bawang merah dalam satu tahun bisa sampai tiga kali tanam, kalau bawang Sumenep hanya satu kali tanam dalam setahun,” ujar Daspan.

Meski menjanjikan keuntungan yang besar, Daspan mengatakan, untuk saat ini memang masih belum banyak yang berani beralih dari padi ke bawang merah. Daspan mengaku memaklumi lantaran tantangan dalam membudidayakan bawang merah memang berat karena besarnya modal dan sulitnya perawatan.

Dia bercerita, ada beberapa petani yang mencoba bertanam bawang, namun gagall panen, dan akhirnya kembali bertanam padi. “Kalau petani bawang di desa Anjatan Baru masih sedikit, soalnya walaupun hasilnya besar, tapi perwatannya sulit dan modalnya juga besar. Sehingga banyak petani bawang yang kalau gagal panen, untuk musim tanam selanjutnya kembali menanam padi,” ungkap Daspan.

Laporan: Rini Wahyuni Mahasiswi Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Institut Pertanian Bogor, di Kabupaten Indramayu

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *