Bebas Bea Masuk, RI Bakal Genjot Ekspor Rp80 Triliun | Villagerspost.com

Bebas Bea Masuk, RI Bakal Genjot Ekspor Rp80 Triliun

Ikan hasil tangkapan nelayan Indonesia. Pemerintah targetkan ekspor perikanan mencapai Rp80 triliun (dok. puskita.kkp.go.id)

Ikan hasil tangkapan nelayan Indonesia. Pemerintah targetkan ekspor perikanan mencapai Rp80 triliun (dok. puskita.kkp.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Kebijakan pembebasan bea masuk impor lewat skema Generalized System of Preference (GSP) atas produk perikanan Indonesia yang diberikan pemerintah Amerika Serikat, akan benar-benar dimanfaatkan oleh RI. Dengan adanya pembebasan bea ini, maka produk ikan Indonesia di pasar AS akan semakin kompetitif. Karena itu, pemerintah menargetkan untuk meningkatkan ekspor ikan sebesar 20 persen ke AS.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, AS merupakan negara tujuan ekspor perikanan utama Indonesia. Tahun lalu nilainya mencapai US$1,8 miliar. Sementara, tahun ini KKP menargetkan ekspor ke AS sebesar US$2,4 miliar.

“Naik 20 persen dari nilai ekspor itu akan sangat besar. Pasti ada peningkatan pendapatan 14-24 persen dari penghapusan (bea masuk) itu ke pendapatan nelayan tangkap dan pengusaha. Dengan pelonggaran ekspor ikan ke AS, KKP optimis target ekspor tahun 2015 sebesar Rp80 triliun tercapai,” ujar Susi seperti dikutip kkp.go.id, Sabtu (1/8).

GSP merupakan skema khusus dari negara-negara maju yang menawarkan perlakuan istimewa non-timbal baik seperti tarif rendah atau nol kepada impor produk yang berasal dari negara-negara berkembang. Indonesia termasuk yang mendapatkan persetujuan Presiden Barrack Obama untuk mendapatkan fasilitas GSP dari Amerika.

“Ikan asal Indonesia bisa masuk ke Amerika tanpa kena bea masuk,” kata Susi.

Selain AS, Susi juga akan menggenjot lobi kepada Uni Eropa agar bisa memberikan kemudahan serupa sebagaimana yang diberikan Amerika Serikat. Saat ini bea masuk produk ikan Indonesia ke Uni Eropa mencapai sebesar 15-21 persen. Bea masuk yang tinggi ini membuat produk ikan Indonesia kalah bersaing dengan produk negara lain.

“Yang lain kita harapkan Eropa secepatnya, dan saya lihat di luar negeri tren seafood dengan traceability (pengusutan asal barang) itu kan sekarang sudah mulai ketat ya,” kata Susi

Saat ini, menurut Susi, sumber-sumber ikan legal memang menjadi incaran para konsumen sehingga Indonesia yang menerapkan aturan ketat terkait pemberantasan illegal, unreported, unregulated fishing justru diuntungkan dengan situasi ini.

Selain itu, aturan ketat yang diterapkan Indonesia, kata Susi, justru mengundang banyak investor untuk masuk ke sektor perikanan di Indonesia. hanya saja, kata Susi, saat ini asing dibatasi hanya boleh memiliki 5% saham perusahaan pengolahan perikanan di Indonesia.

“Undang-Undang pengolahan mestinya bisa diubah, jadi asing bisa lebih dari 5%. Karena kalau nggak orang nggak mau kan investasi. Kegiatan tangkap khusus orang Indonesia,” kata Susi.

Sementara itu, guna memenuhi target ekspor Rp80 triliun tadi, pihak KKP juga menargetkan produksi ikan tangkap tahun 2015 ini mencapai 6,3 juta ton. Hanya saja jumlah itu akan tergantung dengan perhitungan stok ikan nasional.

“Penangkapan tidak seperti budidaya, kita dibatasi hasil perhitungan stok ikan, sehingga tidak terlalu tinggi,” kata Sekretaris Dirjen Perikanan Tangkap Moh Abduh Nurhidayat, Jumat (31//7) kemarin.

Target produksi ikan tangkap, lanjut Abduh, juga mempertimbangan moratorium atau penghentian sementara perizinan usaha penangkapan ikan yang masih berjalan danĀ  masih dalam tahap analisis dan evaluasi. “Setelah itu (moratorium) akanĀ  muncul kebijakan yang intinya investasi penangkapan ikan untuk kemakmuran negeri,” tegasnya.

Abduh menambahkan, untuk mendukung hal itu kementrian kelautan di bawah kepemimpinan menteri Susi juga tidak ingin ada pihak asing dalam pengelolaan laut. Sehingga investasi asing di sektor hulu tidak diperbolehkan. “Bolehnya di hilir untuk penyerapan tenaga kerja dan sebagainya, di hulu tidak boleh ada investasi asing, semua ini untuk negeri kita,” tegasnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *