Bebas WFD, Petambak Dipasena Panen 2,4 Ton Udang Per Petak

Hasil panen petambak Dipasena (dok. p3uw lampung)
Hasil panen petambak Dipasena (dok. p3uw lampung)

Jakarta, Villagerspost.com – Empat bulan terakhir produksi udang di Bumi Dipasena, Kecamatan Rawajitu Timur Kabupaten Tulang Bawang Provinsi Lampung, mulai bangkit setelah sempat menurun produksinya pada musim kemarau akibat fenomena el nino pada tahun 2015 lalu. Siang ini, Rabu (13/4) puluhan petambak dipasena turut menghadiri panen budidaya percontohan yang dilaksanakan di Kampung Bumi Dipasena Mulya.

Budidaya percontohan ini merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Kelautan Perikanan, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW) Lampung dan Kemitraan Bumi Dipa. Kerjasama tersebut telah membuktikan bahwa tambak-tambak udang di wilayah Bumi Dipasena masih sangat produktif.

Perekayasa Teknologi Budidaya Udang BBPBAP Jepara Supito mengatakan, tambak udang di Bumi Dipasena Lampung  masih sangat potensial dan menjanjikan. Buktinya, dari dua petak tambak yang dijadikan percontohan, dengan jumlah penebaran benih 320.000 ekor udang vannamei, total hasil yang dicapai sebesar 4,6 ton dengan size 50 ekor/kilogram.

(Baca juga: Peringati Tragedi Maret, Petambak Dipasena Gelar Bakti Sosial)

“Proses produksi yang memakan waktu 100 hari ini terlewati dengan baik karena sepanjang masa budidaya udang tidak mengalami kendala penyakit seperti white feses desease (WFD), infectious myo necrosis virus (IMNV) atau sejenisnya yang selama ini menjadi masalah di kalangan petambak udang di Indonesia,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (13/4).

Menurut Supito, petambak hanya memerlukan bimbingan teknis dan pelatihan teknologi budidaya terkini sehingga hasil usaha budidaya yang dijalankan bisa lebih maksimal. “Secara teknis dengan penerapan tehnologi budidaya udang yang inovatif, kawasan tambak eks Dipasena dapat berproduksi secara maksimal, ke depan petambak membutuhkan pengawalan dan pendampingan tehnis budidaya agar produksi seperti ini bisa terus berkelanjutan,” jelas Supito.

Kondisi pertambakan Bumi Dipasena saat ini dikelola secara mandiri oleh masyarakat dengan pola usaha bagi hasil dan gotong royong yang berbasis ekonomi kerakyatan. Pola usaha yang dirintis oleh Manajemen Kemitraan Bumi Dipa dan P3UW Lampung ini bertujuan untuk memperbaiki pola usaha kerjasama agar peningkatan hasil produksi dapat berjalan sejajar dengan kesejahteraan masyarakat.

Direktur Budidaya Kemitraan Bumi Dipa Towilun mengatakan, saat ini seluruh intansi yang ada di Bumi Dipasena sedang berusaha keras untuk mendampingi masyarakat menjalankan pola usaha bagi hasil yang menguntungkan, adil dan transparan. Pelaksanaan sistem bagi hasil ini dilakukan pada cluster-cluster yang sudah terbentuk di masyarakat.

Menurut Towilun, selain lebih menguntungkan dan transparan dari sisi usaha, pelaksanaan sistem di kelompok-kelompok masyarakat ini melahirkan kontrol sosial dan semangat persatuan serta gotong royong yang lebih kuat.

“Kerja sama seperti ini kami harap dapat terus berkelanjutan, dengan teknologi dan inovasi yang dimiliki oleh pemerintah kami yakin produksi udang nasional akan terus membaik, kami pun berharap pemerintah dapat juga turut terlibat dalam pelaksanaan pola usaha bagi hasil yang sedang kami jalankan karena terbukti lebih baik dari pola inti-plasma yang dulu pernah kami jalankan,” terang Towilun.

Tambak Udang di Bumi Dipasena pernah menjadi kawasan tambak udang terbesar di Asia Tenggara. Namun rumitnya persoalan yang muncul dan terjadi karena buruknya manajemen pelaksanaan kemitraan inti plasma membuat kawasan di pesisir timur Provinsi Lampung ini sulit berproduksi dengan maksimal. (*)

Ikuti informasi terkait petambak Dipasena >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.