Bebekisasi: Cara Desa Lempuyang Berdayakan Ekonomi Sekaligus Membasmi Hama Padi | Villagerspost.com

Bebekisasi: Cara Desa Lempuyang Berdayakan Ekonomi Sekaligus Membasmi Hama Padi

Ilustrasi peternakan bebek (dok. cybex ipb)

Indramayu, Villagerspost.com – Sebagaimana umumnya desa di Indramayu, Desa Lempuyang, Kecamatan Anjatan, Indramayu, adalah kawasan perdesaan dengan lahan persawahan yang luas. Hanya saja, pertanian padi semata ternyata tak banyak mendongkrak kesejahteraan masyarakat. Alhasil, Taufik Hidayat, Kepala Desa atau Kuwu Lempunyang pun harus putar otak untuk mencari sumber ekonomi lain untuk mendongkrak perekonomian warga.

Tetapi potensi ekonomi apa yang bisa dikembangkan selain bertanam padi? “Tidak seperti desa lainnya, desa kami tidak memiliki sumber daya alam yang menarik untuk wisatawan, maka kami harus bisa mengeksplor kemampuan sumber daya manusia yang kami punya,” kata Taufik, saat ditemui awal Agustus lalu.

Mendongkrak kemampuan SDM memang jadi pilihan dengan harapan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat Lempuyang. Caranya dengan melatih mereka untuk beternak itik alias bebek, dengan cara dilepaskan di sawah. Maka jadilah Taufik mengembangkan program “bebekisasi” di lahan sawah untuk memberdayakan ekonomi masyarakat.

Kenapa harus di angon di sawah? “Bebekisasi merupakan istilah dari pemanfaatan bebek untuk mengurangi serangan hama keong sawah di desa ini,” terang Taufik.

Karena sebagian besar lahan Desa Lempuyang merupakan lahan persawahan, keong, khususnya keong mas adalah salah satu hama yang dapat menyebabkan kerugian besar pada hasil panen petani. Di sisi lain, keong sawah ini sebenarnya adalah sumber protein yang baik jika diolah menjadi pakan ternak, khususnya unggas seperti bebek.

Nah, dengan mengangon bebek di sawah, Taufik berharap, bebek-bebek ini memakan keong sehingga dapat mengurangi hama di lahan sawah petani. Karena itu, bebekisasi pun masuk ke dalam program pemerintah Desa Lempuyang yang didanai dari dana desa untuk bidang pemberdayaan masyarakat, yang hakikatnya untuk menyejahterakan masyarakat.

Program bebekisasi ini, kata Taufik, baru berjalan setahun dan sudah menunjukkan perkembangan yang baik. Masyarakat Desa Lempuyang memiliki antusiasme yang tinggi pada program ini, dilihat dari meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pamong desa dan meningkatnya jumlah kepala keluarga yang menjalankan program bebekisasi.

Program bebekisasi dimulai dengan pembagian tujuh ekor bebek yang siap bertelur secara gratis kepada setiap kepala keluarga (KK). Menurut Taufik, jumlah 7 ekor bebek ini adalah jumlah yang proporsional untuk diberikan pada setiap KK sehingga kegiatan yang lain masih tetap bisa berjalan.

“Masyarakat sini menyebutnya dengan kletekan, sembari santai tapi ada penghasilan,” ujarnya. Bebek yang diberikan adalah bebek asli Indramayu yang sudah dapat bertelur sekitar sepuluh hari sampai satu bulan.

Program bebekisasi ini tidak dijalankan dalam bentuk kelompok terlebih dulu akan tetapi secara individu. Jika program ini sudah berkembang barulah akan digabungkan menjadi kelompok usaha rumahan yang dapat memberdayakan kemampuan masyarakat Desa Lempuyang.

“Hal ini agar lebih efektif dari pada membentuk kelompok terlebih dulu, karena biasanya suatu kelompok akan kompak di awal, tidak kompak di tengah dan bubar di akhir,” ujar Taufik.

Pada periode pertama program dijalankan, setiap RT hanya dipilih 2 KK untuk melaksanakan program bebeknisasi ini. Di Desa Lempuyang sendiri terdapat 17 RT, sehingga ada 34 KK yang telah menjalankan program ini ditambah dengan 6 KK lain yang mengajukan sendiri untuk mengikuti program bebeknisasi.

“Untuk indikator pemilihan sendiri, pertama kami melihat dari sisi kemauan, yang kedua dari keaktifan mereka pada program pemerintah lainnya seperti gotong royong, atau bisa dikatakan KK yang memiliki jiwa sosial yang sangat peka,” ujar Taufik.

Salah satu perkembangan program bebekisasi berdasarkan telur yang dihasilkan jika dikalkulasikan dalam satu hari rata-rata 5 butir/KK dan untuk total semua penerima program ini ada 40 KK sehingga dalam sehari menghasilkan 200 butir telur. Dalam satu bulan, program ini dapat menghasilkan telur yang cukup besar yaitu 6000 butir.

Tidak mudah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Lempuyang untuk ikut terlibat dalam program bebekisasi ini. Taufik harus mendapatkan kepercayaan yang penuh dari masyarakat agar program ini terus berkembang dan menjadi usaha rumahan yang dapat memberikan penghasilan tambahan untuk warga Desa Lempuyang.

“Program bebekisasi ini menjadi salah satu program yang diharapakan mampu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara perlahan, meningkatkan kemauan masyarakat di bidang usaha dan diharapkan juga akan memberikan efek pada bidang yang lain,” pungkas Taufik.

Laporan: Sabhana Azmy dan Andry Julian Saud Berutu, mahasiswa program KKNT Departemen Proteksi Tanaman IPB, di Indramayu.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *