Bencana Banjir dan Longsor Meningkat, Perbaikan DAS Kritis Mendesak | Villagerspost.com

Bencana Banjir dan Longsor Meningkat, Perbaikan DAS Kritis Mendesak

Banjir melanda hamparan perkebunan bawang merah, di Brebes, Jawa Tengah (villagerspost.com/suharjo)

Jakarta, Villagerspost.com – Bencana banjir dan tanah longsong, akhir-akhir ini semakin sering melanda Indonesia. Direktur Pengelolaan dan Penyediaan Informasi Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Dra. Siti Meiningsih M.Sc mengatakan, kerapnya terjadi bencana hidrometeorologi ini, menandakan, Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia sudah banyak yang kritis. “Jumlahnya tiap tahun juga meningkat,” kata Siti, pada Forum Tematik Bakohumas, di Ruang Rimbawan I Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Senin (12/11).

Forum tematik Bakohumas yang mengangkat tema “Pemulihan Daerah Alisan Sungai” itu dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kementerian LH Bambang Hendroyono, Humas Kementerian LHK Ir. Djati Widjaksono Hadi, dan Dirjen Pengendalian DAS Kementerian LHK Ida Bagus Putra Prathama.

Dalam kesempatan itu, Siti mengungkapkan, berdasarkan data dari Kementerian LHK 2018 dari total 17 ribu DAS yang ada di Indonesia sebanyak 2.145 di antaranya harus dipulihkan. Dari jumlah itu, 108 DAS termasuk dalam posisi kritis. Dalam RPJM 2015- 2019, lanjut Siti, pemerintah memprioritaskan memulihkan 15 DAS dari 108 DAS kritis tersebut.

Ke-15 DAS yang diprioritaskan itu adalah DAS Citarum, Ciliwung, Cisadane, Serayu, Bengawan Solo, Brantas, Asahan Toba, Siak, Musi, Waisekampu, Waiseputi, Moyo, Kapuas, Jenebberang, dan Sapdana. “Litbang Kementerian LHK menyadari kompleksnya dampak dari dehidrasi lahan ini dan luas lahan kritis di indonesia yang diperkirakan 24,3 juta hektare,” jelas Siti.

Ia menegaskan, pemerintah perlu memulihkan DAS sejalan dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2012 tentang Pengelolaan DAS. “Pemulihan DAS tidak hanya membangun infrastruktur tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam mengelola DAS,” tegas Siti.

Terkait kerusakan DAS yang mengakibatkan bencana alam ini, Siti Meiningsih menjelaskan, kerugian ekonomi akibat erosi di Pulau Jawa saja, sejak tahun 2005 lalu telah mencapai sebesar 400 juta dollar AS per tahun.

Meskipun total kuantitas air seluruh pulau di Indonesia terjadi surplus sebersar 449,05 juta meter, sebagaimana disampaikan Bappenas 2015, namun untuk Jawa dan Bali terjadi defisit sebesar 100 miliar meter dan di Nusa Tenggara mengalami defisit sebesar 2,3 miliar meter. ‘Hal ini menyebabkan jumlah orang yang berisiko berdampak bencana hidrometeorologi akan meningkat dari 1,2 miliar saat ini ke 1,6 miliar pada tahun 2050,” ungkap Siti.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *