Beras Organik Indonesia Diminati Pasar Ekspor | Villagerspost.com

Beras Organik Indonesia Diminati Pasar Ekspor

Melaksanakan pertanian organik, jerami menjadi elemen penting bagi petani untuk dikembalikan ke sawah untuk menyuburkan tanah dan menangkal serangan hama ( villagerspost.com/wahyu ridwan nanta)

Jakarta, Villagerspost.com – Beras organik Indonesia semakin diminati pasar ekspor, seperti Jepang, Hongkong, Jerman, US, Perancis, Malaysia dan Singapura. Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi mengatakan, ekspor beras organik ini memiliki segmen pasar tertentu. Namun demikian, jelas harga beras organik jauh lebih mahal dibandingkan beras premium.

“Beras organik yang diekspor berupa beras organik putih, beras hitam, beras merah, dan beras coklat. Beras tersebut diminati kalangan masyarakat tertentu karena beberapa alasan antara lain tidak menggunakan bahan kimia, non GMO, cita rasa yang khas dan untuk bahan baku jenis makanan tertentu,” jelas Suwandi, saat melakukan kunjungan kerja meninjau lahan padi di Kecamatan Telang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Jumat (2/8).

Suwandi memaparkan, volume ekspor beras organik dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Ekspor tahun tercatat 2016 tercatat hanya mencapai 81 ton, namun pada tahun 2018 Kementan telah menerbitkan rekomendasi ekspor 143 ton beras organik. Kemudian, sampai dengan bulan Juni 2019 sudah 252 ton beras organik yang telah direkomendasikan untuk menembus pangsa pasar luar negeri. “Kami optimis diperkirakan akan terus bertambah sampai dengan akhir tahun ini,” tegas Suwandi.

Berangkat dari membaiknya kinerja ekspor ini, Suwandi menegaskan peningkatan produksi padi menunjukkan bukan hanya bertujuan untuk konsumsi dalam negeri. Namun juga ke depan diarahkan pada pengembangan beras berkualitas ekspor untuk segmen pasar khusus. “Terutama beras organik dan beras tertentu yang diminati oleh konsumen mancanegara,” tegasnya.

Suwandi menyebutkan sentra padi organik saat ini masih spot-spot kecil dan belum di hamparan luas. Sentra padi organik terutama di wilayah Sumbar, Jabar, Jatim dan Sultra dengan luas sekitar 215 hektar. “Kebanyakan mereka menggunakan varietas seperti Ciherang, Inpari, Sintanur, dan selebihnya varietas lokal,” sebutnya.

Adapun produktivitas rata-rata padi organik di lahan sawah tadah hujan sebesar 5 ton gabah kering panen (GKP) per hektar. Bahkan untuk sentra yang sudah lama berkecimpung di pertanian organik lebih dari 5 tahun seperti di Tasikmalaya bisa mencapai 7 ton gabah kering panen per hektar.

Terkait dukungan pemerintah, Suwandi mengatakan tentunya berperan penuh guna mendorong semakin meningkatnya volume ekspor komoditas pertanian. Salah satunya Kementan telah melakukan untuk meningkatkan ekspor beras kita diantaranya melalui bantuan sertifikasi beras organik.

“Bantuan alat juga pernah diberikan untuk eksportir beras organik seperti dari Tasikmalaya. Saat itu kami berikan bantuan berupa color sorter, destoner, RMU, packing grading untuk membantu memperluas pangsa pasarnya karena disana sudah skala luas,” katanya.

Selain dari sisi pascapanen, sambung Suwandi, dari sisi hulu pun Kementan memberikan bantuan budidayanya seperti halnya bantuan sarana peningkatan poduksi 1.000 desa organik. Kementan pun memberikan bantuan berupa sertifikasi organik sejak tahun 2015.

“Ke depannya kita optimis beras organik tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga mampu mengisi pasar dunia,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *