Berharap Kembalinya “Rahmat” ke Kebun Tomat

Harga jatuh, petani memanen tomat hingga sedikit matang menunggu harga membaik (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Harga jatuh, petani memanen tomat hingga sedikit matang menunggu harga membaik (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Pemilik kebun memeriksa tomat di kebun (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Pemilik kebun memeriksa tomat di kebun (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Pegawai memanen tomat dan siap dikemas dalam karung (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Pegawai memanen tomat dan siap dikemas dalam karung (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Tomat hasil panen (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Tomat hasil panen (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Budi Kusmawan di kebun sayuran miliknya. Dia melakukan sistem tumpang sari agar tak merugi ketika harga tomat jatuh (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)
Budi Kusmawan di kebun sayuran miliknya. Dia melakukan sistem tumpang sari agar tak merugi ketika harga tomat jatuh (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Bandung, Villagerspost.com – Musim panen tomat tahun ini kurang begitu menggembirakan bagi para petani tomat di daerah Cileutik, Desa Sukamanah, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Pasalnya, harga tomat kini sedang terjun bebas ke angka Rp1200 per kilogram di tingkat petani.

Wajar jika Budi Kusmawan, seorang petani hortikultura di Sukamanah, agak pesimis dengan hasil panennya kali ini. Saking jatuhnya harga tomat, petani bahkan memanen tomat agak terlambat, menunggu hingga warnanya memerah, berharap sembari menunggu harga akan beranjak naik.

“Sekarang ini harga tomat sedang murah, makanya panen pun hingga tomat warnanya merah begini,” katanya kepada Villagerspost.com, sambil menunjuk pada tomat yang sudah dipanen oleh para pegawainya.

Tetapi apa daya, “rahmat” yang diharapkan bisa didapat dari kebun tomat tak kunjung datang. Harga tomat malah semakin terpuruk. “Sekarang malah di angka Rp1000 per kilogram, ya kalau produksi per pohon sekitar 3 kilogram dengan harga segitu pasti akan sangat rugi,” keluh Budi.

Jatuhnya harga tomat sepanjang tahun ini, tidak hanya menjadi keluhan para petani tomat di Pangalengan, pasalnya harga tomat secara nasional pun sedang anjlok. “Di Sulawesi pun jatuh, hanya Rp1500 per kilogram,” kata Budi.

Padahal biasanya pada bulan Januari, petani tomat bisa menikmati harga yang cukup tinggi. Tomat hasil panen Budi dan petani Pangalengan sendiri biasanya laris dipasarkan ke Jakarta, Riau dan Pontianak. “Dua tahun lalu harganya bisa mencapai Rp12.000 per kilogram,” katanya.

Dia berharap pemerintah mengambil langkah serius menyelamatkan harga komoditas tomat. “Pemerintah seperti tidak memperhatikan dari sisi harga terhadap petani hortikultura,” keluhnya.

Beruntung, Budi dan petani Pangalengan lainnya melakukan sistem budidaya tumpang sari sehingga bisa memanen komoditas lain. Dalam satu hamparan kebunnya bukan saja hanya ditanami tomat, ada juga cabai, bawang daun dan sawi putih sebagai tanaman tumpang sarinya.

Biasanya jika melakukan sistem tumpang sari ada banyak keuntungan yang diraih. “Jika sudah habis panen tomat lanjut ke panen cabai, andaikan tomat murah siapa tahu nanti saat panen cabai kebagian harga jual yang lumayan bagus,” pungkas Budi.

Laporan: Rahmat Adinata, Petani Organik, Anggota Gerakan Petani Nusantara

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *