Bersyukur Ada Impor, Darmin Bilang Harga Jagung Tak Melonjak

Jagung untuk bahan baku pakan ternak. (dok. kemendagri.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengaku, bersyukur dengan adanya keputusan impor jagung. Pasalnya, dengan impor jagung harga tidak melonjak tinggi. Jika tidak ada impor jagung, Darmin mengatakan, harga jagung bisa melonjak hingga Rp8000 per kilogram dari harga normal Rp3000 per kilogram.

“Syukur ada impor. Ini kalau nggak harganya bisa Rp 8.000 (per kg). Asal kamu tahu, masyarakat kita proteinnya yang paling banyak makan apa?” kata Darmin, di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (22/1).

Darmin menjelaskan, jagung merupakan komoditas yang penting dan dapat mempengaruhi harga telur dan daging ayam. Sebab, jagung sendiri merupakan bahan baku utama pakan ternak. Lebih lanjut, ia menjelaskan melonjaknya harga telur ayam dan daging karena peternak kecil tak memiliki banyak simpanan jagung, sebagai bahan baku pakan ternaknya.

“Telur sama ayam dan itu penyebab (harga naik) dari makanannya. Kamu pernah pergi ke Blitar? Itu peternak kecil-kecil dia nggak punya gudang untuk nyimpan jagung. Dia nggak punya stok. Kalau harga naik, kena dia,” tegasnya.

Sebelumnya pemerintah memutuskan untuk melakukan impor jagung untuk kebutuhan pakan ternak sebanyak 130 ribu ton. Impor pertama dilakukan pada akhir tahun 2018 sebanyak 100 ribu ton dan kemudian awal 2019 dilakukan impor sebanyak 30 ribu ton.

Meski sudah dilakukan impor sebanyak dua kali, harga jagung untuk peternak memang belum normal. Harga di pasaran saat ini masih di atas Rp6000 per kilogram. Para pedagang mengaku masih kesulitan mendapatkan jagung di pasaran. Kalangan pedagang menyebut, sulit diperolehnya jagung disebabkan Perum Bulog menjual jagung tak hanya ke peternak melainkan juga ke pihak lain.

Menanggapi tudingan ini, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso membantah adanya penjualan jagung impor kepada pihak lain selain peternak mandiri. Buwas menjelaskan, impor di akhir 2018 sebanyak 100 ribu ton dilakukan berdasarkan perhitungan kebutuhan.

Begitu masuk ke Indonesia, jagung akan langsung dijual sesuai dengan catatan peternak yang membutuhkan. “Kita nggak pernah menjual untuk keseluruhan (kepada selain peternak mandiri). Kita kan diputus di rakortas berdasarkan data kebutuhan 100 ribu ton, ya sudah kita impor dengan jumlah yang diizinkan,” kata Buwas saat melakukan rapat kerja dengan Komisi I di DPR, Senayan, Jakarta, Senin (21/1).

Buwas menilai, masih langkanya jagung lebih mungkin karena ada penyalahgunaan pembelian jagung impor, sehingga menyebabkan pasokan di lapangan habis terjual. “Sudah kita impor dan distribusi habis kalau ada yang jual berarti penyalahgunaan. Bisa jadi ada kelompok petani yang jual,” jelasnya.

Buwas meminta agar para peternak mampu bersama-sama mengawasi transaksi tersebut, dengan begitu, tidak ada yang dirugikan. “Ya bisa kita kan artinya diawasi, peternak juga awasi dong jagung impor di lapangan gimana. Kan juga ada satgas pangan,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Amran Sulaiman justru mewacanakan untuk mengekspor jagung ke Filipina. Amran mengatakan ekspor jagung akan dilaksanakan dalam waktu dua bulan ke depan atau bertepatan dengan panen raya dan ketika harga jagung sudah berada di angka Rp3.000 per kg.

“Kita mau ekspor, fokusnya ke Filipina. Ini nanti pas panen raya Maret-April. Tapi dipastikan dulu harga dalam negeri turun di bawah Rp 3.000 per kg,” ujar Amran.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *