Bertahan di Tengah Pandemi, Mendag Minta Industri Nasional Contoh Industri Jamu | Villagerspost.com

Bertahan di Tengah Pandemi, Mendag Minta Industri Nasional Contoh Industri Jamu

Ilustrasi rempah-rempah bahan jamu tradisional (pixabay)

Jakarta, Villagerspost.com – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto meminta industri dalam negeri agar mencontoh kejelian industri jamu dalam melihat peluang ekspor di tengah pandemi. Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan mengapresiasi inisiatif Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) yang melihat peluang jamu di masa pandemi sebagai produk herbal asli Indonesia untuk diekspor ke mancanegara.

“Peran GP Jamu itu akan membantu gerak ekonomi dan perdagangan Indonesia dan di saat yang bersamaan menjaga masyarakat tetap sehat melalui konsumsi jamu,” kata Agus, dalam sambutannya membuka webinar bertajuk ‘Jamu Modern untuk Pasar Indonesia, Asia, Afrika, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Serikat’, Selasa (15/9) yang digelar oleh GP Jamu.

Meski demikian, Agus Suparmanto juga menyerukan kepada industri jamu untuk selalu meningkatkan daya saing produk-produk jamu dan mendukung keberadaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) jamu. Strategi ini krusial untuk mengembangkan produk-produk jamu bagi pasar luar negeri.

Apalagi, pandemi Covid-19 turut mengubah perilaku konsumen menjadi lebih sadar kesehatan. “Kita dapat mengubah momentum krisis ini menjadi lompatan kesempatan. Jamu adalah salah satu keunggulan lokal yang memiliki potensi besar di pasar domestik dan luar negeri,” jelasnya.

Apalagi, kata dia, disrupsi yang terjadi selama pandemi Covid-19 ini telah menggeser perilaku dan pola konsumsi masyarakat dunia ke arah yang semakin sadar kesehatan. “Dengan demikian, potensi jamu di masa depan bisa lebih menjulang,” kata Mendag.

Dari sisi peningkatan akses pasar, baik pasar ekspor maupun dalam negeri, Mendag melihat, pelaku usaha jamu dapat menggencarkan pola distribusi omnichannel yang menggabungkan kekuatan saluran distribusi daring seperti marketplace, media sosial, dan situs web, dengan saluran distribusi luring yang konvensional. Dia juga menyampaikan, industri jamu Indonesia mampu menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada.

“Industri jamu memiliki peran penting dalam perekonomian nasional dengan menyediakan lapangan kerja untuk tiga juta tenaga kerja, dan tahun lalu tumbuh 6 persen atau berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar dia.

“Selain itu, dengan bahan baku yang kurang lebih 90 persen berasal dari dalam negeri, industri jamu akan memberikan multiplier effect yang signifikan dalam pertumbuhan perekonomian mulai dari sektor hulu hingga hilir,” tambah Agus.

Di tengah pandemi Covid-19, sejumlah sektor mampu bertahan dari pandemi. Misalnya industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 8,65 persen pada kuartal ke-2 tahun 2020 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu di sektor biofarmaka atau tanaman obat, nilai ekspor secara keseluruhan memang ikut terdampak pandemi.

Pada periode Januari-Juli 2020, nilai ekspor produk biofarmaka adalah US$5,69 juta. Nilai ini turun 12,60 persen dari nilai ekspor pada periode yang sama tahun 2019 yang senilai US$6,51 juta. Tetapi, peningkatan nilai ekspor di sejumlah kawasan tujuan ekspor memberi harapan untuk jenis produk biofarmaka. Pada periode Januari-Juli 2020, nilai ekspor produk biofarmaka ke kawasan Timur Tengah justru meningkat sebesar 511,41 persen menjadi US$38,82 ribu, meroket dari US$6,35 ribu pada periode yang sama tahun 2019.

Kenaikan ekspor juga terjadi ke Amerika Serikat yang naik 8,36 persen dan Eropa 5,26 persen pada periode yang sama. Negara tujuan ekspor produk biofarmaka Indonesia pada periode Januari-Juli 2020 masih didominasi oleh India (52,83 persen), Singapura (7,82 persen), Jepang (6,25 persen), Vietnam (5,37 persen), dan Malaysia (4,98 persen).

Pada 2019, Indonesia menempati urutan ke-18 negara pengekspor biofarmaka ke dunia dengan pangsa pasar sebesar 0,62 persen. Pemasok biofarmaka dunia masih didominasi oleh India (34,88 persen), Republik Rakyat Tiongkok (8,10 persen), dan Belanda (7,16 persen).

“Hal ini menyadarkan kita bahwa potensi produk biofarmaka nasional, seperti jamu, yang bahan bakunya berlimpah di dalam negeri ini perlu kita optimalisasi,” tegas Agus.

“Munculnya India sebagai pemain utama biofarmaka dunia di satu sisi, dan kenyataan ekspor bahan biofarmaka nasional yang lebih dari separuhnya ditujukan ke India, secara tidak langsung menunjukkan struktur industri jamu nasional sekaligus potensi pasar yang dapat kita manfaatkan pada tataran global di sektor ini,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *