Biaya Pompanisasi Selangit, Petani Bugistua Menjerit

Hamparan sawah di Desa Bugistua, Indramayu, Jawa Barat (villagerspost.com/muhammad faisal arifin)

Indramayu, Villagerspost.com – Seperti umumnya, desa-desa di Kabupaten Indramayu, Desa Bugistua di Kecamatan Anjatan, juga merupakan kawasan desa penghasil padi dengan luas lahan pertanian mencapai 555 hektare. Desa Bugistua termasuk desa dengan penghasil beras untuk memasok kebutuhan masyarakat sekitar dan untuk Kabupaten Indramayu.

Sayangnya, sejak dulu, para petani di Bugistua yang 85 persennya adalah petani penggarap, selalu diliputi masalah kesulitan air untuk mengairi sawah mereka. Ahmad Riyadi, Ketua Kelompok Tani Bugistua mengatakan, kesulitan air terjadi lantaran letak sawah di desa tersebut yang lebih tinggi dari sungai irigasi yang melintasi desa tersebut.

“Ini membuat petani kebingungan mengairkan sawah mereka,” kata Ahmad, yang ditemui Villagerspost.com beberapa waktu lalu.

Untuk mengatasi masalah itu, atas inisiatif Ahmad, maka kelompoknya kemudian melakukan upaya pompanisasi. Melalui pompa, air dari sungai irigasi Bugis yang mendapatkan pasokan air dari waduk Salamdarma, dialirkan melalui ke saluran sekunder yang mengarah ke sawah para petani.

Belakangan, upaya pompanisasi yang sebelumnya menjadi solusi, mulai menjadi masalah ketika beberapa orang mulai meniru langkah kelompok Ahmad. Maka pompanisasi yang mulai marak inipun kemudian dijadikan ladang bisnis oleh sebagian lainnya.

Pompanisasi yang mulai menjadi bisnis ini, otomatis mendongkrak harga sewa pompa, yang lantaran harga yang lumayan mahal membuat petani Desa Bugistua mulai menjerit. “Ketika panen tiba, petani wajib membayar biaya operasional pompa dengan hasil panen padi mereka dengan angka yang lumayan besar,” kata Ahmad.

Salah satu rumah saluran air menuju sawah-sawah di Desa Bugistua, air dari sungai irigasi Bugis dipompa menuju saluran ini untuk mengairi sawah petani (villagerspost.com/muhammad faisal arifin)

Bayangkan saja, untuk biaya pengairan sawah 1 hektare, petani harus menyetor padi seberat 4,2 kuintal untuk satu musim tanam. “Petani banyak yang keberatan dengan besaran setoran padi untuk membayar biaya pompanisasi itu,” kata Ahmad.

Petani mengeluh karena rata-rata setelah dipotong dengan biaya pompanisasi, mereka hanya bisa menghasilkan 3 ton padi per hektare, itupun belum memperhitungkan jika panen gagal. “Sampai saat ini petani belum menemukan solusi dari permasalahan pengairan ini,” ujar Ahmad.

Petani berharap pemerintah dari dinas pertanian memberikan solusi dari permasalahan tersebut. “Karena masalah air dan pompanisasi adalah masalah lama yang belum menemui titik temu hingga saat ini,” ujarnya.

Awal tahun ini, sebenarnya pemerintah pusat sudah merencanakan adanya normalisasi sungai Irigasi Bugis, agar aliran air dari waduk Salamdarma dapat mengalir lancar mengairi wilayah desa Salamdarma dan Bugistua. Namun, lagi-lagi posisi sawah yang lebih tinggi dari waduk, membuat upaya normalisasi ini mampu memberikan solusi yang maksimal. Lantaran letaknya yang cukup jaug dawi bendungan Salamdarma, petani Bugistua masih tetap mengandalkan pompanisasi untuk mengairi sawahnya.

Beruntung, saat ini pada musim tanam III, para petani Desa Bugistua masih bisa menikmati hasil dari bertanam bawang merah dan pare. Selain di sawah, masyarakat desa memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam manga dan jambu air untuk memberikan penghasilan tambahan ketika hasi padi di sawah sedang anjlok.

Laporan/Foto: Muhammad Faisal Arifin, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Institut Pertanian Bogor, di Kabupaten Indramayu

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *