BMKG Minta Petani Pahami Iklim | Villagerspost.com

BMKG Minta Petani Pahami Iklim

Anggota Asosiasi Pengukur Curah Hujan Indramayu (APCHI), melakukan pengukuran curah hujan (villagerspost.com/tarsono)

Jakarta, Villagerspost.com – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, petani harus memahami persoalan iklim. “Dengan mengetahui cuaca, petani bisa melakukan rekayasa tanam, komoditas unggulan apa yang bisa ditanam,” ujarnya, di sela pembukaan Sekolah Lapangan Iklim (SLI) II Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (15/4).

“Poinnya adalah pengetahuan petani berkembang, karena kondisi alam kita juga berkembang. Di masa lalu belum ada perubahan iklim global yang dahsyat, sekarang perubahan iklim bisa mendadak terjadi. Perubahan iklim inilah yang menjadikan penting bagi pertani agar memahami informasi cuaca dan iklim,” tambah Dwikorita.

SLI kali ini diikuti 30 peserta berasal dari Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dan Pengamat Organisme Penggangu Tanaman (POPT) Kabupaten Bantul. Dengan mengikuti SLI ini, mereka diharapkan bisa melakukan sosialisasi kepada petani agar mampu merekayasa tanam dengan mempertimbangkan faktor cuaca.

“Sehingga dengan pemahaman tentang iklim dan cuaca ini, tujuannya bisa mengurangi risiko baik korban maupun kerugian ekonomi,” lanjut Dwikorita.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, R Mulyono Rahadi Prabowo menjelaskan saat ini wilayah Indonesia pada umumnya telah memasuki awal musim kemarau. Para petani pun diharapkan bisa menyesuaikan proses tanam dengan kondisi iklim.

“Kondisi pertanian ada empat faktor, bibit, lahan, air, dan faktor keempat yang tak bisa kita atur yaitu iklim. Sehingga kita perlu memanfaatkan celah-celah waktu, jika kondisi iklim kurang memungkinkan kita bisa meminialkan kerugian. Kapan itu iklim ekstrem, kapan tidak ekstrem, jika kondisi iklim kurang kondusif kita bisa mengatur komoditi apa yang akan kita tanam. jadi tergantung dari periode waktu, lebih panjang kemarau atau musim hujannya,” urainya.

Data BMKG Yogyakarta, pada bulan April ini jumlah curah hujan bulanan diprediksi berkisar 101-300 mm/bulan (kategori menengah). Kondisi ini merupakan masa transisi atau pancaroba, hujan masih berpotensi muncul terutama di sore hari meskipun kisarannya lokal dan tidak merata serta tidak kontinu hujannya.

Memasuki bulan Mei, jumlah curah hujan mengalami penurunan mencapai 21-100 mm/bulan bila dibandingkan dengan April (kategori rendah). Penurunan curah hujan bulanan ini terjadi karena di wilayah DIY sudah masuk awal musim kemarau.

Dan awal musim kemarau 2019 untuk wilayah Yogyakarta sebagian besar mengalami kemunduran dari normalnya (75 persen). Sedangkan sisanya sama dengan normalnya (25 %). Awal musim kemarau akan dimulai pada dasarian 3 April 2019 untuk wilayah Gunungkidul dan Bantul bagian timur). Sebagian besar wilayah di DIY akan masuk awal musim kemarau di dasarian 1-2 Mei 2019. Dan yang terakhir masuk musim kemarau adalah wilayah sekitar Gunung Merapi.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Bantul, Pulung Haryadi menambahkan, mayoritas petani di wilayahnya bertanam padi. Totalnya sekitar 80 persen dibandingkan komoditas lainnya. “Yang lainnya adalah bawang merah, kedelai, jagung, dan ada sebagian tebu,” ujarnya. Sedangkan untuk lahan tanam di Bantul, seluas 15.193 hektare merupakan lahan sawah.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *