Budidaya Bawang Ekologis Jawaban Masalah Petani

Mobil Klinik Tanaman IPB memberikan pelayanan penyuluhan (dok. klinik tanaman IPB)
Mobil Klinik Tanaman IPB memberikan pelayanan penyuluhan (dok. klinik tanaman IPB)

Brebes, Villagerspost.com – Bawang merah merupakan salah satu komoditas penting tak hanya bagi konsumsi namun juga bagi ekonomi. Maklum saja bawang merah menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi terbesar. Karena strategisnya maka proses produksi senantiasa dipacu sedemikian rupa sehingga diharapkan swasembada.

Namun sayang upaya peningkatan yang produksi dilakukan justru belum mampu meningkatkan produksi bahkan sebaliknya. Data dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian menunjukkan, selama periode 2010-2014 terjadi penurunan produktivitas sebesar 1,39% jika dibandingkan periode tahun 1980-2009.

Sementara produksi juga mengalami penurunan dari 6,94% menjadi 5,47% pada kedua periode tersebut. Padahal intervensi dan program terus ditingkatkan. Akibatnya Indonesia terus mengimpor bawang merah.

Ketua Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor IPB Suryo Wiyono mengatakan, fenomena ini merupakan konsekuensi dari pola produksi yang tidak berkelanjutan yang dilakukan secara terus menerus. Tak mengherankan jika hama ulat grayak dan fusarium atau moler terus ada dan menyerang tanaman petani.

(Baca juga: Pendekatan Ekologis untuk Bawang Berkelanjutan)

Pendekatan praktik budidaya sarat racun selama ini telah terbukti tidak berhasil menyelesaikan masalah. “Terjadi sesat pemahaman penanganan hama penyakit bawang merah seolah penggunaan pestisida atau racun adalah yang paling efektif. Padahal dengan semkian tinggi penggunaan racun hama penyakit makin kebal dan tidak efektif karena hama ada dalam batang bawang,” kata Suryo disela-sela acara Gelar Teknologi dan Klinik Tanaman di Brebes, Minggu (24/4).

Kekhawatiran ini muncul bukan tanpa alasan, menurut hasil kajian Klinik Tanaman IPB penggunaan pestisida sudah di luar batas anjuran. Dalam semusim petani bisa menyemprot 20 hingga 25 kali. Selain itu petani juga sering mengoplos atau mencampur lebih dari tiga jenis pestisida.

Hal ini tentu saja berdampak pada aspek kesehatan dan keseimbangan lingkungan. Selain itu pola budidaya demikian sangat boros modal. Dengan harga jual yang tidak pasti potensi kerugian yang ditanggung petani semakin tinggi.

“Sebenarnya ada cara yang lebih efektif dan murah yang dapat dilakukan. Hasil penelitian Klinik Tanaman IPB menunjukkan dengan melakukan pengendalian hama terpadu, penggunaan agen hayati seperti tricoderma, fusarium non pathogenic, pengambilan kelompok telur dan dikombinasikan dengan penggunaan bibit dan lahan yang sehat mampu mengurangi risiko gagal bahkan dapat panen dengan baik,” tambah Suryo.

Perbaikan praktik budidaya bawang yang ekologis atau berkelanjutan tentu saja menjadi tugas semua pihak terutama pemerintah. Hal mendasar yang perlu dilakukan pemerintah adalah mengubah pendekatan dan program produksi bawang merah rendah pestisida. Jika perlu paket peningkatan produksi mengapuskan pestisida didalamnya.

Tentu saja hal ini tidak akan mudah diterima petani oleh karenanya pemerintah juga perlu ekstra keras melakukan proses pendampingan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran pada petani. Tanpa itu akan sulit mengharapkan perubahan terjadi dari petani lansung secara cepat.

“Tapi hal ini harus dilakukan jika kita ingin swasembada bawang merah dan mensejahterakan petani. Disinilah pemerintah dan kita diuji apakah benar ingin mewujudkan hal itu atau hanya bayang-bayang semata,” pungkas Suryo. (*)

Ikuti informasi terkait komoditas bawang merah >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *