BUMDes Sima Sari Dana, Meraup Berkah Dari Sampah | Villagerspost.com

BUMDes Sima Sari Dana, Meraup Berkah Dari Sampah

Ilustrasi Badan Usaha Milik Desa (dok. kemendesa pdtt)

Jakarta, Villagerspost.com – Jumlah Badan Usaha Milik Desa saat ini tumbuh pesat hingga mencapai sekira 32 ribu BUMDes. Beberapa di antaranya berhasil berkembang dengan pesat karena memiliki model bisnis yang baik dan juga menjalankan usaha yang unik. Salah satunya adalah BUMDes Sima Sari Dana milik Desa Kesiman Petilan, Denpasar, Bali.

BUMDes yang didirikan sejak 2 Desember 2017 itu, sukses justru setelah menjalankan usaha yang “menjijikkan” yaitu usaha pengolahan sampah. Usaha pengolahan sampah ini berkembang dan menjadi berkah bagi warga desa yang selama ini selalu terkungkung masalah penanganan sampah.

Maklum Desa Kesiman Petilan merupakan desa yang berpenduduk padat dengan jumlah 9000 jiwa yang mendiami kawasan seluas 290 hektare. Berkat berdirinya BUMDes Sima Sari Dana, sampah menjijikkan yang tadinya merupakan sebuah masalah, justru disulap menjadi berkah.

“Dampak ekonominya sudah kelihatan dari pembelian bank sampah. Dulu masyarakat yang belum mengerti manfaat sampah, karena bicara sampah pasti menjijikkan. Sekarang sudah terinspirasi kalau sampah bisa menghasilkan uang,” kata Ketua BUMDes Sima Sari Dana Budi Ketut Sima dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Kamis (26/7).

Dia mengatakan, dengan mengolah sampah, BUMDes yang baru berjalan selama 6 bulan ini malah mendapat sambutan hangat warga. “Sampah yang biasanya dibiarkan menggunung dijual ke BUMDes. Warga sehari-hari gelisah dengan gundukan sampah, kini berbalik seolah bersahabat dengan sampah,” kata Ketut.

BUMDes Sima Sari Dana memilah sampah menjadi dua bagian yakni sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik dikelola sendiri menjadi pupuk, sedangkan sampah an organik dijual kepada perusahaan pengelola sampah.

“Untuk hasil pupuk yang kami kelola sendiri dari sampah organik itu, pemasaran kami yang pertama warga sekitar yang memang banyak pecinta tanaman, termausk para petani. Kalau proses pembuatan pupuknya masih manual, karena yang kami lakukan adalah ingin membuat pupuk bagus tanpa terkontaminasi dengan zat kimia,” ujarnya.

Untuk membeli sampah warga, lanjut Budi, BUMDes Sima Sari Dana menyiapkan empat kendaraan operasional untuk berkeliling dan menjemput langsung sampah warga setiap harinya. Setelah dikumpulkan, sampah dipilah menjadi sampah organik dan anorganik. Selanjutnya sampah organik kembali dibagi menjadi dua bagian yakni sampah kering dan sampah basah. Sampah kering diolah menjadi pellet, sedangkan sampah basah diolah menjadi pupuk.

“Jadi awalnya itu masyarakat desa ini mengeluhkan sampah, akhirnya ketika musyawarah desa disetujui BUMDes ini, unit sampah. Jadi sampah masyarakat yang menjadi masalah ini diambil dan diolah,” pungkas Ketut Sima.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *