Butuh Tambahan Lahan, Program Biodiesel Ancam Luasan Hutan Tersisa

Perkebunan sawit di Indonesia (dok. kementerian bumn)

Jakarta, Villagerspost.com – Program bahan bakar nabati (biofuel) berpotensi kuat menggerus luasan hutan tersisa untuk kepentingan ekstensifikasi lahan sawit. Dalam rapat kerja dengan DPR-RI, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan, diperlukan tambahan lahan sawit sebanyak 15 juta hektare untuk menggantikan kebutuhan minyak 1 juta barel per hari.

LPEM Universitas Indonesia juga telah melakukan kajian dampak program biodiesel. Salah satu hasilnya, diperlukan penambahan lahan sawit baru yang cukup masif. Ini sebuah sinyal penting bahwa program biodiesel hanya akan menimbulkan kerusakan hutan lebih luas. Padahal Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% pada 2030, dan sektor kehutanan merupakan salah satu penyumbang GRK terbesar.

Terkait hal ini, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia Arkian Suryadarma mengatakan, berdasarkan beberapa kajian, program biodiesel justru memberikan beban besar kepada perekonomian melalui kucuran subsidi yang masif. Program ini juga tidak signifikan dalam mengurangi defisit neraca transaksi berjalan. Biodiesel justru memerlukan dana subsidi yang jauh lebih besar.

“Hitungan LPEM UI, total subsidi yang diperlukan untuk program B50 mencapai Rp847 triliun. Saat ini, program biodiesel mendapatkan dana sebesar Rp2,78 triliun dari program pemulihan ekonomi nasional sebagai respons terhadap pandemi Covid-19. Terlihat jelas bagaimana program ini membutuhkan sokongan besar dari negara,” kata Arkian, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Sabtu (28/11).

Hitungan LPEM UI soal dampak program biodiesel terhadap subsidi energi, dengan skenario A, di mana nilai dari subsidi FAME (Fatty Acid Methyl Ester) lebih tinggi dibandingkan dengan subsidi solar (kasus tahun 2018), menghasilkan kebutuhan subsidi untuk solar dengan dana APBN sebesar Rp357 triliun, dan subsidi FAME dengan dana pungutan BPDP-KS sebanyak Rp490 triliun, sehingga total subsidi Rp847 triliun. Sementara subsidi solar murni sebesar Rp679 triliun. Maka ada selisih subsidi sebesar Rp168 triliun. Sebagai informasi, biodiesel merupakan campuran dua jenis bahan bakar: solar dan FAME.

Arkian menjelaskan, program biodiesel juga membutuhkan tambahan lahan sawit baru yang bisa mengarah kepada deforestasi besar-besaran. Dari hasil simulasi untuk realisasi B50 saja selama kurun waktu 2021-2025, diperlukan luasan lahan produktif sebanyak 22,65 juta hektare hingga 2025.

Bila mengacu pada luasan lahan produktif pada 2019 (13,36 juta hektare), maka diperlukan lahan sawit baru sebanyak 9,29 juta hektare. Sementara model produksinya tidak berbasis intensifikasi, terbukti dengan program peremajaan sawit yang selalu tidak mencapai target, khususnya sepanjang 2017-2019.

Program biodiesel jelas bukan solusi untuk memperbaiki kondisi fiskal negara, dan akan makin memperburuk pelaksanaan komitmen Indonesia dalam memperbaiki iklim karena berorientasi pada deforestasi dan pembukaan lahan baru pada kawasan hutan. “Sebab itu sangat keliru bila biodiesel digolongkan sebagai energi baru dan terbarukan,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *