Cegah Alih Fungsi Lahan Pertanian, DPR Kebut RUU Sistem Budidaya Pertanian | Villagerspost.com

Cegah Alih Fungsi Lahan Pertanian, DPR Kebut RUU Sistem Budidaya Pertanian

Aksi teatrikal menanam padi sebagai protes akan digusurnya lahan subur pertanian untuk proyek PLTU Batang (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI Firman Soebagyo mengatakan, pihaknya saat ini tengan berupaya merampungkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Sistem Budidaya Pertanian. RUU ini, kata dia, dinilai penting sebagai upaya mencegah terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian.

Firman mengungkapkan, tergerusnya lahan pertanian semakin hari semakin marak, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan kebutuhan tanah untuk keperluan non pertanian. “Alih fungsi lahan kian banyak, sementara perlindungan lahan dan percetakan sawah baru menghadapi kendala yang rumit,” ujarnya di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (16/1).

Karena itu, hadirnya RUU tentang Sistem Budidaya Pertanian, akan melindungi lahan pertanian. “Kalau memang benar pengaturan budidaya lahan pertanian berkelanjutan itu tidak ada sanksi, maka tidak menutup kemungkinan akan segera kita melakukan revisi. Dan kemudian memberikan sanksi kepada siapapun yang melakukan alih fungsi lahan pertanian,” tegas Firman.

Berkurangnya lahan pertanian yang setiap tahun semakin menyempit. Salah satu sebabnya untuk memenuhi kebutuhan perumahan dan industri, dikarenakan jumlah masyarakat yang semakin banyak.

Politikus Partai Golkar ini mengungkapkan, saat ini terjadi manipulasi lahan, yang seharusnya lahan basah pertanian dipertahankan menjadi tempat menanam padi malah justru diuruk dan dijadikan perumahan. “Banyak lahan basah yang dikonversi menjadi lahan kering lalu dimanfaatkan untuk kepentingan industri, perumahan dan sebagainya. Padahal itu sebetulnya lahan pertanian,” ujarnya.

Selain alih fungsi lahan, Firman juga menyampaikan tentang fokus dan konsentrasi dunia internasional saat ini pada pangan dan energi. Menurutnya produksi pangan dunia harus ditingkatkan untuk mengantisipasi semakin parahnya krisis kebutuhan pokok, itu akibat laju pertumbuhan penduduk yang amat tinggi.

Jumlah penduduk dunia diperkirakan akan terus meningkat pada tahun 2050 dari saat ini. Hal ini menurut dia sangat penting, karena hasil rilis PBB itu menunjukkan akan terjadi peningkatan jumlah penduduk dunia, yang jumlahnya hari ini tujuh miliar manusia. Di tahun 2050 nanti jumlah akan terjadi pergeseran kurang lebih mencapai 9,7 miliar manusia.

“Artinya ada konsekuensi terhadap kebutuhan pangan dan energi, oleh karena itu sekarang ini negara-negara maju sedang konsentrasi penuh terhadap industri energi kemudian industri pangan,” pungkasnya. (*)

 

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *