Cegah Kartel, KPPU-Kementan Sidak Penggilingan Beras | Villagerspost.com

Cegah Kartel, KPPU-Kementan Sidak Penggilingan Beras

Pabrik penggilingan beras. (dok. bantenprov.go.id)

Pabrik penggilingan beras. (dok. bantenprov.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bersama Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan pemantauan ke penggilingan beras di Jawa Tengah. Kegiatan itu dilakukan untuk memastikan tidak ada aksi kartel dan mencegah lonjakan harga beras jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2016.

“Kita melakukan pengawasan karena menjelang Ramadhan dan Lebaran aksi kartel selalu terjadi. Namun sampai hari ini belum ditemukan adanya aksi kartel. Tapi kami akan terus menelusri ini sampai Jakarta karena ternyata semua yang menentukan harga beras ada di Jakarta,” ujar Kepala KPPU Syakarwi, Senin (23/5).

Langkah pertama pihak KPPU dan Kementan adalah melakukan sidak di pabrik penggilingan beras PT Sukses Abadi Karya Inti (Sakti) yang merupakan anak usaha PT Tiga Pilar Sejahtera di jalan Raya Solo, Sragen KM 23. Penggilingan tersebut memiliki kapasitas produksi beras 1.500 ton per hari atau 45.000 ton per bulan.

(Baca juga: Panen Raya Serentak, Kementan Yakin Cadangan Beras Nasional Aman)

Terkait dugaan kartel beras, Syarkawi menambahkan, pelaku-pelaku kartel biasanya dilakukan oleh pemilik-pemilik penggilingan besar, karena semua pemilik penggilingan besar juga merupakan pedagang beras juga.

“Kita akan terus menyelidiki. Pemain besar itu hanya sedikit, hanya ada di 11 provinsi. Mereka punya penggilingan besar dan juga pedagang besar. Saat ini memang belum ditemukan. Akan kita sebut kartel bila mereka melakukan penimbunan atau kong kalikong menentukan harga beras,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Agung Hendriadi mengatakan, pihaknya menyesalkan Tiga Pilar Sejahtera kurang memprioritaskan pembelian gabah secara langsung dari petani atau Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Tiga Pilar, justru lebih memprioritaskan membeli dari tengkulak.

Dia menilai, Tiga Pilar Sejahtera bisa melakukan pembelian langsung dari petani atau Gapoktan tanpa melalui tengkulak karena itu bisa memangkas rantai pasok sehingga harga beras tidak terlalu tinggi. “Tingginya harga beras dikarenakan panjangnya rantai pasok, sehingga keuntungan kurang dinikmati petani, hanya para tengkulak saja yang menikmati,” kata Agung.

Agung menjelaskan, pemerintah harus bisa mengendalikan harga pembelian gabah dari petani ke produsen swasta. Karena dengan membebaskan harga, Bulog akan kesulitan untuk bersaing karena swasta akhirnya bisa menentukan harga ke konsumen sesukanya. Selain itu, meminta Bulog lebih meningkatkan penyerapan gabah dari petani.

“Contohnya di penggilingan PT Sakti ini, harga papannya saat ini Rp4.200, sedangkan Bulog harga pembeliannya Rp3.700. Sementara Petani masih kesulitan memasok ke penggilingan ini secara langsung tanpa melalui tengkulak. Ini yang akhirnya membuat harga beras tidak terkendali dan petani kurang menikmati keuntungannya,” terangnya.

Dia menambahkan, seharusnya harga beras tetap normal karena produksi beras mencukupi. Menurut data prognosa atau perkiraan, untuk bulan Mei, produksi beras 3,89 juta ton dan bulan Juni 2,85 juta ton. Sedangkan untuk bulan Juli diperkirakan produksi beras mencapai 5,66 juta ton karena memasuki panen raya.

Melihat data perkiraan produksi beras ini, kebutuhan beras Indonesia untuk menghadapi bulan puasa dan lebaran yang mencapai 2,5 juta ton per bulan akan mencukupi, karena produksi bisa mencapau 2,8 juta ton. “Dengan produksi yang mencukupi, seharusnya tidak terjadi gejolak harga. Dengan produksi beras yang mencukupi, pemerintah tinggal mengawasi jalur distribusi dari produsen ke konsumen,” jelasnya. (*)

Ikuti informasi terkait beras >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *