Cepogo, Desa Binaan Universitas Indonesia, Raih Penghargaan Desa BRILiaN

Kerajinan dari logam yang bernilai sejarah khas Dusun Tumang, di Desa Cepogo, Boyolali (dok. desa cepogo)

Solo, Villagerspost.com – Desa Cepogo, di Kabupaten Boyolali terpilih menjadi juara ke-3 Program Desa BRILiaN yang diluncurkan oleh Bank BRI. Kepala Desa Cepogo Mawardi mengatakan, keberhasilan ini tidak terlepas dari peran yang dimainkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tumang, yang didirikan tahun 2019 lalu.

“BUMDes Tumang setidaknya menyisihkan dua ribuan lebih kandidat yang ikut dalam program tersebut,” kata Mawardi, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (13/4/).

Program Desa BRILiaN sendiri, merupakan salah satu bentuk pendampingan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi desa dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Desa-desa didorong untuk tanggap terhadap perubahan, tangguh menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan, serta tetap inovatif di masa pandemi.

Desa Cepogo dengan BUMDes Tumang, setelah berhasil menyisihkan ribuan desa, kemudian bersama 287 desa lain yang lolos seleksi, mengikuti kegiatan webinar Desa BRILiaN. Dari webinar tersebut, dilakukan penilaian sehingga ditetapkan 10 besar pemenang Desa BRILiaN 2021 Batch 1.

Adapun kriteria yang ditetapkan untuk dapat menjadi pemenang Desa BRILiaN ini antara lain keaktifan peserta, kelengkapan administrasi dan kelembagaan, dan implementasi digitalisasi desa. Kemudian, kreativitas dalam memecahkan masalah serta mampu secara berkesinambungan meningkatkan kesejahteraan warga dengan sektor unggulan di masing-masing desa.

BUMDes Tumang sendiri dinilai sangat kreatif dalam menjalankan usaha di antaranya melakukan kerja sama dengan Bank BRI dalam bentuk pelayanan ATM Mini, Layanan T-Bank (Setor Tunai, Tarik Tunai, Registrasi), dan Layanan Laku Pandai (Tabungan, Kredit Mikro, Asuransi Mikro)

BUMDes Tumang juga melakukan kerja sama dengan PT Pos Indonesia untuk pengiriman barang dan dokumen dalam dan luar negeri, pembayaran listrik, tagihan telepon, hingga pembayaran asuransi seperti BPJS Kesehatan, Prudential, Takaful, Heksa, Allianz, dan lainnya.

BUMDes Tumang juga menjalankan usaha pengelolaan sampah, khususnya sampah dari hasil usaha masyarakat. Desa Cepogo, khususnya di Dusun Tumang, kehidupan ekonomi masyarakatnya terutama ditopang usaha kerajinan seni kriya logam baik tembaga maupun kuningan.

Salah satu dampak dari kegiatan ekonomi itu adalah banyaknya sampah dan kesulitan membuang sampah logam. “Hal ini yang menjadi peluang usaha buat BUMDes Tumang untuk mengelola sampah sehingga saat ini BUMDEs Tumang sudah memiliki armada truk untuk mengangkut sampah,” ujar Mawardi.

Perkembangan ekonomi desa ini selain ditopang BUMDes juga karena adanya pendampingan dari Universitas Indonesia sejak tahun 2019 lalu. Beberapa dosen UI, Prapto Yuwono, Murni Widyastuti dan Dwi Kristianto, terjun melakukan pendampingan kepada masyarakat, khususnya para perajin logam di Dusun Tumang.

Salah satu program pendampingan yang dilakukan adalah membantu pemerintah dalam menyusun buku sejarah tentang sejarah Dusun Tumang, sebagai daerah sentra kerajinan logam. Penelitian ini dinilai penting, karena kerajinan asal Dusun Tumang, selama ini belum memiliki narasi branding yang dapat menambah nilai jual dan identitas dari setiap produk yang dijual.

Padahal, dusun pengrajin kerajinan tembaga terkemuka di Indonesia ini telah berhasil menjual berbagai produk seni kriya logam khususnya tembaga dan kuningan ke pasar global. Beberapa produknya dijual di Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Australia, dan sejumlah negara Asia dan Eropa.

Nah, dari penelitian yang dilakukan diketahui, sejarah Tumang tidak bisa dilepaskan dari sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa. “Semenjak awal berdirinya kerajaan Mataram Islam desa ini telah memainkan perannya, sebagai sentra kriya logam khususnya tembaga yang memasok hasil karyanya terutama untuk mendukung kebesaran dan keagungan Keraton Mataram,” kata Dwi Kristiyanto, salah seorang peneliti sejarah dusun tersebut.

Karya-karya yang utama, ujar Kris, dikaitkan dengan aksesoris untuk mendukung keagungan upacara-upacara kerajaan Jawa. “Di samping itu, karya-karya mereka juga dikaitkan dengan kelengkapan adat perkawinan keraton, seperti bokor dan ubarampe lainnya,” tambahnya.

Manik-manik untuk hiasan baju kalangan Bangsawan atau Keraton juga diproduksi pada masa itu. Materi ini yang kemudian menjadi narasi dan materi branding dari semua produk seni kriya logam dari desa ini. Karena itu pada tahun 2020 para pengabdi Dosen UI mendaftarkan Tradisi Seni Kriya Logam dari Dusun Tumang dalam Daftar Warisan Budaya Tak Benda.

Tim Pengabdian Masyarakat UI ini selain meneliti sejarah Dusun Tumang, juga ikut aktif dalam upaya menyiapkan BUMDes Tumang. Lewat BUMDes ini, berbagai aktivitas aktivitas ekonomi masyarakat khususnya para pengrajin seni kriya logam baik tembaga, maupun kuningan yang menjadi basis kegiatan ekonomi masyarakat di Desa Cepogo, terlayani dengan baik.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.