Cerdas Tangani Bencana dengan Teknologi

Bencana topan Haiyan yang melanda Filipina beberapa waktu lalu (dok. oxfam.org.au)
Bencana topan Haiyan yang melanda Filipina beberapa waktu lalu (dok. oxfam.org.au)

Jakarta, Villagerspost.com – “Bantuan Pengungsi Kelud Menumpuk di Posko” demikian salah satu judul berita yang dituliskan media massa saat terjadi bencana erupsi Gunung Kelud, Kediri, Jawa Timur di bulan Februari 2014 silam. Berita-berita semacam ini kerap menghiasi media massa ketika terjadi bencana dan para petugas lapangan tengah sibuk melakukan penyelamatan korban pada tahap tanggap darurat.

Memang pada fase ini, selain bantuan berupa tenaga relawan untuk menolong korban, bantuan berupa material terutama bahan makanan pokok, pakaian, obat-obatan dan lain-lain juga mulai membanjir ke wilayah bencana. Sayangnya dalam kondisi ini, seringkali datangnya bantuan material yang cukup besar ini kerap kurang tertangani dengan baik. Lantaran kondisi masih belum normal seringkali penumpukan bahan bantuan terjadi di posko-posko bencana.

Padahal, di sisi lain, korban atau para penyintas bencana, sangat menantikan barang-barang kebutuhan pokok itu dapat didistribusikan untuk membantu mereka bertahan hidup. Nanang S Dirja, the Rights in Crisis Lead of Oxfam Indonesia mengatakan, situasi seperti ini mendorong Oxfam untuk melakukan serangkaian analisa agar pola pengelolaan bantuan kemanusiaan bisa berjalan lebih baik.

“Pola pengelolaan bantuan kemanusiaan memang harus berubah, kita harus bisa memberikan bantuan lebih cepat, tepat, aman dan nyaman,” kata Nanang kepada Villagerspost.com, Selasa (7/4).

Nanang bercerita, dari beberapa studi yang dilakukan Oxfam saat terjadi bencana di Lombok Utara, Gempa Yogyakarta, hingga banjir di Jakarta, ada beberapa permasalahan terkait bantuan yang kerap terjadi. “Selain penumpukan, ada juga masalah salah sasaran, penyimpangan dan lain-lain,” ujar Nanang.

Untuk mengatasi masalah-masalah ini, Nanang mengatakan, sebenarnya ada satu solusi yaitu penanganan bencana dengan memanfaatkan teknologi dan melibatkan multi pihak. Karena itulah, Oxfam mengembangkan sistem bantuan kemanusiaan pasca bencana via pasar dan teknologi mobile.

Oxfam sendiri telah menghelat sebuah workshop terkait hal itu bersama mitra-mitranya pada tanggal 30-31 Maret lalu di Jakarta. Dalam kesempatan itu berbagai pihak baik dari pihak pemerintah dalam hal ini pemerintah pusat, daerah dan badan penanggulangan bencana nasional serta daerah ikut serta. Demikian pula dengan pihak swasta dalam hal ini perbankan, penyedia jasa keuangan, juga pihak lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat serta penyedia barang bantuan.

Sistem yang dirancang Oxfam dengan memanfaatkan pasar dan teknologi untuk penanggulangan bencana ini, kata Nanang, sebenarnya sederhana. Dalam konteks ini, bantuan yang datang diharapkan bukan lagi berupa barang apalagi makanan instan melainkan dalam bentuk uang.

Uang ini, nantinya akan disetorkan ke pihak bank, dan pihak bank akan mengeluarkan sebuah kartu semacam e-money, mirip kartu atm yang bisa digunakan korban bencana untuk berbelanja barang kebutuhan mereka untuk bertahan pasca bencana. “Kartu ini hanya bisa dibelanjakan pada tempat tertentu dan untuk membeli kebutuhan pokok yang dibutuhkan dan tidak bisa diuangkan,” ujar Nanang.

Bagaimana sistem ini nantinya berjalan? Pertama, kata Nanang, tentu diperlukan pendataan yang akurat terkait para penyintas atau korban yang selamat dari bencana dan membutuhkan bantuan. Di sini teknologi juga berperan. Caranya, Oxfam bersama mitra sudah melakukan simulasi yaitu dengan melatih semacam tim reaksi cepat yang berkoordinasi dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah).

Tim ini, dengan cepat turun ke lapangan pasca bencana dan melakukan pendataan terhadap para warga yang selamat dari bencana. Pendataan dilakukan melalui peranti telepon genggam yang terkoneksi dengan pusat data di BPBD, atau kelurahan atau posko bencana setempat.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *